1.

1.5K 101 0
                                        

Dorm NCT Dream pagi itu masih diselimuti keheningan, sampai suara rengekan khas sang maknae memecah udara. Di ruang tengah, Jisung duduk bersila di atas karpet bulu, menatap sebuah jeruk santang dengan tatapan bingung seolah benda oranye itu adalah bom waktu yang siap meledak.

"Hyung... jeruknya keras," keluh Jisung pelan.

Chenle yang baru saja keluar dari kamar sambil menggosok mata menoleh.

"Tinggal dikupas, Jisung-ah. Pakai kuku."

"Kukuku pendek... tadi malam baru dipotongkan paman Lee yang datang ke dorm," gumam Jisung polos.

Chenle menghela napas, namun tangannya tetap bergerak mengambil jeruk itu dan mengupasnya dengan cekatan. Beginilah realita di NCT. Jisung bukan sekadar maknae grup, dia adalah "Pangeran Kecil" dari keluarga Jung. Menjadi adik kandung dari Jung Jaehyun berarti Jisung tumbuh dengan standar pelayanan kelas satu. Jika di rumah ada belasan pelayan, di NCT, ia punya enam "pelayan" sukarela yang menyebut diri mereka sebagai hyung.

Tamu Tak Diundang (Tapi Diharapkan)
Pintu dorm terbuka dengan bunyi pip-pip-pip kode kunci digital. Sosok tinggi dengan bahu lebar dan senyum berlesung pipit melangkah masuk membawa kantong besar dari restoran mewah.

"Jisungie? Hyung datang!"

Jaehyun tidak perlu menunggu jawaban. Ia langsung menghampiri Jisung yang masih duduk di lantai dan langsung menyambar adiknya itu ke dalam pelukan erat.

"Hyung! Sesak!" Jisung tertawa kecil,
meski ia tidak menolak saat pipinya diciumi gemas oleh kakaknya.

"Maaf, habisnya kau menggemaskan sekali pagi ini. Sudah sarapan? Appa meneleponku tadi subuh, katanya dia khawatir kau lupa minum vitamin karena Pelayan Kim sedang cuti," ujar Jaehyun sambil membuka kotak-kotak makanan.

"Tadi Chenle memberiku jeruk," lapor Jisung.

Jaehyun menatap Chenle dengan pandangan berterima kasih yang dalam.

"Terima kasih, Chenle-ya. Tolong jaga adikku, ya? Dia memang agak... lambat kalau soal urusan hidup mandiri."

"Agak lambat itu pernyataan yang terlalu sopan, Jaehyun-hyung," celetuk Renjun yang baru muncul dari dapur. "Kemarin dia hampir menangis karena tidak tahu cara menyalakan mesin cuci."

Jaehyun hanya terkekeh. "Biarkan saja. Selama ada aku dan kalian, Jisung tidak perlu menyentuh mesin cuci yang kasar itu."

Di Ruang Latihan: Pengawasan Berlapis
Latihan untuk comeback terbaru Dream sedang berlangsung intens. Mark, sebagai leader, memimpin dengan tegas. Namun, setiap kali musik berhenti, fokusnya langsung beralih pada Jisung.

"Jisung-ah, minum dulu. Kau berkeringat banyak sekali," Mark menyodorkan botol minum yang tutupnya sudah ia bukakan.

"Terima kasih, Mark-hyung."

Haechan mendekat, menyeka keringat di dahi Jisung dengan handuk. "Mark hyung, Jaehyun-hyung tadi mengirim pesan padaku. Dia bilang, pastikan Jisung tidak latihan sampai kakinya lecet. Kalau lecet sedikit saja, kita berdua yang akan digantung di gedung SM."

Mark meringis. "Aku tahu. Dia bahkan mengirimkan daftar menu makan siang Jisung hari ini. Harus organik dan tanpa MSG."

Tiba-tiba, pintu ruang latihan terbuka. Jaehyun muncul lagi, kali ini membawa kopi untuk semua member, tapi fokus utamanya tetap satu titik.

"Jisungie! Istirahat?" Jaehyun berjalan mendekat, berjongkok di depan Jisung yang duduk selonjoran. Ia memijat betis adiknya itu dengan lembut. "Sakit tidak? Capek?"

"Tidak, Hyung. Aku kuat!" seru Jisung sambil memamerkan otot lengannya yang sebenarnya tidak seberapa.

Jaehyun tertawa, lalu menoleh pada Mark dan Haechan dengan tatapan serius yang hanya dimiliki oleh seorang kakak protektif.

