Hari Pertama yang Terlihat Biasa
Pagi di rumah Wiratama selalu dimulai dengan sunyi.
Bukan karena rumah itu kecil—justru terlalu besar. Terlalu luas untuk tiga anak yang tumbuh lebih sering ditemani pengasuh dan dinding marmer daripada orang tua mereka sendiri.
Aurelia Naya Wiratama berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan seragam putih abu-abu yang jatuh pas di tubuhnya. Rambut hitamnya diikat rendah, sederhana. Tidak ada aksesoris mencolok. Tidak ada tanda bahwa ia adalah anak bungsu dari keluarga pemilik Wiratama Group.
“Udah siap belum, Nay?” suara Rayhan terdengar dari balik pintu.
Naya mendesah kecil.
“Masuk aja, Ray. Pintu gak dikunci.”
Aurelian Rayhan Wiratama masuk dengan tas selempang disampirkan asal, rambutnya masih sedikit berantakan. Seragamnya rapi—cukup rapi—tapi dasi longgar sedikit, khas Ray.
“Kelas sebelas, nih,” katanya sambil nyengir. “Akhirnya jadi kakak kelas juga.”
Naya meliriknya datar.
“Kakak kelas yang suka bolos upacara.”
“Tenang aja,” Ray mengangkat bahu. “Sekarang kan kakak sulung kita ketua OSIS. Masa iya gue bikin malu keluarga.”
Kalimat itu baru saja keluar ketika pintu kamar di seberang terbuka.
Ardian Raka Wiratama muncul dengan seragam sempurna—dasi lurus, sepatu mengilap, rambut disisir rapi. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tegas.
“Kalian berdua,” katanya singkat, “turun sekarang. Sopir nunggu.”
Ray refleks berdiri lebih tegak.
“Siap, Ketua OSIS.”
Raka melirik tajam.
“Jangan bercanda.”
Naya menahan senyum. Momen-momen kecil seperti ini adalah bukti bahwa, sesibuk apa pun orang tua mereka, rumah ini tetap hidup. Tidak hangat dengan pelukan setiap pagi, tapi cukup dengan kehadiran satu sama lain.
Di meja makan, sarapan sudah tersaji rapi. Seperti biasa, hanya mereka bertiga.
Tidak ada ayah yang membaca berita bisnis.
Tidak ada ibu yang mengingatkan jadwal.
Hanya pesan singkat di ponsel Naya.
Mama:
Good luck hari pertama kelas 11. Jaga diri, ya.
Naya menatap layar itu sebentar sebelum menguncinya kembali.
“Udah makan,” Raka berkata tanpa menoleh. “Hari ini gue gak bisa antar keliling. Ada agenda OSIS.”
Ray mengunyah rotinya.
“Tenang aja, Kak. Gue jagain bungsu kesayangan keluarga.”
Naya menyikut lengannya.
“Gue bisa jaga diri sendiri.”
Mobil hitam itu melaju keluar gerbang besar rumah Wiratama. Begitu melewati beberapa blok, mereka berganti ke mobil yang jauh lebih sederhana—permintaan Raka sendiri.
“Sekolah biasa, hidup biasa,” katanya dulu. “Nama Wiratama gak perlu dibawa masuk.”
SMA Negeri itu tampak ramai. Siswa-siswi berdatangan dengan tawa, obrolan, dan wajah-wajah penuh semangat tahun ajaran baru.
Begitu turun dari mobil, beberapa pasang mata langsung tertuju ke arah Raka.
“Eh, itu Ketua OSIS baru, kan?”
“Yang kelas dua belas?”
“Gila, auranya beda.”
Raka melangkah lebih dulu, tegap dan tenang, langsung menuju gedung utama.
Ray mencondongkan badan ke Naya.
“Tuh kan. Kakak kita fandomnya udah kebentuk.”
Naya menghela napas pelan.
“Makanya gue males satu sekolah sama dia.”
