BAB 1: Sinyal "E" di Tengah Barang Tua

9 2 4
                                        


"Sial, sial, sial!"
Seraphina Morticia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke udara, bergerak memutar seperti sedang melakukan tarian pemujaan kuno. Rambut hitamnya yang panjang berkilau di bawah lampu temaram pasar barang antik, tapi wajah cantiknya tampak sangat gusar.
"Kenapa di tempat ini sinyalnya cuma 'E'? Ini tahun berapa sih? Zaman kegelapan?!" Sera menggerutu. Sebagai vampir yang sudah hidup dua abad, dia tahu betul rasanya zaman kegelapan, dan percayalah, tidak ada yang lebih gelap daripada gagal mengunggah video reels tentang 'Vampire Night Routine'.
Sera melangkah lebar, mengabaikan debu yang menempel di gaun hitam mahalnya. Dia tidak sabaran. Dia butuh tripod perunggu abad ke-19 untuk konten berikutnya. Kakinya berhenti di depan sebuah toko pojok yang sangat berantakan. Namanya: Pojok Antik Arlo.
Di dalam toko, seorang laki-laki bernama Arlo sedang menunduk sangat dalam. Dia sedang berusaha memperbaiki sebuah jam saku dengan obeng kecil. Arlo adalah definisi dari ketenangan—atau lebih tepatnya, dia adalah orang yang akan bersembunyi di balik lemari kalau mendengar suara petir.
BRAK!
Pintu toko didobrak. Arlo tersentak kaget sampai obengnya terbang dan hampir mengenai hidungnya sendiri.
"Hah! Sinyal!" teriak Sera girang sambil melihat bar ponselnya naik menjadi dua. "Eh, kamu! Pemilik toko? Kamu punya tripod perunggu yang kakinya berbentuk cakar naga?"
Sera tidak menunggu jawaban. Dia langsung menyalakan kamera ponselnya, mengarahkan lampu flash yang sangat terang ke arah Arlo. "Halo followers-ku! Lihat, aku baru saja menemukan toko barang antik yang super hidden gem..."
Arlo membeku. Matanya melebar melihat lensa kamera yang menunjuk tepat ke arahnya. "K-k-kamera?" suaranya mencicit. Jantungnya berdegup kencang. Baginya, kamera adalah monster yang bisa mencuri jiwanya—atau setidaknya, merusak kenyamanan dunia introvertnya.
"Jangan... tolong... jangan arahkan itu ke saya," Arlo mencoba menutupi wajahnya dengan sapu tangan, badannya gemetar.
"Duh, jangan malu-malu! Kamu masuk ke frame sedikit saja biar estetik," Sera mendekat dengan cepat, tidak memedulikan ketakutan Arlo. "Ayo, mana tripodnya? Cepat, aku nggak punya banyak waktu sebelum kuota malamku habis!"
Tepat saat Arlo hendak kabur ke belakang meja, seekor kucing pasar berwarna oranye tiba-tiba melompat ke atas etalase kaca di antara mereka.
"Meow!"
Sera langsung mematung. Matanya yang tajam mulai berair. Hidungnya kembang kempis.
"Hatchi!!! Hatchiii!!!"
Sera bersin begitu hebat sampai-sampai tubuhnya terdorong ke belakang. Dan saat itulah, karena saking kuatnya bersin itu, taring putih yang panjang dan tajam menyembul keluar dari gusi atasnya secara tidak sengaja.
Arlo, yang tadi hanya takut pada kamera, kini melihat dua gigi runcing yang berkilau di bawah lampu toko. Dia melihat taring, dia melihat mata Sera yang mendadak kemerahan karena iritasi bulu kucing, dan dia melihat kamera yang masih merekam semuanya.
"V-v-vampir?!" Arlo berteriak dengan suara tinggi yang hampir pecah, lalu matanya berputar ke atas, dan tubuhnya ambruk ke lantai dengan suara berdebam.
Sera mengucek matanya yang gatal, menatap cowok yang pingsan itu dengan bingung. "Lho? Baru juga mau tanya harga, kok sudah tidur siang?"

Cinta KadaluwarsaStories to obsess over. Discover now