PROLOG

3 2 0
                                        

Senyuman itu sedari tadi mengembang. Dengan satu cup es krim di tangannya. Anak itu tengah menunggu seseorang. Matanya mengedar mencari kedua orang tua nya, namun ia tak dapat melihatnya.

Tanpa sadar kaki kecil itu berjalan ke depan. Anak itu terus berjalan sembari memanggil Ibu dan Ayahnya. Langkahnya semakin lebar hingga menapaki jalanan yang saat itu tengah ramai oleh kendaraan.

Suara klakson memekak di telinganya. Ia hanya bisa diam kala mobil hitam itu melaju ke arahnya. Sepersekian detik semuanya menjadi hening, anak itu merasa jika kini tubuhnya seperti melayang dan menghantam tanah dengan keras.

Orang-orang yang melihat itu berteriak karena terkejut. Sampai perhatian seorang pemuda terpecah karena melihat beberapa orang berlari ke arah jalanan. Awalnya ia tak mempedulikan hal itu. Namun ia merasa hati nya gusar.

Ia melangkah mengikuti orang-orang tersebut. Tubuh nya yang kecil memudahkannya untuk menyusup dari badan para orang dewasa.

"Kasian yah, masih kecil padahal." Mendengar hal itu, membuatnya semakin penasaran.

Sampai akhirnya, ia bisa melihat apa yang tengah terjadi. Matanya memanas, kaki nya terasa tak bertulang. Tubuhnya terasa lemas melihat apa yang kini ada di depannya.

Langkahnya yang berat, dipaksakan untuk mendekati anak kecil yang tergeletak dengan bersimbah darah. Hatinya terasa tersayat melihat itu.

Tubuhnya ambruk dengan raungan keras yang semakin membuat orang-orang di sekitaranya bersedih. Ia terus menggoyahkan tubuh kecil itu, menyerukan nama nya berharap mata itu bisa kembali terbuka.

"Hey, bangun. Kata nya mau ke istana balon." Suara nya bergetar, air mata nya terus mengucur deras.

"Bangun yuk! Kita ke Istana balon," ucapan itu seperti tak ada gunanya. Ia semakin meraung, mendekap tubuh kecil itu dengan terus memanggil namanya.

"NARA!"

Suara sirine terdengar. Tubuh kecil itu segera di bawa menuju Rumah sakit. Sedangkan anak itu hanya bisa terdiam melihat darah sang adik yang kini menempel di tangannya.

"Mereka jahat ninggalin Nara sendiri."

~•0•~

Lorong itu awalnya sepi. Namun beberapa detik kemudian, terdengar langkah yang terburu-buru. Dua orang dewasa terlihat berlari ke arahnya.

"Di mana adik kamu!" Salah satu dari mereka mulai bertanya pada seorang anak yang duduk di sebuah bangku panjang.

Pria itu terdiam kala mendapati darah di tangan putranya. Pria itu berjongkok, menyentuh bahu putranya. Dapat ia lihat jika pandangan itu terlihat kosong. "Di mana adik kamu?" Tak ada jawaban. Pria itu memilih kembali berdiri.

Sampai akhirnya pintu di depan mereka terbuka. Menampilkan seorang Dokter. Pria itu maju, menatap Dokter tersebut. "Gimana anak saya?" tanya nya langsung.

"Tidak baik. Akibat kecelakaan itu, pasien harus memiliki beberapa luka. Namun Ibu dan Bapa tenang saja, karena putri kalian berhasil selamat." Tak ada ekspresi bahagia yang Dokter itu lihat dari sepasang orang tua di depannya.

"Hanya saja..." Kalimat selanjutnya tampak menggantung. Membuat dua orang itu kembali menoleh pada Dokter itu.

"Kenapa?" Wanita itu bertanya dengan nada tak bersahabat.

"Karena benturan di kepalanya, saraf pendengaran pasien mengalami gangguan. Karena itu, pasien akan mengalami gangguan dalam pendengarannya," jelas Dokter tersebut.

"Jadi maksud anda, anak saya tuli?"

Anak kecil yang tengah duduk di bangku tunggu tersentak kala sang Ayah berucap seperti itu. Jadi adiknya tidak akan bisa mendengar lagi?

"Enggak, enggak mungkin!" Sentak wanita itu menatap nyalang Dokter yang ada di depannya.

"Tutup tentang kecelakaan ini. Saya gak mau karena anak sialan itu, karir saya jadi keganggu." titahnya setelah itu berlalu pergi dari sana.

Sedangkan di sisi lain. Anak kecil yang sedari tadi hanya bisa diam, mengepalkan tangannya saat ibu nya mengatakan hal seperti itu. Ia tak terima adiknya di katakan sebagai pembawa sial.

"Ibu sama Ayah jahat. Gara-gara mereka, Nara jadi kayak gini." Raka bergumam dengan wajah yang sudah basah oleh air mata.

KANARA
21 Januari 2026

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Feb 18 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

KANARADonde viven las historias. Descúbrelo ahora