DETAK JARUM

23 9 1
                                        

Beberapa orang lahir dengan peta di tangan mereka, sementara aku lahir dengan lubang di dada. Di tanganku, sebuah kompas perak tua terus berdetak, jarumnya menunjuk ke segala arah seolah sedang menertawakan hidupku yang tak punya tujuan. 

Terlahir hanya untuk menjadi topeng tradisi, beakting seolah menjad bagian menarik dalam sebuah pertunjukkan sirkus, yang membuat tertawa seluruh orang yang melihatnya tanpa tau apa yang terjadi di balik tirai setelah pertunjukkan berlangsung.

Aku adalah nahkoda yang terjebak di tengah samudera tanpa angin, memiliki alat untuk berlayar namun tak punya pulau untuk dituju. 'Kompas' adalah sebuah elegi tentang mereka yang tetap berjalan meski kakinya sudah lama lupa cara melangkah menuju pulang.

***

Luna Anindita Maratungga, seorang remaja berusia 16 tahun yang lahir dari keluarga yang katanya 'cemara', namun luka hari ini yang ia dapatkan melenyapkan 'katanya' itu hingga menjadi abu yang terbang di tiup angin laut. Bukan hanya luka fisik yang ia dapatkan, melainkan 80% hidupnya kini hanya tersisa 20% kewarasan yang masih bertahan di jiwanya. 

Kata-kata yang menusuk seperti bilah pisu tajam yang menembus jantung, sudah menjadi makanannya sehari-hari. Namun, darimana motivasi yang ia dapatkan untuk terus hidup seolah itu semua hanya bus yang melewati halte? Entah, dia juga tidak tau mendapatkan motivasi hidup itu dari mana. 

Sunyi dari lorong sekolah yang ia lewati, menghasilkan bunyi decitan sepatunya, seolah meemprotes langkah lunglai Luna. Diluar sekolah, hujan turun tanpa gairah, hanya menyisakan aroma rumput basah dan kesunyian yang mencekik.

Tubuh kecilnya meringkuk duduk di bangku lorong, seluruh siswa telah pergi kerumah mereka masing-masing untuk bermadu bahagia bersama orang tua atau keluarga mereka, namun, disinilah Luna berada, sendirian, hanya detak jantungnya yang dapat ia dengar untuk saat ini.

Bagi seorang penyihir keturunan Maratungga, benda ini adalah warisan dan nenek moyang mereka sebagai penunjuk takdir. Tapi di tangan Luna, jarum emas di dalamnya berputar tak jelas searah jarum jam, lalu berbalik, lalu berputar lagi tanpa henti. Tidak ada Utara. Tidak ada Selatan.

Hanya kekosongan.

''Huh..bahkan benda sakral ini juga gatau aku harus kemana.'' Bisik Luna. Suaranya purau, seolah kata-kata yang ia ucapkan hanyalah beban pikiran yang berlebihan.

Ia mencengkram benda kecil yang jarumnya berputar-putar tak karuan itu, tubuhnya bersandar di kursi panjang yang ia duduki, matanya terpejam seolah di otaknya berpikir apakah ia akan pulang atau tidak. Di dalam benaknya, ia mencoba memanggil percikan sihirnya- sihir lautan yang seharusnya mengalir di nadinya. Namun, yang ia temukan hanyalah samudera yang kering kerontang. 

Sejak malam tragedi itu, Luna merasa jiwanya seperti kapal yang jangkar harganya telah putus, hanyut tanpa nahkoda di tengah badai yang tak kunjung usai. 

''Presetanan sama kompas, sebaiknya aku pulang.'' Gumam Luna.

Saat ia mengangkat tubuhnya yang akan meninggalkan lorong, tiba-tiba saja lorong yang gelap itu berpendar kebiruan. Cahaya itu bukan berasal dari lampu atau kendaraan yang lewat, melainkan dari sela-sela jarum kompas yang berputar.

Kring!

Suara denting halus terdengar. Jarum itu berhenti mendadak. Ia menunjuk tepat kearah dadanya sendiri.

''Huh..ke dalam diri?'' Ia tertawa getir, tawa yang lebih mirip dengan isakan. ''Di sini kosong, dasar benda bodoh. Aku sudah mati lama beberapa tahun lalu.'' 

Tiba-tiba, sebuah suara yang halus bagaikan sutra namun berat dan berngaung yang seolah muncul dari dasar samudra terdalam- berbisik di telinganya. 

''Luna.. laut tidak pernah tersesat. Ia hanya sedang menunggu pasang.''

Luna tersentak. Cahaya biru itu meledak menyilaukan mata, memenuhi ruangan dengan aroma garam dan amarah. Mata Luna terbelalak, ia mengepal tangannya, menyalurkan sihir dari nadinya hingga membuat sebuah percikan berwarna biru terang di kepalan tangannya.

Sedetik setelah sihir laut Luna aktif, cahaya biru yang memenuhi lorong sekolah pun perlahan menghilang, hanya menyisakan kehampaan yang sebelumnya. 

