Di bawah pohon asam besar di pojok halaman sekolah, Roy dan Sisil duduk berdampingan di bangku kayu yang sudah agak lapuk. Jam istirahat baru saja dimulai, suara ribut anak-anak kelas lain terdengar samar dari kantin. Angin sepoi-sepoi menerpa daun-daun, bikin suasana jadi lebih adem.
Roy, yang pakai seragam kelas 12 dengan lengan baju digulung sedikit, nyenderin punggungnya ke sandaran bangku sambil memandang Sisil. Sisil, anak kelas 11 yang rambutnya diikat ponytail rapi, lagi sibuk membuka kotak bekal yang dibawa dari rumah.
"Sil, kamu bawa apa hari ini?" tanya Roy sambil nyenggol bahu Sisil pelan.
Sisil tersenyum kecil, matanya berbinar. "Ayam goreng sama telur dadar kesukaan kamu. Mamah nanya tadi pagi, katanya 'bikin buat Roy ya, biar tambah semangat belajar'."
Roy ketawa pelan, pipinya agak merah. "Serius? Mamah kamu emang baik banget sih. Aku malu nih."
"Enak aja malu," kata Sisil sambil menyodorkan potongan ayam ke mulut Roy. "Makan dulu, nanti kalau kamu laper di kelas aku yang repot jagain kamu ngantuk."
Roy mengunyah sambil terus memandang Sisil. "Kamu tahu nggak, tiap istirahat gini aku paling seneng. Bisa duduk bareng kamu, ngobrol santai... rasanya dunia cuma kita berdua."
Sisil pura-pura cuek, tapi telinganya ikut memerah. "Lebay ah. Nanti kalau ada temen kamu lewat, malu dilihatin."
"Biarin," jawab Roy sambil merangkul bahu Sisil pelan. "Aku bangga kok punya pacar secantik dan sepandai kamu."
Sisil cuma tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Roy. Mereka diam sejenak, menikmati momen kecil yang terasa begitu berharga di tengah hiruk-pikuk sekolah.
Bel istirahat pun berbunyi panjang, menandakan waktu untuk kembali ke kelas. Roy dan Sisil bangun dari bangku kayu itu dengan agak enggan. Roy menggenggam tangan Sisil sebentar sebelum melepaskannya.
"Aku ke kelas dulu ya," kata Roy lembut. "Nanti pulang jemput kamu di gerbang, oke?"
Sisil mengangguk sambil tersenyum. "Oke. Jangan ngantuk di kelas ya, Roy."
Mereka berpisah di koridor. Roy naik ke lantai atas menuju kelas 12 IPA-1, sementara Sisil berjalan ke kelas 11 IPS-2 di lantai bawah.
Sepanjang pelajaran, pikiran Roy melayang-layang. Saat Bu Guru lagi nerangin rumus fisika di papan tulis, matanya menatap kosong ke jendela. Dia teringat senyuman Sisil tadi, cara Sisil menyodorkan ayam goreng, dan kepala Sisil yang bersandar di bahunya. "Cute banget sih dia," gumam Roy dalam hati sambil tersenyum sendiri. Teman sebangkunya nyenggol, "Eh lo kenapa senyum-senyum? Lagi mikirin cewek ya?" Roy cuma geleng-geleng sambil ketawa kecil.
Di kelas lain, Sisil juga nggak kalah. Saat pelajaran sejarah, dia asyik mencoret-coret di pinggir buku catatannya: inisial "R ♥ S" kecil-kecil. Guru lagi cerita tentang perjuangan kemerdekaan, tapi pikiran Sisil malah ke momen tadi di bawah pohon asam. "Roy pasti lagi fokus belajar buat ujian nanti," pikirnya bangga. Tapi diam-diam dia juga deg-degan mikirin pulang nanti—mereka janji mau mampir ke warung es di dekat sekolah bareng.
Hari berlalu lambat sekali rasanya. Setiap kali bel istirahat kecil berbunyi, Sisil diam-diam berharap bisa ketemu Roy sebentar di koridor, tapi hari ini jadwal mereka nggak nyambung. Roy juga sama, sesekali ngintip ke bawah dari jendela kelas, berharap lihat Sisil lewat.
Akhirnya, bel pulang berbunyi. Roy buru-buru merapikan tasnya, bahkan ninggalin teman-temannya yang masih ngobrol. Dia turun tangga dua-dua anak, langsung menuju gerbang sekolah.
Di sana, Sisil sudah nunggu sambil berdiri di bawah pohon waru dekat pos satpam. Begitu lihat Roy datang sambil setengah lari, wajah Sisil langsung berbinar.
"Kangen nggak dari tadi?" tanya Roy sambil langsung merangkul bahu Sisil begitu sampai di sampingnya.
"Kangen banget," jawab Sisil jujur, lalu mereka berdua ketawa sambil berjalan keluar gerbang, tangan saling bergandengan.
Roy dan Sisil berjalan pelan di trotoar sambil tangan mereka masih saling genggam. Matahari sore masih cukup terik, tapi angin mulai sejuk. Mereka melewati deretan warung es dan gorengan yang biasa ramai anak sekolah, tapi hari ini Roy kayaknya nggak tertarik mampir ke tempat biasa.
"Sil," kata Roy sambil melirik pacarnya, "mau langsung pulang apa... kita nongkrong dulu? Aku pengen yang agak tenang gitu, bisa ngobrol berduaan aja."
Sisil langsung tersenyum lebar, matanya berbinar. "Mau banget! Tapi kemana? Kalau ke warung es depan gerbang kan pasti rame banget sama anak-anak sekolah lain."
Roy mengangguk, mikir sebentar. "Hmm... aku ada ide. Kamu inget nggak taman kecil di belakang perpustakaan kota? Yang deket sungai kecil itu. Jarang ada orang sore-sore, apalagi kalau nggak akhir pekan."
Sisil langsung ingat. "Yang ada ayunan sama bangku-bangku kayu di bawah pohon mangga besar itu? Iya! Kita pernah lewat situ pas pulang bareng kan. Tenang banget, cuma ada suara air sungai sama burung."
"Betul," Roy nyengir sambil menarik tangan Sisil lebih dekat. "Di sana kita bisa duduk lama-lama, nggak ada yang ganggu. Aku bawa duit cukup kok, nanti kita beli es teh sama gorengan di warung depan taman, terus makan di sana."
Sisil mengangguk antusias. "Oke! Aku suka ide itu. Bisa curhat-curhat juga, kan kemarin kamu bilang ada yang mau cerita soal ujian nasionalmu."
Roy tertawa pelan. "Iya, nih. Pengen cerita sama kamu aja, biar nggak stres. Kamu juga cerita dong soal kegiatan OSIS kalian yang lagi ribet itu."
Mereka langsung belok ke arah jalan yang menuju taman tersebut. Jaraknya nggak terlalu jauh dari sekolah, cuma sekitar 15 menit jalan kaki. Sepanjang jalan, mereka sesekali saling pandang dan tersenyum, excited banget karena akhirnya bisa punya waktu berduaan yang beneran privat.
YOU ARE READING
My Kisah
Romancecerita fantasi seksual anak SMA yang penasaran dan ingin mengeksplorasi lebih jauh keintiman
