We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bab 1 Pengintaian

32 0 0
                                        

"Shane, itu cewek yang udah bikin kakak lo kehilangan nyawanya." ujar pemuda berkacamata dan memiliki wajah manis karena adanya lesung pipit yang menghiasi wajahnya jika dia tersenyum.

"Untung bukan tipe gue." Pemuda berparas oriental dengan rambut bermodel ala korean style itu membalas sekenanya sambil mengetuk-ngetuk ujung jendela kaca mobilnya.

"Emang selera lo kaya gimana? Jangan bilang kalo lo masih nggak bisa move on dari ipar lo." Sammy menjeda kalimatnya. "Tapi ipar lo itu juga nggak bisa move on dari kakak lo. Yah wajar sih, siapa yang bisa terima kalo suaminya meninggal dengan cara kaya begitu." Matanya melirik ke arah Shane dan melihat sahabatnya masih tak bereaksi. Dengan cekatan ia mencoba mengalihkan pembicaraan, yah bagaimana pun juga dia tahu alasan Shane bisa sampa di titik ini.

"Kalo gue lihat, dia oke juga lho. Pantes juga kalo dia jadi simpenan kakak lo... Eh... " Sammy langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, lagi-lagi dia merasa salah bicara.

"Ehem... Ya, tapi gue akuin si selera kakak lo oke. Hehehe..." Pemuda itu terkekeh sambil menyikut lengan kawannya.

Tapi alih-alih merespond, Shane tak bergeming. Dia tetap fokus pada pandangannya.

Sosok Shane sendiri adalah pemuda berusia 27 tahun yang memilik sikap dingin dan tak pernah takut akan apapun. Fokusnya tak bisa di distrack.

Dalam pengintaian yang mereka lakukan didalam mobil selama beberapa jam ternyata membuahkan hasil juga, apalagi sudah sejak lama mereka berdua tidak pernah melihat penampakan langsung dari wanita yang menggoda kakak Shane, bahkan berakibat kehilangan nyawanya.

Yah- bisa dibilang baru kali ini mereka melihat langsung dengan mata kepala mereka sosok wanita yang memiliki tubuh kecil, bermata bulat lebar, rambut hitam lebat yang seolah tanpa disentuh pun orang juga tahu makna dari 'rambut adalah mahkota kita'.

"Terus habis ini kita mau apain tu cewek?"

"Yah, terserah lo, kalo tujuan awal lo memang buat kasih dia pelajaran, ya gue bantu sebisa gue, Shane." Sammy menyilakan tangannya di atas kemudi sambil sesekali mengetuk-ngetuk dengan jemarinya.

"Kita lihat nanti deh, yang pasti kita udah tahu tempat tinggalnya. Tapi, gue nggak akan cuman kasih pelajaran aja. Mata harus dibayar mata, nyawa juga harus dibayar nyawa."

"Shane-" Sammy terperanjat dan menunjuk ke arah gadis mungil itu.

Seketika itu terlihat sebuah mobil Rubicon berhenti di depan tempat wanita itu berdiri. Dan tak menunggu lama, si wanita yang menggunakan mini dress bodycon warna hitam langsung masuk ke dalam mobil itu dengan menjinjing sebuah handbag kecil.

Setelahnya Shane pun mengambil ponsel miliknya dan mengambil gambar si wanita beserta detail mobil rubicon itu, tentu nomor polisi menjadi target utama dalam pengambilan photo ini. Si pemilik wajah datar tanpa ekspresi itu berdecih ketika melihat wajah di wanita ketika ia zoom di layar pipihnya ini.

Dia bergumam dalam hati, "cantik nggak, menor iya! Cewek berdempul tebel kaya gini memang perlu dilucuti!"

"So, lo masih mau ngikuti Olivia? Kalo iya, lo pake dulu aja mobil ini biar gue pulang pake taksi online." Sammy pun menawari Shane jika sahabatnya ini ingin meminjam mobilnya untuk mengikuti wanita simpanan kakaknya.

"Boleh, gue pinjam dulu ya, Sam- btw thanks ya udah temenin gue sampe sini." Shane pun menepuk pundak Sammy dan kemudian disusul senyuman lepas dari pemuda berkacamata itu. Dan setelahnya dua pemuda itu langsung keluar dari mobil, Shane pindah ke posisi kemudi sedangkan Sammy mengutak-ngatik ponselnya untuk memesan taksi online.

Dalam diam dan hanya dengan suara deru mesin mobil, Shane pun kembali melihat wajah wanita bernama Olivia itu di layar pipihnya. Jempol dan telunjuknya dinaik turunkan untuk melihat dengan jelas wajah wanita itu. Sudut bibirnya terangkat meyungginkan senyuman mengejek.

Amarah yang menggerogoti dirinya masih sangat terasa, apalagi jika teringat sosok sang kakak yang nyawanya melayang karena berurusan dengan wanita ini.

Dia kepal tangannya, pikirannya penuh akan kenangannya bersama sang kakak, Hessel Atama.

Semua yang menimpa diri kakaknya memang adalah kesalahannya sendiri, tapi tidak sepantasnya nyawa seseorang direnggut oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Dan setelah diselidik ternyata semua ini berasal dari sosok wanita penghibur.

Sebagai orang yang terbiasa berkutat dalam dunia maya, bagi Shane tidak sulit untuk menelusuri jejal digital mendiang kakaknya. Apa yang terjadi dan alasan dibalik meninggal kakaknya.

Semuanya dia dapatkan dengan mudah, hanya saja sekarang dia harus memulainya dari sosok wanita ini. Tentu dengan bantuan sahabatnya, karena dia tahu siapa sosok dibalik Olivia.

Drrr....

Drrr....

Lamunan Shane pun langsung buyar ketika dia melihat mobil Rubicon itu kembali lagi. Shane pun langsung menoleh ke arah tempat Sammy masih berdiri menunggu taksi online nya datang. Sammy tak menoleh sama sekali ke arah Shane, bukan karena apa, jika Sammy menoleh itu akan terlihat mencurigakan, kan? Shane yang tadinya hendak menarik persneling mobilnya pun ia urungkan.

Lagi-lagi Shane dibuat terkejut dengan penampilan Olivia yang baru turun dari mobil SUV buatan Amerika itu. Matanya mengerjap seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kali ini sudut bibirnya yang terangkat karena terkejut, alisnya terangkat dan matanya membulat lebar.

"Tuh, cewek kenapa?"

Dear OliviaStories to obsess over. Discover now