Di tanah Kurukshetra, langit memerah seolah ikut menumpahkan darah yang belum jatuh. Genderang perang bergema, berat dan tak terelakkan, menyusup ke dalam dada setiap jiwa yang masih bernapas.
Ribuan ksatria berdiri saling berhadapan—Pandawa dan Kurawa—masing-masing membawa sumpah, dendam, dan takdir mereka sendiri. Sejarah akan mengingat hari ini sebagai Bharatayudha, perang yang telah tertulis bahkan sebelum anak-anak ini dilahirkan.
Namun, di antara debu dan teriakan, ada satu takdir yang tidak seharusnya berada di sini.
Seorang perempuan berdiri di tepi medan perang, jantungnya berdegup terlalu cepat untuk seorang putri kerajaan. Di balik mata yang tenang, tersimpan ketakutan yang bukan milik dunia ini. Ia mengenakan perhiasan emas dan kain sutra, namun jiwanya gemetar seperti orang asing.
Subhadra.
Nama itu dipanggil dari segala arah.
Nama yang bukan miliknya.
Ia tahu apa yang akan terjadi setelah matahari terbenam. Ia tahu siapa yang akan gugur, siapa yang akan menang, dan siapa yang akan mengorbankan segalanya demi kemenangan yang pahit. Pengetahuan itu menghantui pikirannya—pengetahuan yang seharusnya hanya dimiliki oleh pembaca kitab, bukan oleh seseorang yang hidup di dalamnya.
“Takdir tidak dapat diubah.”
Kata-kata itu pernah ia baca berulang kali. Dulu, saat perang ini hanya tinta di atas kertas.
Kini, ia berdiri di tengah sejarah yang hidup.
Jika ia diam, sejarah akan berjalan sebagaimana mestinya—penuh darah dan kehilangan. Jika ia bertindak, ia berisiko menghancurkan keseimbangan yang bahkan para dewa pun takut sentuh.
Angin membawa suara kereta perang mendekat.
Di kejauhan, seorang pemanah mengangkat busurnya—sosok yang kelak dicatat sebagai pahlawan terbesar zamannya.
Subhadra mengepalkan tangannya.
YOU ARE READING
Menulis Ulang Bharatayudha
Historical FictionPuspa Satvika hanyalah seorang mahasiswi abad ke-21 yang tenggelam dalam buku-buku sejarah, terutama kisah epik Mahabharata-cerita tentang perang besar, takdir para ksatria, dan cinta yang berakhir tragis. Baginya, Mahabharata adalah kisah masa lalu...
