0.1 Awal dari Semuanya

2 0 0
                                        

"Setelah kejadian itu, apa kopi masih jadi favoritmu, Mas?"


🌹🌹🌹

"Maaf, lorong sastra ada di mana ya?"
Gadis pendek dengan seragam khas penjaga perpustakaan berdiri di belakang meja. Tangannya menunjuk ke arah utara

"Oh, itu lorong sastra ada di sebelah kanan, deretan ketiga."

Zale menoleh ke belakang, mengangguk kecil sebelum berjalan pergi. Ada buku khusus yang selama ini ia incar sejak lama. Dan hari ini, sebisa mungkin menjadi miliknya.

Sedangkan di lorong lain, seorang gadis dengan jepit rambut biru di kedua poninya memandang tumpukan buku di depannya dengan bingung. Aestra sibuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudah setengah jam dia berdiri di sana, menatap bergantian antara ponsel dan rak buku yang menjulang tinggi.

"Sebanyak ini?" gumamnya. Ia sedang mencari buku sastra edisi terbatas.

Matanya menyapu rak dan berhenti pada sebuah buku bersampul cokelat yang berdiri di rak paling atas. Aestra berjinjit, berusaha menggapai buku itu walaupun jarak antara tangannya dan rak cukup terpaut jauh.

"Gitu aja gak bisa."

Aestra tersentak. Seorang laki-laki sudah berdiri di belakangnya, mengambil buku diatasnya dengan mudah.

"Di situ ada petugas. Kenapa gak minta bantuan?" Zale menunjuk ke bagian bawah dengan telunjuk tanpa menatapnya. Iris kelamnya menatap deretan rak di belakang Aestra, "Dan lo pakai rok."

Aestra menunduk. Seketika ia menepuk dahinya karena baru menyadari rok yang ia pakai memanglah pendek, hanya sebatas setengah paha.

Mata Aestra berkedip-kedip. "O-oh..makasih."

Tidak ada jawaban dari Aestra sampai sebuah jaket disodorkan di depannya. Aestra terkejut dan menatap lelaki jangkung yang sedang sibuk membenarkan kacamata hitamnya.

"Pake sendiri." Aestra buru buru menggeleng. "Nggak usah."

Walau terhalang poni yang cukup panjang hingga menutupi alis, Aestra tetap bisa melihat kedua alis lelaki itu menaut satu sama lain.

Zale mendengus. "Serah lo, mau nyari mati silahkan. Jangan salahin gue kalau tiba-tiba lo jadi terkenal setelah ini."

Zale menyampirkan jaketnya di pundak Aestra. Ia tidak peduli walaupun gadis di depannya belum memberikan izin.

"Zale. Balikin besok jam 4 di sini," katanya.
Aestra ternganga. Belum sempat bertanya, Zale sudah lebih dulu menyodorkan buku.

"Nih, punya lo. Lain kali hati-hati kalau pakai rok pendek. Takutnya ada setan yang fotoin lo dari belakang."

Aestra menelan ludahnya kasar. Ia mengira dirinya sendirian di sini. Aestra mengangguk, meremas kuat jaket Zale yang tersampir di pundaknya membiarkan lelaki itu melenggang pergi menjauh dari tempatnya.

🌹🌹🌹

Zale mempercepat langkahnya. Selepas dari perpustakaan kota, Zale memilih untuk meneduh di salah satu warung kopi pinggir jalan yang kebetulan tidak terlalu ramai.

Malam ini hujan turun, dan sayangnya Zale tidak membawa barang apapun yang bisa membantunya untuk menerobos rintik yang semakin lama semakin menderas. Alamat terlalu hanyut dalam setiap kata, ia sampai lupa dengan waktu.

Zale sedikit merapatkan dirinya yang mulai merasa sedikit kedinginan, sedangkan ia tidak memiliki apapun yang bisa menghalau udara dingin dari tubuhnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 25 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Fragmen Tentang KitaStories to obsess over. Discover now