Namaku Arini, aku merupakan anak sulung dari 2 bersaudara, aku mempunyai 1 orang adik perempuan adikku bernama shira. Ayahku bekerja sebagai pedagang asongan di kereta sejak kami masih kecil di tahun 2000an, sedangkan ibuku adalah ibu rumah tangga. Kami hidup sangat bahagia saat itu, ayahku merupakan ayah yang begitu baik dan selalu mengusahakan apapun untuk keluarga kecil kami, walaupun pekerjaan ayah tidak seberapa tapi ayah selalu mengutamakan kebahagiaanku.
Tetapi di sisi lain cara didikan ayah begitu keras, ayah seringkali mengeluarkan kata-kata kasar setiap kali memarahiku, lalu setelah dia menyadari kesalahannya dia meminta maaf dan merasa sangat bersalah karena membuatku menangis. Tetapi ketika dia marah kembali, dia mengulanginya lagi.
Karena hal itu, aku tumbuh sebagai anak yang mudah menangis, sensitif, dan tertutup. Di sisi lain aku adalah anak yang ambisius, aku suka sekali mengejar mimpi yang kurasa itu bukan hal yang mudah untuk digapai. Aku yakin dan percaya semua bisa kuraih asalkan aku mau berusaha dan berdo'a.
Saat itu usiaku baru 5 tahun, aku suka sekali bermain jungkat jungkit, perosotan apalagi ayunan. Aku suka dengan permainan itu karena saat usiaku 3 tahun aku dibesarkan di mampang prapatan, disana ada banyak sekali sekolah Taman Kanak-Kanak. Aku selalu membayangkan betapa bahagianya bisa bersekolah di taman bermain itu. Akhirnya aku meminta disekolahkan di TK oleh ayah. Tetapi ayah tidak menuruti keinginanku, ayah justru memaksaku untuk masuk MI yang pada saat itu setara dengan SD. Ayah bilang supaya aku bisa membaca Al-Qur'an. Apalah arti keinginan orang tua untuk anak sekecil itu. Aku yang saat itu masih begitu lugu dan terlalu kecil, tidak bisa menolak keinginan ayah. Walaupun aku yang kecil dulu juga memiliki keinginan yang sama dengan anak-anak sebayaku. Aku ingin merasakan bermain seperti anak seusiaku pada umumnya. Main perosotan, jungkat jungkit, menyusun puzzle, bernyanyi.
Demi menuruti keinginan ayah, akhirnya aku harus mengubur dalam-dalam mimpiku itu. Aku harus masuk sekolah MI dengan hati terpaksa dan sedih. Bayanganku untuk sekolah di tempat bermain seolah sirna begitu saja.
Pagi itu ibuku mengajakku ke sekolah MI yang ayah inginkan, lalu ada seorang guru paruh baya mengajakku berbicara.
"Kenapa mau sekolah?" tanyanya padaku
"Gatau, emang disuruh aja sama ayah" jawabku murung
Lohh sekolah itu kan kemauan sendiri nak, biar kamu jadi orang yang pintar nantinya "dia berkata sambil tersenyum penuh kasih"
Akhirnya, aku kecil dulu hanya tersenyum simpul, tanpa mengerti apa maksud perkataan guru ini.
Hari pertama sekolah, merupakan hari yang begitu aneh untukku. Kenapa semua terasa begitu asing, aku ga suka tempat ini, ga ada perosotan, jungkat-jungkit, dan ayunan kesukaanku. Isinya hanya lorong sekolah yang sempit dan sesak. Aku pun mencoba berkenalan dengan teman-temanku saat itu, mereka semua memiliki ciri khas masing-masing, ada yang suka dengan tas dorong motif mobil, ada yang suka tas barbie, ada juga yang berpenampilan tomboy, dan masih banyak aneka ragam lainnya. Tetapi aku sangat senang sekali, mereka semua begitu baik padaku.
Tiba-tiba mataku tertuju pada satu laki-laki berkulit coklat dan bertubuh kurus. Dia sedang sibuk membereskan tempat pensil berbentuk mobil warna biru itu, karena penasaran sekali aku hampiri dia. Wahh kulihat tempat pensilnya begitu bagus dan mewah, belum pernah aku melihat ada tempat pensil anak laki-laki sebagus itu. Lalu aku mengambil 1 pensil miliknya tanpa berkata apapun, niatku hanya sekedar melihat sambil bergumam wahh aku mau minta dibelikan ini ke ayah, tetapi dengan galaknya dia memarahiku. Dia begitu jutek kepadaku, aku kesalll.
Hari-hari berikutnya, aku melanjutkan aktivitas sekolahku sebagai anak kelas 1 MI, aku mulai mencari teman-teman sebaya yang kuanggap cocok bermain denganku. Ternyata karena sering bermain petak umpet bersama, aku jadi punya banyak teman yang sangat menyenangkan. Aku bertemu dengan 3 teman sebayaku, namanya : Mina, Riana, Jesslyn. Saat itu, kami membuat gengan namanya si cantik.
Setiap bel istirahat berbunyi kami ber 4 selalu bermain bersama, semua terasa begitu bahagia saat itu. Hari-hariku hanya dipenuhi canda tawa karena semangat bermain bersama mereka. Ada satu momen dimana kami sedang membicarakan gimana sih, gambaran pria masa depan yang kami impikan. Sesosok pangeran tampan, dengan setelah kemeja disertai rompi jas dan dasi, bertubuh kurus tinggi dan berkulit kuning langsat, itulah pangeran impianku.
Saat kami sedang berbincang bersama, aku tiba-tiba berkata "Pangeran?
Yaa itu pria idamanku, sangatlah tampan, dia menggunakan kemeja, tubuhnya tinggi dan kulitnya kuning langsat,yaa mirip mirip artis sinetronlah ucapku sambil membayangkan betapa tampannya pangeranku itu. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak mendengar cerita recehku itu.
Hari ini langit cerah sekali, tapi seperti biasanya aku si anak yang paling malas bangun pagi untuk pergi ke sekolah. Ahh, rasanya terkena air dingin di pagi hari adalah sesuatu yang sangat menyebalkan. Aku seringkali pura-pura demam supaya tidak dipaksa berangkat sekolah, tetapi ayahku selalu memarahiku setiap kali aku ingin tidak masuk sekolah. Lagi-lagi aku harus melawan rasa ngantuk dan malas untuk sekolah.
