Wulin dan beili

1.4K 97 4
                                        


Awal Mula Pertemuan di Paviliun Salju

​Sepuluh tahun sebelum mereka dikenal sebagai dua pangeran besar, Tang Lici dan Liu Yan hanyalah dua anak laki-laki yang membawa beban berat di pundak mereka. Demi menjaga perdamaian setelah konflik perbatasan yang panjang, raja dari kedua negeri sepakat untuk mengirim putra mahkota mereka belajar di Kuil Awan Putih, sebuah tempat netral di puncak gunung yang memisahkan Wulin dan Beili.

​Tang Lici tiba lebih dulu dengan rombongan yang membawa kain sutra warna-warni dan pedang kayu. Ia adalah anak yang tidak bisa diam, matanya selalu berbinar ingin tahu. Tak lama kemudian, kereta kuda putih dari Beili tiba.

​Liu Yan turun dengan pakaian bulu tebal yang putih bersih. Wajahnya datar, matanya dingin, dan ia bahkan tidak menoleh saat Lici menyapanya dengan lantang.

​"Hei! Aku Tang Lici dari Wulin! Siapa namamu?" seru Lici sambil melambaikan tangan.

​Liu Yan hanya berhenti sejenak, menatap Lici dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu melanjutkan langkahnya tanpa sepatah kata pun. Lici yang terbiasa dipuja di istananya merasa tertantang.

"Cih, pangeran es yang sombong," gerutu lici
​

​Permusuhan kecil itu berlangsung selama berminggu-minggu. Lici selalu mencoba memprovokasi Liu Yan agar bereaksi, namun Liu Yan tetap tenang dengan buku-bukunya. Hingga suatu sore, Lici mencoba mengambil bola yang tersangkut di tengah kolam teratai yang membeku tipis.

​Krak!

​Es pecah, dan Lici yang tidak tahan dingin langsung menggigil hebat di dalam air yang sedingin es. Saat ia mulai kesulitan bernapas karena syok dingin, sebuah tangan menarik kerah bajunya dengan kuat. Itu adalah Liu Yan.

​Dengan susah payah, Liu Yan menarik Lici ke tepi kolam. Alih-alih memarahi Lici, Liu Yan segera melepas jubah bulu mahalnya dan menyelimutkannya ke tubuh Lici yang gemetar.

​"Bodoh," bisik Liu Yan pelan. Itu adalah kata pertama yang diucapkannya pada Lici.

​
​Malam itu, Lici jatuh demam. Di dalam kamar yang remang-remang, ia membuka mata dan melihat Liu Yan sedang duduk di samping tempat tidurnya, dengan telaten mengganti kompres air hangat di dahi Lici.

​"Kenapa kau menolongku? Aku kan selalu mengganggumu," tanya Lici dengan suara serak.

​Liu Yan terdiam sejenak, lalu menatap api kecil di tungku.

"Di negeriku, salju itu indah tapi mematikan. Aku melihatmu seperti api yang hampir padam. Jika api itu padam, tempat ini akan menjadi sangat sepi."liu yan

​Lici tersenyum lemah dan meraih ujung lengan baju Liu Yan.

"Kalau begitu, jangan biarkan aku padam. Jadilah kayu bakarnya." Lici

​
​Sejak saat itu, suasana berubah. Lici mulai mengajari Liu Yan cara memanjat pohon dan teknik dasar pedang Wulin, sementara Liu Yan mengajari Lici membaca rasi bintang dan strategi catur Beili.

​Mereka menanam sebuah benih pohon persik di belakang kuil. Sambil menggali tanah bersama, mereka berjanji

​"Selama pohon ini tumbuh, Wulin dan Beili tidak akan berperang. Dan selama jantung kita berdetak, kita tidak akan menjadi orang asing."

​Itulah awal mula segalanya. Sebuah persahabatan yang lahir dari rasa ingin tahu, diuji oleh bahaya, dan diikat oleh kehangatan di tengah dinginnya gunung salju.

Hari-hari pertama belajar di Kuil Awan Putih adalah masa yang penuh disiplin, namun di sanalah benih-benih perasaan antara Tang Lici dan Liu Yan mulai tumbuh melalui interaksi yang canggung tapi manis.

