~ PROLOG ~

65 3 0
                                        

~ Hukum yang Tidak Pernah Dituliskan ~

Manusia dan penyihir tidak pernah benar-benar diciptakan untuk hidup sebagai satu.

Mereka ada untuk menjaga dunia tetap berjalan, seperti siang dan malam yang bergantian memenuhi langit. Sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan, tetapi tidak pernah tinggal berdampingan terlalu lama.

Semua penyihir memahami itu.

Tak ada kitab yang menuliskannya. Tak ada kerajaan yang menetapkannya sebagai hukum. Namun beberapa larangan memang tidak membutuhkan suara. Dunia hanya membuat semua orang takut melanggarnya.

Dan ketakutan itu lahir dari sebuah kisah lama.

Tentang dua penyihir kembar.

An dan In.

Mereka lahir pada malam yang sama, dari satu rahim dan satu darah sihir. Sejak kecil, keduanya nyaris tidak pernah terpisah. Meski begitu, sihir mereka bertolak belakang.

An tenang seperti air yang diam di dasar danau. Ia tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya selalu membuat orang merasa aman.

Sedangkan In berbeda. Sihirnya bergerak seperti api liar, cepat, dan sulit ditebak. Ia selalu ingin melihat dunia yang lebih luas dari apa yang diajarkan para tetua.

Ketika dewasa, keduanya jatuh cinta pada manusia.

Saat itu, tidak ada pertanda buruk.

Langit tidak berubah merah. Tanah tidak retak. Dunia tetap berjalan seperti biasa, seolah alam membiarkan semuanya terjadi.

In menikahi seorang perempuan manusia lebih dulu.

Dan tidak terjadi apa-apa.

Ia hidup panjang umur, tetap kuat, tetap menjadi penyihir seperti sebelumnya. Anak-anaknya lahir sehat, membawa darah dua bangsa sekaligus. Mereka tumbuh di antara manusia dan penyihir tanpa kutukan yang terlihat.

Semua orang mulai berpikir cerita lama hanyalah ketakutan kosong.

Sampai An memilih jalan yang sama.

Ia jatuh cinta kepada seorang pria manusia dan menikahinya tanpa sembunyi-sembunyi. Untuk beberapa waktu, hidup mereka tampak bahagia.

Hingga An mengandung anak pertamanya.

Dan sejak saat itu, tubuhnya mulai berubah perlahan.

Bukan sakit dan juga bukan luka.

Ia hanya terlihat semakin lelah, seolah ada sesuatu yang terus menguras hidupnya sedikit demi sedikit.

Namun An masih tetap bertahan.

Selama anak itu hidup di dalam rahimnya, jantungnya terus berdetak. Dan ketika bayi itu lahir An mengembuskan napas terakhirnya pada saat itu juga.

Sunyi.

Tanpa jeritan.

Tanpa darah.

Seperti lilin yang padam setelah habis terbakar.

Tak seorang pun mengerti mengapa hal itu terjadi. Tetapi sejak saat itu, para penyihir mulai memahami satu hal yang tidak pernah diucapkan alam secara langsung:

penyihir laki-laki boleh hidup bersama manusia,

tetapi penyihir perempuan tidak pernah diberi kesempatan yang sama.

Sebagian menyebutnya kutukan.

Sebagian lain menyebutnya harga yang harus dibayar demi keseimbangan dunia.

Apa pun namanya, ketakutan itu menyebar terlalu jauh untuk dilawan.

Sedikit demi sedikit, hubungan antara manusia dan penyihir mulai dilarang. Bukan oleh raja atau hukum kerajaan, melainkan oleh cerita yang diwariskan terus-menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mereka boleh hidup berdampingan.

Boleh saling mengenal.

Tetapi tidak boleh saling memiliki.

Karena setiap kali batas itu dilanggar, dunia selalu mengambil sesuatu sebagai gantinya.

Dan bertahun-tahun kemudian, ketika seorang anak kembali lahir dari darah dua bangsa, ketika napas pertamanya membuat angin berhenti bergerak selama beberapa detik.

dunia segera tahu:

seseorang telah menantang hukum lama.

Dan keseimbangan tidak akan tinggal diam.

====

- 04/02/2026 -

Between Two WorldsStories to obsess over. Discover now