✿✼:*゚:.。..。.:*・゚゚・*
•
•
•
"Jadi maksudnya kau yang akan menikah denganku?" tanya Rivaen.
Ia sudah tak paham lagi dengan apa yang ayahnya pikirkan, bagaimana bisa ia menikahi seorang wanita yang usianya lebih cocok untuk menjadi ibu tiri daripada istri?
Rivaen menoleh ke samping kiri wanita itu, ada tiga remaja yang berdiri diam sejak tadi. Bahkan yang tertua sudah berisia 19 tahun, tahun ini.
Daripada menjadikannya anak, bukannya ia lebih cocok jadi adiknya saja, mengingat usia Rivaen tahun ini adalah 23 tahun, mereka hanya berpaut beberapa tahun saja.
"Anda... Tuan Rivaen bukan?" tanya sang wanita yang juga canggung.
"Iya, aku Rivaen."
"Pasti ada kesalahpahaman di sini, Tuan Rivaen." kata Arabella.
"Tidak, tidak ada salah paham. Ayah sudah bilang aku akan menikah. Itu salahku sendiri karena tak memperkirakan jika usia calonku lebih tua dariku."
"Mari kita duduk, lalu bicara terlebih dahulu," ucap Rivaen.
"Baiklah," jawab Arabella.
Hanya Rivaen dan Arabella saja yang duduk, sedangkan ketiga putra Arabella masih berdiri. Ini karena di ruangan pribadi itu memang hanya ada dua kursi saja. Rivaen sengaja memesannya, ruangan dengan pemandangan yang indah yang bisa dilihat dari jendela dan tentu saja hanya ada dua kursi karena ia pikir hanya ada dirinya dan calon istrinya yang datang.
Siapa yang menduga, calonnya sudah punya anak. Ada tiga pula!
"Halo, iya ini ruangan 23B. Bisakah aku mengganti ruangan? Ya, aku punya tamu tambahan.... Tolong ruangan untuk lima orang, siapkan segera agar kami bisa pindah. Terima kasih."
Rivaen menutup telponnya dan menatap Arabella.
"Aku keliru dalam pemesanan ruangan, tolong tunggu sebentar dan kita akan pindah ke tempat yang lebih nyaman," jelas Rivaen.
"Tidak apa, Anda pasti tak menduga jika saya akan membawa orang lain dipertemuan pertama kita," jawab Arabella canggung, calon suaminya terlihat terlalu muda.
"Aku Rivaen Zafa Vermion, putra tunggal tuan Ayuda Vermion. Senang bertemu denganmu, Nyonya Arabella," Rivaen memulai perkenalannya.
"Anda putra Tuan Ayuda?" tanya Arabella.
"Apa ada masalah?"
"Tidak ada," Arabella tak menduga akan menikah dengan putra tunggal Tuan Ayuda.
"Ah iya, dan juga senang bertemu Anda, Tuan. Saya Arabella Jayana dan mereka bertiga adalah putra saya, dari yang paling ujung Sakana, Sean, dan yang termuda Kaira," sambung Arabella.
"Saya Sakana Jayana, senang bertemu dengan Anda, Tuan Rivaen," ucap Sakana sambil membungkuk pada Rivaen
"Saya Sean Jayana, Tuan Rivaen."
"Nama saya Kaira Jayana, se-senang bertemu Anda, Tuan," mengikuti dua saudaranya Kaira juga membungkuk pada Rivaen.
"Bangun, tak perlu seperti ini," ucap Rivaen, menyuruh ketiganya bangun.
"Terima kasih, Tuan."
Satu-satunya yang mengucapkan terima kasih hanya yang tertua, Sakana. Sedangkan dua lainnya hanya diam saja.
"Aku diperintahkan Ayah untuk pulang dan segera menikah secara tiba-tiba, tapi tak pernah aku tahu jika colonku bahkan sudah memiliki tiga orang putra."
VOCÊ ESTÁ LENDO
Hidup Kedua: Menjadi Ayah
Ficção AdolescenteSeorang pangeran yang bereinkarnasi menjadi putra tunggal keluarga Vermion di dunia paralel modern. Sebagai seseorang yang pernah hidup sebagai pangeran, Rivaen tentu sangat mematuhi aturan dan selalu menjaga kehormatan orang tuanya. Segalanya berja...