“Padahal enak,” Ray terkekeh. “Kalau ada apa-apa—”
“—gue gak mau pakai nama dia,” potong Naya cepat. “Kita udah sepakat.”
Ray mengangguk.
“Sepakat. Kita cuma Ray dan Naya. Bukan Wiratama.”
Di papan pengumuman, nama mereka terpampang.
XI IPA 2 – Aurelia Naya Wiratama
XI IPA 2 – Aurelian Rayhan Wiratama
“Kita sekelas,” Ray tersenyum puas. “Takdir emang nyuruh gue jaga lo.”
“Atau nyuruh gue sabar,” balas Naya.
Ruang kelas XI IPA 2 penuh suara. Bangku-bangku berderit, siswa saling berkenalan. Beberapa melirik Naya—biasa saja. Tidak ada tatapan istimewa.
Dan Naya menyukainya.
Ia duduk di dekat jendela, Ray di sebelahnya. Angin pagi masuk pelan, membawa aroma halaman sekolah.
“Kayaknya tahun ini bakal seru,” Ray berbisik.
Naya menatap keluar jendela, ke lapangan olahraga tempat beberapa siswa sedang berlatih basket.
“Semoga,” jawabnya pelan.
“Gue cuma mau hidup normal.”
Tanpa ia sadari, di lantai atas gedung OSIS, Raka berdiri memandang ke arah kelas adik-adiknya. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya penuh perhitungan.
Hari pertama selalu terlihat biasa.
Padahal, bagi keluarga Wiratama,
hari-hari biasa sering kali menjadi awal dari sesuatu yang besar.
Satu Paket yang Tak Terpisahkan
Hari pertama sekolah selalu diakhiri dengan rasa capek yang aneh—bukan karena pelajaran, tapi karena harus menyesuaikan diri dengan dunia yang kembali ramai.
Aurelia Naya Wiratama duduk di bangkunya, menatap buku kosong di hadapan. Guru belum masuk, kelas XI IPA 2 masih riuh dengan obrolan acak. Rayhan menyandarkan punggung di kursinya, kaki disilang santai, memperhatikan sekeliling seperti sedang menonton pertunjukan gratis.
“Nay,” bisiknya, “gue kasih waktu tiga hari.”
“Tiga hari buat apa?” Naya tak menoleh.
“Buat lo punya temen baru. Kalau lewat tiga hari lo masih sendirian, berarti aura dingin lo kebangetan.”
Naya mendengus.
“Gue bukan gak mau punya temen. Gue cuma gak mau ribet.”
Ray tersenyum miring.
“Masalahnya, hidup lo ribet dari lahir.”
Belum sempat Naya membalas, sebuah suara ceria menyela.
“Eh, boleh duduk sini gak?”
Naya menoleh. Seorang cewek berambut sebahu, wajahnya cerah, senyumnya lebar, sudah berdiri di samping bangku mereka tanpa rasa sungkan.
“Oh—boleh,” jawab Naya refleks.
Cewek itu langsung duduk di bangku depan mereka, memutar badan menghadap ke belakang.
“Gue Keisya. Keisya Maharani Putri.”
Ray langsung mengangguk ramah.
“Ray. Ini Naya.”
Keisya mengedarkan pandangan cepat.
“Kalian kembar ya?”
Ray tertawa kecil.
“Ketauan, ya?”
“Soalnya vibes-nya mirip,” Keisya menyeringai. “Cuma beda tipe. Yang satu kelihatan kalem, yang satu kelihatan bakal sering ke BK.”
“Fitnah,” Ray pura-pura tersinggung.
Naya menahan senyum. Ada sesuatu dari Keisya yang… ringan. Tidak mengintimidasi. Tidak sok kepo.
Beberapa menit kemudian, seorang cewek lain mendekat. Hijabnya rapi, wajahnya tenang, matanya tajam tapi hangat.
“Maaf,” katanya sopan. “Ini bangku kosong?”
“Iya, kosong,” jawab Naya cepat.
Cewek itu duduk di sebelah Keisya.
“Zahra. Zahra Aulia Ramadhani.”
