The Fall.

11 1 3
                                        

Bapa,  terima kasih atas makanan ini, tidak banyak, tapi cukup untuk kami hari ini. Berkatilah apa yang kami makan, supaya badan kami kuat untuk bekerja besok. Jagalah kami sekeluarga, jauhkan dari penyakit dan mara bahaya. Dalam nama-Mu kami berdoa. “

Amin.” Kami mengaminkan doa bersama – sama

    Diterangi lampu minyak kecil di tengah meja, kami menikmati hasil ladang kami hari ini.Makan malam hari ini sederhana seperti biasa; umbi rebus, sedikit sayur , dan roti yang dipotong hati hati agar cukup untuk semua.

   Adikku bercerita tentang ladang, tentang hujan yang belum turun, dan tentang tanah yang mulai mengeras.

“tanah di bagian timur ladang sudah mulai mengeras, kalau begini terus kita terpaksa harus meminjam kuda lagi dari tetangga”. Katanya sambil mengunyah pelan.

Ayah mengangguk. “kalau begitu, ayah akan mulai cangkul sebelah timur, akan ayah siram dahulu dengan air sungai”.

Ibu menatapku sebentar.

“Abel, kau jadi pergi besok?”

“Iya” jawabku. “aku bawa sedikit umbi dan gandum untuk besok, kalau laku kita bisa beli garam”.

Ibu tersenyum kecil. “Jangan pulang terlalu malam.”.

“Aku tidak akan lama, sebelum gelap aku sudah akan ada di sini” kataku.

Ayah menyendok sisa umbi ke mulutnya “Hati – hati di jalan, belakangan ini orang – orang dari utara sering lewat.”

Aku mengangguk, tidak bertanya lebih jauh.

Ayah lalu berdiri dari meja makan. “ayah akan kembali patroli di sekeliling desa”

Ibu dan adik perempuanku ikut berdiri, keduanya mengantar ayah sampai pintu rumah.

“Hati-hati sayang.” Ucap ibu

“ya.”

“Kalau besok, aku boleh ikut ayah patroli kan?” ucap adikku.

Ayah menolak “tidak, kau kan harus belajar menenun kain setelah makan malam.”

“aku bosan, setiap hari selalu be-.’

“Tidak boleh!.” Ibu memotong pembicaraan mereka berdua. “lagi pula seharusnya gadis itu tidak mengerjakan tugas pria, kan?.”

“Sudah, ayah pergi dahulu”. Ayah pergi, kemudian ibu menutup pintu rumahnya, kayunya sudah cukup usang.

Aku baru menyelesaikan makan malamku, “terima kasih ibu, aku akan tidur sekarang”.

“iya, tidurlah nak, besok pagi kau kan mau mengangkut gandum dan umbi”.

“Iya.”.

Aku meninggalkan ibu dan adikku, mereka berdua belum menyelesaikan makan malamnya, sebelum aku menutup pintu kamar,  terdengar ibu sedang menceramahi adikku.

“Liv, kau harus segera menuntaskan kain yang sedang kau kerjakan, tuan tanah sudah menanyakan bagaimana hasilnya..”

    Aku pun menutup pintu kamar, mematikan lampu minyak dan berbaring diatas jerami yang dialasi papan kayu. Sebelum menutup mata , seperti biasa aku menyilangkan tangan diatas dadaku dan berbisik singkat kepada Bapa.

Bapa, Jaga rumah kami malam ini, beri aku kekuatan untuk bekerja besok, dan izinkan aku pulang sebelum gelap. Amin.”

Abel pun memejamkan mata, walau di luar terdengar ibu masih menceramahi liv, Abel tetap berusaha tertidur, karena besok ia harus pergi ke desa tetangga untuk menjual hasil ladang, hingga ada seseorang membangunkannya.

The Wrongful AtonementStories to obsess over. Discover now