Prolog

1.7K 164 28
                                        


"Aku takut jika aku menyentuhmu, kau akan layu. Aku adalah maut, Anthea. Segala yang kusentuh biasanya kehilangan nafasnya."

"Maka sentuhlah aku sampai aku berhenti bernafas, Heraldes. Karena aku lebih suka mati dalam pelukanmu daripada hidup selamanya di dunia yang tidak mengenalmu."

Dari balik celah dimensi yang tipis, di tempat di mana bayang-bayang dunia bawah bertemu dengan akar-akar bumi, Heraldes berdiri mematung

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Dari balik celah dimensi yang tipis, di tempat di mana bayang-bayang dunia bawah bertemu dengan akar-akar bumi, Heraldes berdiri mematung. Matanya yang biasanya hanya menatap barisan jiwa yang tak bernyawa, kini terpaku pada satu titik cahaya yang menyilaukan di padang Nysia.

Di sana, di antara hamparan bunga yang bergoyang ditiup angin, ia melihatnya, Anthea.

Heraldes terbiasa dengan keabadian yang statis—batu yang tak berubah, sungai yang tak mengalir, dan keheningan yang menyesakkan. Namun, melihat Anthea adalah seperti melihat warna untuk pertama kalinya dalam jutaan tahun kegelapan. Lelaki itu bergerak dengan kelincahan yang menghipnotis; tawa kecilnya yang terbawa angin terdengar seperti musik paling murni yang pernah menyentuh indra sang raja kematian.

Ia memperhatikan bagaimana jemari Anthea yang mungil membelai kelopak bunga dengan penuh kasih, seolah setiap sentuhannya mampu menghidupkan kembali apa pun yang hampir layu.

Heraldes, sang penguasa yang tak pernah menginginkan apa pun dari dunia atas, tiba-tiba merasakan sebuah tarikan yang menyakitkan di dadanya. Ia tidak hanya ingin melihatnya; ia ingin menjaga cahaya itu agar tidak pernah padam oleh waktu.

Ia mengamati dari balik kabut gaib, memperhatikan bagaimana rambut Anthea yang keemasan bersinar di bawah sinar matahari—sesuatu yang tak akan pernah bisa ia miliki di kerajaannya.

"Cahaya yang begitu indah," bisik Heraldes, suaranya parau dan berat, bergetar di antara dinding-dinding gua yang lembap.

"Bagaimana mungkin maut bisa mencintai kehidupan sehebat ini?" Pada detik itu, kesunyian Tahta Obsidian miliknya terasa kian menyiksa. Ia tahu, hukum alam seharusnya memisahkan mereka, namun bagi Heraldes, membiarkan Anthea tetap berada di bawah sinar matahari tanpa dirinya terasa seperti hukuman yang lebih berat daripada siksaan di Tartarus.

Cintanya tumbuh bukan sebagai bunga yang mekar, melainkan sebagai akar yang mencengkeram kuat, gelap dan posesif, menandai awal dari sebuah obsesi yang akan mengubah sejarah bumi selamanya.

"Biarlah mereka menyebutku pencuri. Biarlah dunia atas membeku dalam kesedihan ibumu. Karena begitu kau melihat kekaisaran yang kubangun untukmu, kau akan mengerti bahwa kegelapan pun bisa menjadi rumah, asalkan ada cinta yang menjaganya."

Setiap kuku kuda hitamnya yang menghentak tanah seolah menjadi hitungan mundur menuju pertemuan mereka. Heraldes tidak lagi melihat dunia bawah sebagai penjara, melainkan sebagai bingkai yang menunggu lukisan terindahnya.

𓆝𓆟 𓆞 𓆝 𓆟

[Terangkan pencahayaan Handphone. Saat menonton perbesarkan layar/klik di ujung kanan bawah, agar tidak terputus saat menonton]

ABOUT MY STORY

Cerita ini diangkat dari kisah cinta dewa dan dewi mitologi Yunani, tepatnya Hades dan Persephone.
tentunya aku hanya mengambil kisah cinta mereka dengan sangkut paut penculikan yang berujung jatuh cinta. Tidak ada pencurian, penyalinan dari buku manapun maupun cerita manapun. Murni hasil karya dan ide aku sendiri.

Begitu pula dengan tempat, latar, tokoh akan berhubungan dengan dewa dewi mitologi Yunani, seperti Zeus, Demeter, dan lainnya. Latar tempat seperti, Tartarus, Underworld, Padang Nysa, dan lainnya.

Untuk nama tokoh dewa dan dewi beberapa saja akan aku ganti namun untuk nama tempat tidak aku ubah, sekaligus menghargai kisah yang aku ambil ceritanya.

Dalam setiap bab aku akan menambahkan dipenutup bab penjelasan-penjelasan mengenai tokoh dewa maupun dewi serta tempat yang masuk ke dalam bab itu, agar kalian dapat membayangkan dan mendapat kejelasan mengenai hal tersebut.

Informasi ini tentunya aku sudah memilah dan belajar selama beberapa minggu sebelumnya untuk memudahkan aku menuangkan ide dalam cerita ini, aku menggunakan beberapa buku dan website serta menonton video-video basic mengenai mitologi Yunani lebih lanjut—kisah Hades dan Persephone, aku cukup memahaminya sampai dalam, semoga aku dapat dengan mudah memberikan sedikit ilmu yang aku ketahui kepada kalian semua.

Aku memutuskan untuk memberitahu kalian asal muasal cerita The Called From Hell ini, untuk menjaga nama baik ku, seperti adanya asumsi maupun dugaan yang tidak benar di kemudian hari, karena kesamaan cerita ini dengan mitologi Yunani aku tidak mau kalian berpikir adanya kecurangan dalam cerita ini.

Terimakasih banyak aku ucapkan, cerita ini akan aku rangkai semenarik dan selayaknya untuk kalian baca, dan tentunya aku tidak mau mengecewakan para pembaca ku, untuk kalian, besar cintaku melambung di udara.

"Dunia atas memberikanmu bunga, namun aku akan memberikanmu mahkota

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Dunia atas memberikanmu bunga, namun aku akan memberikanmu mahkota. Bukan karena kau cantik seperti mawar yang akan layu, tapi karena kau adalah satu-satunya cahaya yang tidak membuat bayang-bayangku merasa takut."

THE CALLED FROM HELL || NOMIN Where stories live. Discover now