"Mark, Haechan-ah, kemari sebentar."

Keduanya mendekat dengan patuh.

"Aku harus kembali. Aku titip Jisung, ya? Jangan biarkan dia mengangkat barang berat. Tadi aku lihat ada kuku kakinya yang agak tajam, kalau dia mengeluh sakit, tolong panggilkan orang dari salon langganan kita untuk memotongnya. Jangan biarkan dia memotong sendiri, nanti berdarah."

Mark mengangguk mantap. "Siap, Hyung. Aman bersamaku."

Haechan memutar bola matanya bercanda. "Tenang saja, Hyung. Jisung ini kan aset keluarga Jung. Kami menjaganya lebih dari menjaga nyawa kami sendiri."

--------------------------------------------------------------

Malam harinya di dorm Dream, sebuah krisis terjadi. Jisung merasa kuku ibu jarinya tersangkut di kain selimut.

"Hyung... kukuku tajam," rengek Jisung pada Jeno.

Jeno yang sedang asyik bermain game langsung meletakkan ponselnya. "Mana? Sini, Hyung lihat."

"Pakai gunting kuku, Hyung?" tanya Jisung dengan mata bulat penuh rasa takut.

"Iya, Jisungie. Sini, biar Hyung potongkan."

"Tapi kata Appa, gunting kuku itu tajam. Kalau kena kulit bagaimana?"

Jeno tersenyum sabar. "Tidak akan, Jisungie. Sini, duduk di pangkuan Hyung."

Kejadian itu disaksikan oleh Jaemin yang baru saja masuk kamar. "Astaga, apa pangeran Jung sedang menjalani prosedur operasi besar?"

"Diamlah, Jaemin-ah. Dia takut," bela Jeno sambil dengan sangat hati-hati memotong kuku Jisung seolah-olah ia sedang memotong kabel bom.

Tepat saat itu, ponsel Jisung berbunyi. Panggilan video dari Jaehyun.

"Jisungie! Sedang apa?" suara Jaehyun menggelegar dari speaker.
"Jeno-hyung sedang memotong kukuku, Hyung!" lapor Jisung.

Wajah Jaehyun di layar langsung berubah panik. "Jeno! Pelan-pelan! Jangan sampai kulitnya teriris! Kalau darahnya keluar, hyung akan langsung ke sana sekarang juga!"

"Iya, Hyung, iya! Ini sudah sangat hati-hati!" seru Jeno stres.

--------------------------------------------------------------

Keesokan harinya, saat jadwal radio, Jisung duduk di antara Mark dan Haechan. Di depan mereka tersedia camilan buah-buahan. Jisung menatap piring itu, lalu menatap Mark.

Mark yang sudah terlatih secara insting langsung mengambil garpu, menusuk sepotong melon, dan menyuapkannya ke mulut Jisung.

"Enak?" tanya Mark.

Jisung mengangguk senang sambil mengunyah. "Manis!"

Haechan menyenggol lengan Mark. "Kau lihat tidak? Dia bahkan tidak repot-repot memegang garpu."

"Biarkan saja," bisik Mark. "Kau tahu sendiri, kalau kita tidak memanjakannya, Jaehyun-hyung akan menatap kita dengan tatapan 'kematian' itu selama sebulan penuh."

Namun, di balik semua kemanjaan itu, semua orang tahu mengapa Jisung begitu disayangi. Jisung adalah hati dari grup itu. Kepolosannya yang murni, ketidaktahuannya tentang hal-hal duniawi yang kasar, justru menjadi penghibur bagi para member yang lelah dengan industri hiburan yang keras.

Bagi Jaehyun, Jisung adalah pengingat rumah. Bagi Mark, Jisung adalah tanggung jawab yang membahagiakan. Dan bagi member Dream lainnya, Jisung adalah adik kecil yang harus dijaga kemurniannya dari tajamnya dunia hiburan.

"Hyung," panggil Jisung saat mereka dalam perjalanan pulang di dalam mobil.

"Ya, Jisungie?" sahut Mark.

"Terima kasih sudah mengupas jeruk untukku tadi. Nanti aku akan minta Appa mengirimkan sekotak jeruk premium untukmu dan Haechan-hyung."

Mark tersenyum, mengacak rambut Jisung. "Tidak perlu, Jisung-ah. Melihatmu makan dengan lahap saja sudah cukup bagi Hyung."

Karena bagi keluarga Jung dan NCT, kebahagiaan Jisung adalah prioritas utama, di atas segalanya.

.

Only JisungWhere stories live. Discover now