Episode: 1 (Perkenalan)

0 0 0
                                        

Hai... namaku Adiva Arsyila Savina panggil saja dengan sebutan Syila.

Syila adalah gadis yang cantik, keras kepala, polos, tinggi 155 cm, hidung pesek, mata sipit, dan berat badan 62 kg.

?: "Syila! Adek! Bangun!".

Teriakan itu di dengar setiap pagi hari.

Aku yang masih tidur di atas tempat tidurku yang nyaman.

Seorang perempuan berjalan cepat menuju ke kamar adek untuk membangunkan sekolah.

?: "awakmu gak sekolah ta?! Tangi tangi!" (Dengan nada tinggi dan memukul pintu kamar).

Tetapi adek cuman berbalik badan dan tidur lagi.

Ya kalian benar sekali... itu adalah umikku yang baik hati, lemah lembut, tegas, tinggi 165 cm, hidung mancung, cantik, pinter masak dan nyaris sempurna.

Semasa muda nya umikku banyak orang yang menyukai nya tetapi yang aku herankan adalah kenapa anak anaknya tidak banyak orang orang yang menyukai mereka seperti umik yang banyak incaran para lelaki.

Itu yang bikin aku jadi bertanya-tanya.

Umikku bernama Alfathunisa Husna Kamilah panggil saja dengan sebutan Husna.

Husnah: "pean ojok turu ae! Iku anak e pean gugah!" (Dengan nada tegas).

Abiku langsung bangkit dari tempat tidur, lalu membangunkan adek.

?: "heh, ayo tangi, sekolah" (memukul ringan kakinya adek).

Tetapi tidak ada gerakan oleh adek.

Aku yang dari tadi bangun dan main handphone mendengar teriakan rumah di setiap pagi.

Abiku bernama Dzulhilmi Rizqy Abdurrohman panggil saja dengan sebutan Rizqy.

Abi adalah pria yang lemah lembut, keras kepala, baik hati, sabar, berambut botak, tinggi 158 cm,

Sedangkan adekku adalah pria yang tinggi, mata manis, tegas, dan jail.

Adekku bernama Amir Aqil Jazim panggil saja dengan sebutan Azim.

***

Mereka sebenarnya keluarga bahagia tetapi ada saja cobaan yang di berikan tuhan untuk keluarga Husna.

Terkadang aku merasa sangat sedih kepada umik yang selalu merasa harus lebih kuat dan tegar di hadapan anak anaknya.

Aku ingin membantu umik tetapi aku tak mampu karena aku tidak boleh ikut campur urusan orang tua.

Terkadang aku juga bingung harus berbuat apa sampai aku berpikir "apakah aku suatu saat jika menikah dengan pasanganku akan berakhir seperti umik?".

"Apakah aku bisa sekuat seperti umik?".

Pikiranku terus bertanya tanya tentang hal sama setiap hari, setiap waktu, setiap detik.

Tetapi aku berpura pura seperti tidak ada apa apa di hidupku dan di sekitaranku.

Aku cuman bisa terdiam dan merenungkan diri sendiri di tengah malam.

Aku hanya bisa terdiam, mendengarkan, menahan tangis air mata umik.

Jujur, aku ingin sekali membantu umik tetapi aku tidak berdaya karena aku tidak tau harus berbuat apa.

Aku hanya ingin membanggakan keluarga, dan semenjak itu aku menulis cerita ini agar kalian bisa menjadikan pembelajaran kedepannya.

Semoga keluargaku bisa menjalankan cobaan yang di berikan tuhan kepada kita.

Tuhan ingin tau seberapa kuat yang di berikan cobaan ini kepada keluarga hamba melalui orang orang yang iri, kekayaan dan lainnya.

Aku berharap cita citaku tercapai, bisa membahagiakan kedua orang tua terutama kepada umik biar orang lain lihat tidak di injak injak kepada umik.

Aku sayang umik sekali, aku tidak bisa mengutarakan rasa sayang kepada umik melainkan rasa sayangku akan aku buktikan dengan usaha mencapai cita citaku agar umik bangga melihatnya.

Tapi terkadang aku merasa takut untuk gagal.

Tapi gak papa kegagal adalah kunci kesuksesan jadi aku harus semangat menuju ke tujuan utama "Membahagiakan kedua orang tua terutama kepada umik".

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 16 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

THE STRONGEST WOMANStories to obsess over. Discover now