Episode 1: Warisan Sang Profesor

124 3 2
                                        

Episode 1: Warisan Sang Profesor

Klik, klik, klik, tak.

Suara ketikan keyboard dan klik mouse memecah keheningan kantor di tengah malam. Di ruangan yang sudah kosong, Choi Kang masih berkutat sendirian di depan monitor.

Ia sedang menyusun proposal penerbitan untuk diajukan kepada direktur perusahaan. Kali ini, ia menulis dengan tekad bulat agar idenya lolos. Ia sejenak mengalihkan pandangan dari layar dan meregangkan tubuhnya yang kaku.

Jam di sudut monitor menunjukkan pukul 23:30. Ia begitu tenggelam dalam pekerjaan hingga tak menyadari waktu telah berlalu.

Dari lima puluh naskah yang masuk melalui email, ia telah menyortir sepuluh yang terbaik, dan kini ia sedang menyempurnakan satu proposal utama. Naskah pilihannya berasal dari seorang mantan blogger kuliner yang kini menempuh pendidikan di CIA (Culinary Institute of America), sekolah masak paling bergengsi di Amerika Serikat.

Isinya sangat menarik: membahas bahan makanan yang asing bagi orang Korea, sejarah di balik kuliner dunia, hingga makanan yang muncul di film-film terkenal. Choi Kang yakin buku ini akan meledak di pasaran.

Blogger tersebut memiliki lebih dari 7.000 pengunjung harian, dan komunitasnya sangat aktif dengan rata-rata 80 hingga 100 komentar per postingan. Data ini adalah senjata utama Choi Kang untuk meyakinkan atasannya.

Ia menoleh ke arah tumpukan ratusan proposal lain di mejanya. 'Kali ini, aku pasti akan menerbitkannya.'

Rasa kantuk mulai menyerang. Choi Kang pergi ke toilet untuk membasuh muka. Tiba-tiba ia tersentak melihat air di wastafel berubah menjadi merah. Darah mengalir dari hidungnya. Ia segera menyumbat lubang hidungnya dengan tisu. Setelah beberapa menit, mimisan itu berhenti.

Ia kemudian pergi ke pantry untuk menyeduh kopi, berusaha mengusir lelah yang menggerogoti tubuh. Sepuluh menit kemudian, dokumen itu selesai. Ia mematikan komputer dan bersiap pulang.

Keesokan paginya, setelah rapat redaksi usai, Choi Kang berdiri di atap gedung sambil merokok.

Choi Woo-jong, Manajer Tim Penjualan, mendekatinya. Pria paruh baya berambut abu-abu itu adalah veteran di Penerbit Mirae. Bertahan selama lima tahun di bawah kepemimpinan CEO yang plin-plan membuktikan betapa lihainya pria ini dalam berpolitik kantor.

"Jadi, bagaimana hasilnya tadi?" tanya Manajer Choi sambil menyulut rokok.

Ia merujuk pada rapat redaksi pagi tadi. Choi Kang hanya mengangkat kedua tangannya, membentuk tanda X.

"Sial, padahal aku sudah menyiapkan banyak data kali ini."

"Sayang sekali. Apa alasannya? Masalah 'selera' Bos lagi?"

"Ya, jawaban klasiknya. Dia bilang naskahnya 'kurang elegan', haha."

"Sudah kuduga," Manajer Choi mengembuskan asap rokoknya. "Kapan Bos kita itu mau sadar?"

"Sepertinya Anda juga punya banyak keluhan, Pak Manajer."

"Tentu saja! Oh, omong-omong, kau ingat buku 『The Future of AI』 yang kau ajukan waktu itu tapi ditolak? Aku dengar buku itu akhirnya diterbitkan oleh Penerbit Hyundai dan sudah terjual lebih dari 50.000 eksemplar."

Mendengar itu, Choi Kang merasa sesak. 'Itu adalah naskah tren AI pertama yang kutemukan di Korea...'

Manajer Choi menepuk bahunya. "Bukan sekali dua kali ini terjadi, kan? Jika aku jadi kau, aku lebih baik keluar dan membangun penerbitanku sendiri."

"Benarkah?" Choi Kang menatapnya terkejut.

"Ah, aku cuma bercanda, Editor Choi," sahut Manajer Choi sambil berjalan turun. "Tapi serius, kau punya mata yang tajam untuk naskah potensial. Aku yakin kau akan sukses jika berdiri sendiri. Aku duluan, ya!"

I Can See Best-Selling BooksStories to obsess over. Discover now