Seorang wanita yang berusia 23 tahun harus menahan rasa sakit yang begitu luar biasa. Iya terbaring lemah di kamar persalinan.
Bau antiseptik memenuhi ruangan bersalin yang terang dan dingin, kontras dengan napas wanita di atas ranjang itu yang memburu, hangat, dan bergetar menahan sakit.
Keringat membasahi pelipisnya. Jarinya mencengkeram kuat seprai, seolah kain tipis itu satu-satunya yang menahannya agar tidak terpecah.
“Sedikit lagi, Bu… satu dorongan lagi.”
Ia harus bertahan untuk 3 buah hati dan untuk sang suami juga untuk keluarganya.
“Sedikit lagi, Bu… kepalanya sudah terlihat Bu... terus bu...”
Suara dokter terdengar jauh, seperti datang dari ujung lorong panjang. Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri begitu cepat, keras,dan penuh harap.
Dan beberapa saat kemudian.
Tangisan pertama pecah memenuhi ruangan tersebut.
Air matanya mengalir dari sudut matanya bahkan sebelum ia melihat wajah sang buah hati.
“selamat yah bu bayi pertama perempuan, sehat. ”
Belum sempat ia bernafas lega, rasa sakit lain datang. Lebih kuat. Lebih dalam.
Tangisan kedua menyusul.
Kemudian tangisan yang ke tiga.
Ketiga suara tangisan bayi itu memenuhi ruangan, saling bersautan seakan mereka tidak mau sendirian di dunia yang baru mereka kenal.
Wanita itu bernafas legah bibirnya bergetar di sela sela nafas ia mendengarkan dengan seksama suara sang buah hati.
“tiga... ” suara parau seorang dokter wanita.
“Selamat yah bu... Tiga putri kembar ibu cantik - cantik dan sehat semua.” ujar sang dokter dengan tersenyum hangat.
Satu per satu bayi itu didekatkan kepadanya, dibedong rapi. Wajah mereka merah, mata terpejam, jari-jari mungil bergerak mencari sesuatu.
Tangannya yang lemah terangkat perlahan. Ia menyentuh tangan kecil pertama—jari mungil itu refleks menggenggamnya.
Ia mendekat, bibirnya bergetar saat berbisik pelan, hanya untuk mereka:
“Selamat datang di dunia, cahaya kecil Mima. Mima di sini. Terima kasih sudah bertahan. Kalian adalah alasan mima tetap hidup, sekarang dan selamanya. Kalian adalah seluruh dunia mima. ”
Perlahan tiga tangisan bayi itu mereda, seolah mengenali sang pemilik suara tersebut.
Setelah melihat ketiga bayi nya wanita itu kehilangan kesadaran (pingsan) akibat kelelahan.
Ceklek
Bunyi gagang pintu terbuka.
Langkah kaki mendekat—teratur, ragu, seolah takut memecah momen rapuh di ruangan itu.
Ia menoleh pelan.
Di ambang pintu, pria itu berdiri dengan napas tertahan. Matanya langsung jatuh pada tiga bungkusan kecil di sisi ranjang, lalu kembali pada wajah wanita yang masih pucat tapi dipenuhi cahaya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“sayang lihat ketiga putri kita mereka sangat cantik dan lucu seperti kamu.” ujar lelaki itu.
Setelah beberapa detik lelaki itu menyadari sang istri tak menggubris nya, membuat lelaki itu panik dan keluar dari ruangan sambil berteriak memanggil dokter.
KAMU SEDANG MEMBACA
in another life still their mom
FantasyAku dibunuh oleh suamiku sendiri... seorang ibu hidup kembali di tubuh gadis 16 tahun dan menemukan tiga putrinya telah tumbuh menjadi penguasa dunia gelap. Tanpa bisa mengungkapkan identitasnya, ia harus mendekati mereka dari bayang-bayang dan mem...
