I

2K 206 32
                                        


>>Rules of Attraction<<




Pintu gerbang SMA Gangnam-gu masih terasa asing bagi Jeong Leean. Ia berdiri di sana, membenarkan letak ransel hitamnya yang sengaja hanya disampirkan di satu bahu.

Seragam barunya-yang seharusnya rapi-sengaja tidak dikancingkan di bagian paling atas, memperlihatkan kaos hitam di dalamnya. Di sampingnya, Yeon berdiri dengan postur sempurna, rambut hitam panjangnya terurai rapi, sibuk mengecek jadwal di ponsel.

​"Ian, kancingkan bajumu. Kamu menarik perhatian orang dengan cara yang salah," gumam Yeon tanpa menoleh.

Suaranya datar, tipe suara yang tidak butuh nada tinggi untuk membuat orang merasa terintimidasi.

Ian hanya menyeringai, memperlihatkan senyum tipis di matanya yang sering membuat anak perempuan di SMPnya dulu gagal fokus.

"Justru itu poinnya, Yeon-ah. Biar mereka tahu siapa yang baru datang."

​Di sisi lain lapangan, di atas podium kecil yang dipayungi tenda biru, Stella sedang menatap daftar hadir siswa baru dengan kening berkerut. Ia baru saja kembali ke Korea setelah lulus SMP , dan meskipun bahasa Koreanya sudah lancar, ia masih sering bergumam dalam bahasa Inggris jika sedang pusing.

​"Seriously, why is the humidity so high today?" keluh Stella sambil mengibaskan tangannya.

Ia melirik jam tangan pintarnya.

"Jiwoo, jam berapa sesi perkenalan dimulai?"

Jiwoo, yang sedang sibuk merapikan tumpukan nametag, menunjuk ke arah gerbang.

"Sebentar lagi. Oh, lihat itu. Ada siswa baru yang kelihatannya bakal sering mampir ke ruang guru."

Stella mengikuti arah pandang Jiwoo. Matanya menangkap sosok yang tidak terlalu tinggi dengan gaya jalan yang santai-terlalu santai untuk ukuran siswa baru yang seharusnya gugup.

Itu Ian. Di sampingnya ada Yeon, yang terlihat seperti kontras sempurna: yang satu badai, yang satu ketenangan yang mematikan.

​"Who is that?" gumam Stella, matanya menyipit.

"Dia tidak pakai dasi?"

​"Itu Jeong Leean. Gosipnya dia atlet basket tapi punya catatan disiplin yang... berwarna," sahut Yuha yang tiba-tiba muncul sambil membawa ice americano.

"Kenapa, Stell? Tipe lo?"

Stella mendengus, membenarkan letak ban lengan OSISnya.

"Not even close. Dia kelihatan seperti trouble. I need to fix her attitude before she ruins the ceremony."

Sesi perkenalan dimulai di aula besar. Saat giliran kelas 10 maju untuk memperkenalkan diri, Ian berjalan ke depan dengan tangan di saku celana. Saat mikrofon ada di tangannya, alih-alih memberikan salam formal Annyeonghaseyo yang membosankan, ia malah berdehem pelan.

​"Halo semuanya. Saya Jeong Leean. Cukup panggil Ian. Saya tidak suka peraturan yang terlalu ketat, tapi saya sangat suka berkeliaran mencari teman baru. Jadi, mari kita akur," ucapnya dengan nada malas namun penuh percaya diri.

Hening sejenak, lalu terdengar bisik-bisik dari barisan siswi. Beberapa tertawa kecil, terpesona dengan aura cool yang ia bawa secara alami.

​Di pojok belakang aula, Carmen, kakak kelas 12 yang dikenal sedikit rusuh, menyikut temannya. Matanya berbinar melihat Ian.

"Juun, lihat anak itu. Gaya jalannya, tatapan matanya... She's one of us. Dia punya energi yang sama kaya gue. Gue harus bawa dia masuk ke lingkaran kita sebelum OSIS rumit seperti Stella mendisiplinkannya."





Setelah acara selesai, Ian sedang bersandar di tembok dekat loker, mendengarkan Yeon yang sedang mengomel tentang betapa norak perkenalannya tadi.

​"Kamu benar-benar ingin dicap anak nakal sejak hari pertama, ya?" tanya Yeon dingin.

​"Aku cuma jujur, Yeon-ah-"

​"Excuse me."

Sebuah suara memotong kalimat Ian. Suara itu tidak keras, tapi punya otoritas yang membuat Ian otomatis menoleh. Di hadapannya berdiri Stella. Rambutnya diikat kuda tinggi, wajahnya cantik namun tampak sangat tidak terkesan.

​"Jeong Leean, right?" Stella bicara dengan aksen yang sedikit berbeda, ada nada Western yang terselip di sana.

"In this school, we have rules. Button your shirt and put on your tie. Ini bukan tempat bermain."

Ian tidak langsung menjawab. Ia menatap Stella dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya membuat guru-guru langsung naik darah.

"Ah, Kakak OSIS yang tadi di podium. Nice to meet you, Kak..." ia melirik nametag di dada Stella, "...Kim Dahyun? Atau Stella?"

Stella sedikit terkejut karena Ian tahu nama panggilannya.

"Don't act like we're close. Kancingkan bajumu sekarang, or I'll have to report you to the discipline committee."

Ian malah melangkah maju satu langkah, membuat jarak di antara mereka menipis. Yeon hanya menghela napas di samping, tahu bahwa temannya ini sedang mulai kumat tengilnya.

​"Gimana kalau Kakak aja yang kancingkan?" tantang Ian pelan, suaranya sedikit rendah.

"Tangan gue lagi pegal karena bawa tas berat."

Mata Stella membelalak.

"Is this kid flirting with me in front of everyone? "Are you... are you crazy? Listen, kid-"

​"Ian, ayo pergi. Jangan cari masalah di hari pertama," potong Yeon sambil menarik kerah belakang seragam Ian seperti menarik anak kucing.

Ian tertawa kecil sambil membiarkan dirinya ditarik menjauh. Ia menoleh ke belakang, mengedipkan sebelah mata pada Stella yang masih berdiri mematung karena kesal sekaligus bingung.

​"See you later, Stella-sunbaenim! Love the accent, by the way!" teriak Ian dari kejauhan.

Stella menggeram pelan, wajahnya sedikit memerah karena amarah atau mungkin sesuatu yang lain.

"Oh my God, she is so annoying. I'm going to have a long year with her."



















Gue datang dengan cerita baru lagi....

Request: gatau_1245

Semoga suka, kalo suka silahkan vote dan komen teman.

TBC!!!


































Rules of AttractionStories to obsess over. Discover now