"Nyatanya dunia ini tetap sunyi, sekeras apapun usahamu, dunia tak akan pernah bisa mendengar ceritamu." -Sabiru Cakrawala
***
"Makanya jangan dua-duanya diambil! cacat kok sekolah disini!"
"Udah tuli! Gak bisa ngomong orang gila!"
"Sekolah di SLB aja sana! Gak ada yang mau nampung orang idiot kayak lo!"
"Cupu! Miskin! masih berani dateng kesekolah lo?!"
"Yahh, percuma marah-marah dia aja gak bisa denger oon!"
"Teriak aja yang keras ditelinganya biar rusaknya gak tanggung-tanggung!"
Tangan yang lebih besar itu menarik kerah belakang anak laki-laki yang menunduk takut diantara lengan yang ditekuk nya dimeja.
Tarikan yang cukup kuat membuatnya terjatuh membentur lantai dingin. Tak ada tangisan, atau teriakan pemberontakan, yang dilakukannya hanya pasrah dan menerima, toh yang dikatakan mereka benar.
"Ngomong!!! belajar ngomong sana! punya suara kalau gak digunain buat apa? ngerugiin anugrah tuhan aja lo!"
mereka dengan gencar memukul anak laki-laki berkacamata itu, membenturkan kepalanya didinding, terakhir ludahan kasar dari kelima orang itu membasahi rambut dan wajahnya.
***
"Kamu knp basah begitu?" Anak lelaki tunarungu itu memiringkan kepalanya seolah bertanya.
"Aku dibully sama mereka, Hehe." hembusan napasnya terdengar lebih berat dari sebelumnya, "Mereka siram aku pakai air pel."
Sabiru menggelengkan kepalanya tidak paham, dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang bocah itu katakan.
Air muka Sabiru terlihat tak tenang, kentara sekali cemas. Tanpa basa-basi bocah itu menarik tangan Sabiru, mengajaknya berjabat tangan. "Aku Gentala, bocah gemuk yang gemoy sekali, salam kenal."
Sabiru menarik tangannya dan menulis kembali.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Usai melihat tulisan Sabiru, Gentala mengerutkan keningnya bingung, tangannya menggaruk kepala belakang yang tidak gatal. Sabiru kembali menulis, menjelaskan bahwa dirinya tidak paham akan apa yang Gentala ucapkan.
Tiga detik setelahnya Gentala mengangguk kecil, sedikit mengerti. Lalu dia mengambil alih pena Sabiru dan ikut menuliskan namanya sebagai perkenalan diri.
Diakhir kalimatnya Gentala tersenyum sembari menunjukkan hasil tulisan ceker ayam kepada Sabiru.
'Kalau kamu gak punya teman, kita bisa berteman hari ini!'
'Aku Gentala Seloka, kamu bisa panggil aku Gentala! siapa namamu?'
Sabiru membaca tulisan itu dalam hati, dia tersenyum lebar, lalu ikut memperkenalkan diri. Dalam diamnya dia bergumam 'ternyata masih ada yang menganggapnya manusia.'
Mereka saling berkenalan lewat tulisan yang tak tersusun rapi itu, lewat kata demi kata semua tersusun menjadi satu cerita, Sabiru mengetahui satu hal, dia tak sendiri masa SMP nya tak terlalu buruk setelah bertemu dengan Gentala.
***
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Pelajarannya sampai sini dulu ya, dilanjut besok..." tangannya bergerak perlahan memberi arahan.
Seorang wanita dengan rambut pendek tersenyum hangat, kepada murid-murid istimewanya. Dia membuka les bahasa isyarat dengan upah seikhlasnya.
Semua anak-anak mulai mengemasi buku mereka, dan menyalami wanita itu dengan hormat.
Sosok anak perempuan dengan kepang dua itu mendekat, dan menyalami dengan santun wanita bernama Jelita itu, tanpa penuh beban dia tersenyum hangat.
Tangannya menari diudara, mengungkapkan isi pikirannya yang gundah gulana sejak kemarin.
"Bu guru, kenapa ya Luna gak bisa bicara kayak anak-anak disekolah Luna? apa tuhan marah dan gak sayang ya sama Luna?"
Tangan wanita itu terulur mengelus rambut Kaluna kecil, dengan senyuamnyang masih sama dia berujar, "Tuhan nggak marah sama Luna, malah yang ada tuhan itu sayang banget sama Luna, Luna itu istimewa. Jangan sedih-sedih ya, Luna itu titipan tuhan yang paling indah didunia ini."
Kaluna memeluk wanita itu, sebelum akhirnya berpamitan pulang. Sepanjang jalan Kaluna tak berhenti berpikir, benar kata bu guru Jelita, tuhan itu sayang padanya bukan marah, tuhan titip dia didunia ini karena dia juga salah satu titipan indah dari lainnya.