Bab 1. HUJAN DAN PENAT

35 5 1
                                        


"Kadang yang penat itu bukan badan, tapi perasaan."

Sirene ambulans meraung panjang, memecah hujan yang turun tanpa jeda siang itu. Air memantul di aspal, memercik saat roda mobil melintas, menutup pandangan bagai tirai abu-abu. Sementara gumpalan awan tebal masih menggantung, membuat langit makin terlihat suram.

Di dalam sebuah ambulans, bau logam, cairan antiseptik, dan keringat bercampur menjadi satu, menciptakan aroma khas yang selalu menempel di hidung dan ingatan Nadhira, seolah sahabat setia yang menemaninya sejak lama.

“Bu, tarik napas, pelan-pelan saja. Iya, seperti itu.” Suara Nadhira yang memberikan arahan pada pasien terdengar tenang, walau sekilas terlihat pelipisnya berdenyut. Kedua tangannya cekatan, satu mengelus perut pasien, satu lagi memastikan infus tetap mengalir. Sementara perempuan awal tigapuluhan di atas brankar itu mencengkeram sprei dengan hingga jemarinya memucat, napasnya terengah, wajahnya basah oleh keringat dan air mata.

“Gimana kondisi pasiennya, Mbak?" ucap Iman, sopir ambulans dari balik kemudi. Suara lelaki itu terdengar sayup karena bersaing dengan gemuruh hujan.

"Rentang kontraksi mulai pendek," sahut Nadhira sambil melirik jam di pergelangan tangannya, "Udah sampai mana, Pak Iman?" sambungnya sedikit cemas.

"Kita sudah melewati pertigaan Jl. Pattimura, Mbak. Sebentar lagi sampai," suara berat Iman terdengar dari arah depan.

Perhatian Nadhira kembali pada pasiennya yang berusaha menahan nyeri saat kontraksi mulai ia rasakan lagi. Dengan suara lembut perempuan itu menenangkan ibu hamil di dekatnya.

"Hampir sampai IGD, Bu. Sabar ya."

Mereka memang sudah terlambat sejak awal, hujan deras membuat jalanan ke arah kota Malang siang itu macet. Sementara jarak klinik Permata dan RSUD Dr. Syaiful Anwar lumayan jauh.

Sebelum berangkat tadi Nadhira sudah menghubungi dokter spesialis kandungan yang sedang bertugas, juga dokter jaga di bagian IGD RSUD Dr. Syaiful Anwar.  Semua berkas untuk rujukan sudah lengkap diurus oleh keluarga pasien. Mereka juga menuju RSUD sebelum ambulan berangkat.

Meskipun begitu, tetap saja detik-detik seperti ini selalu membawa ketegangan dan perasaan cemas yang sama: tidak ada persalinan yang akhirnya benar-benar bisa diprediksi.

Lampu ambulans memantul di gerbang Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar. Begitu kendaraan berhenti di depan IGD pintu belakang langsung dibuka. Udara lembah dan percikan air hujan yang dingin serta basah menyerbu masuk. Nadhira turun lebih dulu, memberi instruksi cepat kepada petugas IGD yang sudah menunggu dengan brankar lain dan segera memindahkan pasiennya.

“Rujukan dari KIA Permata,” ujar Nadhira cepat sambil berjalan di samping brankar, "Ketuban pecah dini, kontraksi tidak teratur, fetal distress sempat terdeteksi, usia kehamilan 36 minggu, pembukaan lengkap,” lapornya singkat.

Lorong IGD dipenuhi suara: langkah cepat, roda brankar berdecit, monitor yang berbunyi ritmis, juga percakapan setengah berbisik yang membuat ruangan tak pernah benar-benar sunyi. Lampu neon memantul di lantai keramik, membuat segalanya tampak pucat dan dingin.

Dokter jaga IGD datang menghampiri. Laki-laki pertengahan duapuluhan yang berwajah serius, fresh graduate sepertinya, mungkin masih koas.

“Kita langsung ke ruang tindakan, obgyn sudah menunggu di sana." Nadhira hanya mengangguk seraya mengekor di belakang lelaki itu.

Untunglah, persalinan berlangsung lancar dan cepat setelah ditangani dokter kandungan. Nadhira membantunya dengan sigap. Gerakannya cepat dan tepat seolah sudah menjadi bagian dari refleks tubuhnya. Tangisan pertama bayi itu membuatnya menarik napas lega. Lengkingan yang keluar dari mulut bayi itu seperti hentakan yang melepaskannya dari ketegangan sejak dalam ambulans tadi.

CINTA DALAM PRAHARAWhere stories live. Discover now