Bab 1: Ketukan Ribuan Tangan Pada Masa Laluku

115 9 3
                                        

Aku selalu percaya jika masa lalu bisa dikubur rapi ketika aku memutuskan untuk meninggalkannya di belakang—tidak kubawa, apalagi kusampirkan pada pundak lunglaiku yang mungil. Sampai suatu pagi, aku terbangun karena ia mengetuk pintuku dengan ribuan tangan yang tak kukenali dan sejak saat itu aku hanyalah perempuan yang seluruh masa lalunya tiba-tiba menjadi milik semua orang.

***

Aku tak ingat sejak kapan notifikasi di ponselku mulai berdentang seperti lonceng kematian kecil yang tak sabar

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aku tak ingat sejak kapan notifikasi di ponselku mulai berdentang seperti lonceng kematian kecil yang tak sabar. Yang kuingat hanya getaran pertama di pukul lima lewat sepuluh menit, ketika cahaya matahari belum sepenuhnya mengerti apakah ia harus masuk melalui sela-sela gorden kamarku atau tidak. Aku masih setengah terjaga, rambutku acak, napasku berat oleh sisa mimpi yang belum selesai. Lalu satu pesan masuk. Dua. Sepuluh. Tiga puluh. Dan dunia yang semula sunyi, mendadak gaduh oleh sesuatu yang tak kupinta.

Aku meraih ponsel dengan mata setengah terpejam, tak menyiapkan diriku untuk apa pun selain pesan biasa—iklan, sapaan, atau pengingat yang tak pernah benar-benar kupedulikan. Ketika layar itu menyala dadaku bergemuruh seperti dihantam oleh ribuan kuda yang mengamuk di lapangan pacu. Sayup-sayup aku jadi berharap ini hanya salah satu pagi bodoh yang terlalu dilebih-lebihkan oleh kecemasan. Namun harapan adalah makhluk rapuh—ia mati lebih cepat daripada logika.

Sebuah tautan.

Sebuah judul.

Sebuah potongan gambar buram.

Sebuah namaku yang diketik dengan huruf besar.

Aku duduk di tepi ranjang, lututku melemas seperti baru saja dicabut setiap tulangnya. Punggungku mendadak dingin, napasku tertahan di antara dua detik yang tak tahu harus ke mana. Jari-jariku gemetar, tanganku perlahan menutup mulutku yang menganga—bukan karena terkejut, bukan juga karena takut pada sesuatu yang belum kupahami—melainkan karena tubuhku sudah lebih dulu tahu: ada sesuatu yang sedang runtuh, dan aku berada tepat di bawah reruntuhannya.

Itu, aku.

Aku menutup layar secepat orang yang menyentuh api, tapi luka bakarnya sudah lebih dulu menetap. Aku menatap dinding kamarku yang putih dan bersih, seolah ia bisa menjawab pertanyaan yang belum sempat kutanyakan: bagaimana mungkin sesuatu yang sudah lama kuberi nisan, tiba-tiba bangkit dan menuntut ruang hidupku kembali? Bagaimana mungkin ia yang sudah lama kutaburi bunga kematian di atas kuburnya, kembali di hadapanku dengan membawa serbuan pengakuan yang mencekik leherku dan menghantam kepalaku pada satu pemikiran bahwa apakah ini saatnya langit menuntut sebuah pembalasan dari sang pendosa sepertiku yang selama ini menghirup udara tanpa rasa khawatir bahwa ia akan datang di masa depan?

Barangkali begitulah cara semesta menegur manusia—bukan lewat petir yang menggelegar, melainkan lewat hadirnya sesuatu yang tak mereka pinta.

Ia datang bukan untuk disukai, melainkan untuk menyadarkanku bahwa hidup tak selalu bersetia pada niat baik. Bahwa kadang, yang tampak seperti kutukan, adalah jalan rahasia menuju pengertian. Tetapi pagi itu, aku belum siap mengerti apa pun. Aku hanya ingin lenyap dari dunia yang terlalu cepat menghakimi, terlalu rakus menelan cerita setengah matang.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 27 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Barangkali Hina Itu DiwariskanStories to obsess over. Discover now