“Keisya,” sahut Keisya cepat. “Yang ini Naya, itu Ray. Mereka satu paket.”
Ray mengangkat tangan kecil.
“Resmi.”
Zahra tersenyum tipis.
“Kelihatan.”
Sejak itu, obrolan mengalir tanpa dipaksa. Mulai dari jadwal pelajaran, guru galak, sampai kantin mana yang makanannya paling bisa dimakan.
Ray sering nyeletuk.
Keisya menimpali.
Zahra sesekali mengomentari dengan tenang.
Dan Naya—yang biasanya hanya menjawab seperlunya—mulai ikut tertawa.
Di jam istirahat, mereka bertiga—empat, termasuk Ray—duduk di bawah pohon besar dekat kantin.
“Naya, lo dari SMP mana?” tanya Keisya sambil membuka bekalnya.
“SMP negeri juga,” jawab Naya. “Pindahan.”
“Ray juga?” Zahra melirik.
Ray mengangguk.
“Kami berdua selalu bareng.”
Keisya menyipitkan mata.
“Selalu?”
“Selalu,” jawab Ray mantap. “Kalau Naya pindah, gue ikut. Kalau gue pindah, Naya ikut. Gitu dari kecil.”
Naya memutar mata.
“Gak segitunya.”
Ray meliriknya.
“Lo lupa pas SD?”
Zahra tertarik.
“Apa yang terjadi pas SD?”
Ray tersenyum kecil, kali ini lebih lembut.
“Naya gak mau masuk kelas kalau gue gak di sampingnya.”
Keisya menutup mulut, gemas.
“Serius? Lucu banget.”
Naya memalingkan wajah.
“Itu karena lo telat.”
“Tetep aja,” Ray menimpali. “Lo nangis.”
Keisya langsung tertawa.
“Gila, gue suka kalian.”
Naya diam. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa risih dengan kata suka.
Di hari-hari berikutnya, kebiasaan itu terbentuk dengan sendirinya.
Berangkat bareng.
Pulang bareng.
Duduk bareng.
Keisya jadi pengisi suara di sela kesunyian Naya.
Zahra jadi penyeimbang, sering menyadari hal-hal kecil yang luput dari yang lain.
Dan Ray—Ray tetap di sisi Naya, seperti bayangan yang tak pernah tertinggal.
Suatu sore, saat mereka duduk di tangga belakang gedung, Keisya tiba-tiba berkata,
“Gue perhatiin deh, Naya jarang ngomong soal keluarga.”
Naya terdiam sepersekian detik.
Ray yang menjawab.
“Keluarga kami ribet.”
Keisya mengangguk paham, tidak memaksa.
“Gak apa-apa. Semua orang punya hal yang gak pengen dibagi.”
Zahra menatap Naya sekilas, lalu tersenyum kecil.
“Yang penting sekarang, kita temenan.”
Naya menatap mereka bertiga. Keisya dengan tawanya, Zahra dengan ketenangannya, dan Ray—yang sejak lahir tak pernah benar-benar meninggalkannya.
“Iya,” kata Naya pelan.
“Kita temenan.”
Ray menyenggol bahunya.
“Dan ingat, Nay.”
“Apa?”
“Lo gak sendirian.”
Untuk pertama kalinya sejak lama, Naya percaya kalimat itu sepenuhnya.
Karena bagi dunia, mereka mungkin terlihat biasa.
Tapi bagi Naya, hari-hari ini adalah rumah kecil—
tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa embel-embel nama besar.
Dan Ray?
Ray adalah bagian dari hidupnya yang tak pernah bisa dilepas.
YOU ARE READING
DI BALIK NAMA WIRATAMA
Teen FictionAurelia Naya Wiratama bukan siswi istimewa di mata sekolahnya. Ia bersekolah di SMA biasa, mengenakan seragam yang sama, duduk di bangku kelas yang sama-tanpa ada yang tahu bahwa namanya terikat pada salah satu kelompok konglomerat terbesar di neger...