​Kelas Pertama Kuas dan Pedang
​Guru mereka adalah Bhiksu Mu Chen, seorang petapa tua yang bijak namun sangat tegas. Ia tidak peduli bahwa mereka adalah calon raja; di matanya, mereka hanyalah murid yang harus ditempa.

​
​Pelajaran dimulai setiap pukul lima pagi. Saat lonceng kuil berbunyi, Liu Yan sudah duduk tegak dengan jubah rapi, sementara Tang Lici sering kali masuk ke ruang kelas dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan napas terengah-engah.

​Liu Yan Sangat unggul dalam Kaligrafi dan Sastra. Goresan kuasnya tegas, menunjukkan pengendalian diri yang luar biasa.

​Tang Lici Sangat unggul dalam Seni Bela Diri. Ia tidak bisa duduk diam lebih dari satu jam. Baginya, menghafal kitab kuno adalah siksaan.

​
​Suatu hari, Lici tertangkap sedang menggambar karikatur lucu wajah Bhiksu Mu Chen di pinggiran kitab sucinya. Malangnya, Liu Yan yang duduk di sebelahnya tertangkap sedang melihat gambar itu dan-untuk pertama kalinya-sedikit tersenyum.

​Bhiksu Mu Chen menghukum mereka berdua untuk menyalin 100 bab kitab suci di perpustakaan hingga tengah malam tanpa lampu minyak yang terang.

​"Ini salahmu," gumam Liu Yan sambil terus menulis dengan tenang meskipun jemarinya mulai pegal.

"Ayolah, Yan-er! Kau tadi hampir tertawa, aku melihatnya!" Lici menyenggol bahu Liu Yan, membuat tinta di kertas Liu Yan tercoret.

​Liu Yan menghela napas panjang, menatap coretan hitam itu. Namun, alih-alih marah, ia mengambil kuas Lici.

"Kemarilah. Tulisanmu seperti cakar ayam. Jika Guru melihatnya, kita akan dihukum sampai subuh. Biar aku ajari cara memegang kuas yang benar." Liu yan

​
​Liu Yan bergeser mendekat. Ia memegang tangan Lici dari belakang, membimbing jari-jarinya untuk menggerakkan kuas di atas kertas perkamen.

​Lici yang biasanya banyak bicara tiba-tiba terdiam. Ia bisa merasakan kehangatan napas Liu Yan di dekat telinganya dan aroma wangi kayu cendana yang menenangkan dari tubuh pangeran Beili itu. Jantung Lici berdegup lebih kencang, sebuah perasaan asing yang belum ia mengerti.

​"Tekan sedikit di bagian akhir..." bisik Liu Yan pelan.

"I-iya, aku tahu," jawab Lici gugap, wajahnya memerah hingga ke telinga.

​
​Sebagai balas budi, pada malam harinya, Lici mengajak Liu Yan ke halaman belakang.

"Kau mengajariku menulis, aku akan mengajarimu cara bertahan hidup jika pedangmu patah," ujar Lici dengan bangga.

​Lici mengajari Liu Yan gerakan dasar langkah kaki Wulin yang lincah. Saat Liu Yan hampir terpeleset karena lantai batu yang licin oleh embun, Lici dengan sigap menangkap pinggangnya. Mereka berdiri membeku sesaat, saling bertatapan di bawah sinar bulan.

​"Gerakanmu terlalu kaku, Yan-er. Kau harus mengikuti aliran angin, bukan melawannya," ucap Lici lembut, matanya yang biasa jenaka kini menatap Liu Yan dengan penuh perhatian.

​Dari pelajaran-pelajaran itulah, mereka mulai memiliki "bahasa rahasia".
​Lici sering meninggalkan manisan di meja Liu Yan.
​Liu Yan diam-diam meringkaskan pelajaran sejarah yang sulit agar Lici mudah menghafalnya.

Test cerita baru YANLI
Semoga suka ya guys
Jangan lupa votr and coment ya

Ikatan Dua Naga (YANLI)// ENDStories to obsess over. Discover now