PROLOG

769 79 0
                                        

Lampu perpustakaan SMA Pelita sudah mulai meredup, menandakan waktu kunjung akan segera berakhir. Delynn, yang masih berkutat dengan tumpukan proposal di meja pojok, mengusap wajahnya kasar.

​"Capek," bisiknya pada keheningan ruangan.

​Dia baru saja ingin beranjak saat matanya menangkap sesuatu yang tidak ada di sana sepuluh menit lalu. Di atas tumpukan berkasnya, tergeletak setangkai bunga daisy dari kertas origami yang dilipat sangat rapi. Di bawahnya, ada sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang sangat bersih:

"Matahari nggak seharusnya redup cuma karena tumpukan kertas ini. Pulang, ya? Istirahat."

​Delynn tersentak. Dia langsung berdiri, kursi kayu yang didudukinya berderit keras. Matanya menyapu setiap sudut perpustakaan yang remang-remang. Hanya ada barisan rak buku yang bisu. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada pintu yang tertutup.

​Siapa pun yang menaruh ini, dia bergerak seperti bayangan.

​Ini bukan yang pertama kalinya. Minggu lalu, sebuah cokelat hangat muncul di mejanya saat hujan deras. Dua hari lalu, sebuah flashdisk berisi kumpulan suara hujan terselip di dalam buku biologinya. Semuanya tanpa nama. Semuanya hanya meninggalkan satu jejak kecil: aroma peppermint yang samar dan sketsa seekor marmut kecil di sudut kertas.

​Delynn mengambil bunga kertas itu. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar di dadanya, mengalahkan rasa lelahnya. Namun di sisi lain, egonya sebagai Ketua OSIS merasa tertantang.

​"Siapa sih lo?" gumam Delynn. Dia menoleh ke arah jendela besar yang memantulkan bayangan dirinya sendiri.

​Jauh di bawah sana, di lapangan sekolah yang mulai gelap, dia melihat sekelebat bayangan cowok ber-hoodie hitam yang berjalan cepat menuju gerbang belakang. Sosok itu tampak begitu kecil, begitu asing, dan seolah-olah berusaha menyatu dengan kegelapan agar tidak terlihat.

​Delynn mengepalkan tangan yang memegang bunga origami itu. Bukan karena marah, tapi karena penasaran yang mulai membuncah.

​"Oke, Marmut. Lo mau main petak umpet? Gue ladenin."

​Malam itu, Delynn pulang dengan satu misi baru di kepalanya. Bukan tentang rapat OSIS atau ujian semester, tapi tentang mengungkap siapa sosok 'hantu' yang selalu tahu kapan dia butuh penyemangat.

Marmut Kutu BukuHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora