Tragedi Yang Terulang - 1

12 1 0
                                        

[Part 1]

KMP Arga, kapal penyeberangan lokal yang terbiasa berlabuh setiap hari di selat Argas

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.

KMP Arga, kapal penyeberangan lokal yang terbiasa berlabuh setiap hari di selat Argas. Selat yang terbentang di antara dua pulau yang masih berada dalam satu wilayah di Indonesia bagian timur.

Hiruk pikuk suara pedagang tidak lekang dari sejauh mata memandang. Mereka bahkan fasih berbahasa asing menawarkan apa yang mereka jual kepada pelancong yang menyebrang terutama dari Kepulauan Arum.

Pagi ini KMP Arga melaju tenang diiringi semilir angin sejuk, desiran ombak, suara burung camar yang beterbangan di langit tanpa awan. Suara kapal para nelayan menambah syahdu perjalanan rute Argas menuju pelabuhan Arum.

Secangkir kopi kantin dan duduk menatap pemandangan laut. Kombinasi mantap menikmati penyebrangan pagi. Namun tidak semua orang mampu bertahan bahkan pada guncangan lembut sekalipun. Bagi orang yang tidak terbiasa, semua itu hanya mimpi yang tidak akan pernah bisa mereka bayangkan.

"Hei, tuh coba lihat" pinta seorang anak buah kapal kepada rekannya, menunjuk ke arah gadis yang terlihat lelah menahan diri di railling. Mereka kemudian cekikikan sembari melanjutkan pekerjaan.

Kunciran rambut tidak karuan, mengusap ujung mulut dengan punggung tangan, menyisakan air liur yang sudah berubah warna mengikuti isi lambung yang baru dikeluarkan. Gadis itu bernama Sienna, bersandar pada tiang dengan terengah-engah dan ujung mata memerah berbinar.

"Lebih baik aku jalan kaki dua hari dua malam! Daripada harus kayak gini. Ternyata begini rasanya" gerutu gadis itu. Perutnya terasa nyeri dan kepalanya pusing. Dia mulai goyah, hampir tidak sanggup berdiri menopang badan sendiri namun masih terus berusaha mengeratkan tangan yang menempel pada railing.

Beberapa penumpang melewatinya dengan tatapan aneh, seolah hal itu sebuah pertunjukan yang tercela.

Tentu ia merasa canggung meski dalam keadaan mabuk, pengalaman pertama yang seharusnya dipersiapkan dengan matang justru jadi bahan tontonan orang asing.

Apa bisa lebih buruk dari ini? Sekalian saja seseorang melemparnya ke laut.

Ia meninggalkan tempat itu dengan jalan sempoyongan.

~~~~
Di sebuah ruangan, tempat dimana semua tombol, kemudi, dan perintah. Tempat utama dimana kapal itu menggantungkan lajunya di atas samudra, ruang navigasi. Berdiri dua orang di depan jendela menatap samudra luas.

Seorang pria keturunan Belanda, Jovan Raka Van de Vart, atau yang sering disapa Jovan itu sedang fokus memantau layar monitor. Di sebelahnya seorang Kapten, yang sangat dikenalnya sejak kecil, Kapten Hendri, juga sedang sibuk mengatur kendali. Sementara dua mualim lain, Mahen dan Eric memantau dari belakang. Bergerak ketika Kapten menurunkan perintah. Bukan tanpa alasan, Kapten tahu pasti kepercayaannya sudah diberikan kepada siapa yang ia anggap memiliki potensi yang lebih menguntungkan.

Hunt Or HideOnde histórias criam vida. Descubra agora