Pertemuan

29 2 0
                                        

Aula hotel itu terlalu ramai untuk Kirani. Lampu kristal menggantung rendah, berkilau seperti hujan cahaya yang tidak pernah benar- benar jatuh. Musik mengalun lembut, tetapi tenggelam diantara suara obrolan, tawa, dan denting peralatan makan. Semua terasa berisik, padat, dan melelahkan.

Kirani Aurelline berdiri di dekat meja minuman, memegang segelas air putih yang belum ia sentuh sejak lima belas menit yang lalu. Ia mengenakan kebaya soft pink dengan bordir halus yang mengikuti garis tubuhnya dengan tidak berlebihan. Rambut panjangnya dibiarkan teruari rapi, jatuh lembut di bahu.

Di sampingnya, ibunya tersenyum ramah pada siapa pun yang menyapa. Sempurna. Anggun. Tanpa cela. Sesekali beliau merapikan selendang Kirani seperti memastikan tidak ada lipatan yang salah.

"Berdiri yang tegak, Nak," bisik sang ibu pelan.

Kirani menurut tanpa komentar. Ia sudah terbiasa.

"Saka!"

Suara hangat dari belakang membuat ayah Kirani menoleh cepat. Wajahnya langsung berubah cerah.

"Dipta! Astaga, sudah berapa tahun kita tidak ketemu?"

Dua pria paruh baya itu langsung berjabat tangan erat, lalu tertawa seperti waktu tidak benar-benar memisahkan mereka.

"Masih suka naik gunung?" tanya ayah Kirani.

"Kalau lutut saya tidak protes, mungkin," balas pria itu sambil terkekeh.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan elegan dengan kebaya modern berwarna biru tua. Senyumnya hangat, matanya lembut namun tajam memperhatikan.

"Ini istriku," kata Pak Dipta.

Ibu Kirani langsung menyambut dengan ramah.

"Senang sekali akhirnya bertemu."

Perempuan itu kemudian menoleh pada Kirani. Tatapannya berhenti sedikit lebih lama.

"Ini putrinya?" tanyanya lembut.

Ayah Kirani mengangguk bangga.

"Kirani."

Kirani membungkuk sopan.

"Selamat malam, Tante."

Senyum wanita itu langsung melebar, hangat. Terlalu hangat untuk seseorang yang baru bertemu.

"Ya ampun... cantik sekali kamu"

Kirani tidak tahu harus merespons apa selain tersenyum kecil.

"Kamu keliatan pendiem yaa atau memang begitu?"

"Dia memang tidak banyak bicara," ibu kirani menjawab.

"Tidak apa-apa. Justru menenangkan."

Wanita itu menatap Kirani lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih lembut - seolah langsung menyukainya tanpa alasan jelas. Kirani merasa sedikit canggung.

"Arga mana?" tanya Pak Dipta tiba-tiba.

"Masih di atas. Katanya ada urusan kerja," jawab istrinya.

Kerja. Di hari pernikahan adiknya sendiri. Kirani nyaris tidak menunjukkan reaksi apapun, sampai langkah seseorang terdengar mendekat. Tenang. Terukur. Tidak terburu-buru.

Seorang pria berhenti di samping mereka. Jas hitamnya jatuh rapi di tubuh tinggi itu, kemeja putihnya bersih tanpa satu pun lipatan salah. Rambutnya ditata sederhana, tidak berusaha menarik perhatian - tetapi tetap berhasil melakukannya. Ada aura dingin yang halus. Bukan sombong. Bukan tidak ramah. Hanya... berjarak.

"Arga, sini," panggil mamanya.

Pria itu berhenti di samping mereka. Aura dingin yang dibawanya sangat kontras dengan kehangatan ibunya.

Nikah dulu, Cintanya belakangan. Stories to obsess over. Discover now