Luna berdiri di tengah lorong, tubuhnya masih menegang akan suara yang beberapa detik lalu berbisik di telinganya. Ia tahu, bisikan itu adalah para roh leluhurnya yang 'mencoba' untuk menghibur, namun itu semua berbanding balik oleh perasaan Luna, bukan terhibur melainkan kesal.

''Tch. Kebiasan, ga bisa liat orang galau sebentar apa?'' Ucap Luna. Nadanya di penuhi oleh kekesalan namun ada sedikit hormat.

Luna menatap kompasnya sekali lagi. Untuk pertama kalinya dalam setahun, jarum itu tidak berputar dengan gila. Ia diam, tegak, dan menunjuk pada sesuau yang jauh lebih berbahaya dari pada sekedar jalan pulang.

...

..

.

Remang cahaya lampu yang redup dari lampu kecil yang berada di atas meja belajar Luna, lampu itu sedikit berkedip pelan entah hampir kahabisan baterai atau semacamnya. Satu per satu halaman di balik, membuat suara kertas beradu pelan, satu-satunya suara yang hanya dapat di dengar telinga Luna di kamarnya. 

Matanya menjelajahi kata per kata yang di tulis di atas kertas yang di bacanya, bayangan lembut kepalanya sedikit mengganggu fokusnya dalam membaca buku yang berada di pangkuan selimut di pahanya. 

..Tok.. Tok.. Tok..

''Luna, ada waktu?'' Suara itu terdengar dari luar kamar Luna. Suaranya di penuhi dengan nada yang menenangkan namun penuh perhitungan. 

Luna mendongak dari buku yang ia baca, tangannya terulur kearah pintu, aura biru terang mengelilingi tangannya ketika ia menyalurkan sebagian kecil energinya. Aura biru itu kini berpindah, mengelilingi gagang pintu kamarnya lalu memutar dan membuka pintu kamar cukup lebar untuk melihat siapa yang ada di balik pintu.

Wanita paru baya dengan senyum tipisnya yang lembut, serta pakaian kasual yang sederhana. Ya, itu adalah Indira Maratungga, alias ibu dari Luna. Melihat sosok yang ia sangat kenal, rasa hormat memenuhi kamar Luna. Ia menutup bukunya dan berdiri di samping kasurnya.

''Kenapa, Bu?'' Tanya Luna. Nada nya di penuhi dengan rasa waspada dan hormat yang tinggi, ekspresinya tetap dingin bagaikan tumpukan es yang sudah lama terpendam di lautan yang gelap.

Indira hanya menatap Luna dengan ekspresi lembutnya, kakinya melangkah perlahan untuk masuk kedalam kamar dan duduk di kasur Luna. 

''Ibu cuma mau ngobrol sama kamu, Luna. Sejak pulang sekolah kamu diem terus di kamar.'' Ujar Indira.

Luna mengkerutkan keningnya sedikit, sehingga tak dapat di lihat oleh Indira. 

''Itu udah biasa bu. Toh aku setiap pulang sekolah juga selalu begitu kan?'' Balas Luna, ia menarik kursi dari meja belajarnya dan duduk menghadap Indira.

Indira menghela nafas, terlalu di paksakan sehingga terdengar seolah itu adalah tawa yang patah-patah.

''Kamu masih marah sama Ayah?'' 

Pertanyaan itu- membuat tatap Luna menjadi lebih gelap dari sebelumnya, udara kini lebih terasa mencengkam dengan campuran aroma garam dan darah yang menjadi satu.

''Sampai kapanpun, bu. Aku gabakal maafin 'orang itu' bahkan kalau air laut meminta restu pada ku untuk menenggelamkannya agar tenang, lebih baik aku mati terbakar.'' Tangan Luna terkepal di atas lutusnya, bahkan kini darah sedikit menetes dari sela-sela telapak tangannya yang tanpa sadar kukunya telah menancap di kulitnya. 

Senyum tipis di wajah Indira menghilang perlahan, raut wajahnya seakan menunjukan kekecewaan yang mendalam. Ia menghela nafas pelan, tak mengatakan apapun, namun itu adalah tanda bahwa harapan besarnya telah menghilang kesekian kalinya. 

Aku melirik kearas lipatan kulit yang ada di wajah ibunya. Ia menghela nafas panjang. 

''Bu, mungkin saat ini aku belum bisa maafin dia. Kalau aku udah maafin dia sekalipun, aku gabakal deket kayak dulu lagi, gabakal kayak aku masih kecil.'' Ucap Luna dengan nada yang meyakinkan. Tidak ada nada marah atau tegas, hanya kelembutan yang biasa ia gunakan pada orang tertua di keluarga Maratungga.

Luna menghela nafas, memijat pangkal hidungnya, ia perlahan meraih jari-jari Indira, dengan lembut mengelusnya.

''Ibu harus istirahat. Ayo, aku anter ibu ke kamar.''


KOMPASStories to obsess over. Discover now