01 - Meet Ghanis and Mavi

95 13 11
                                        

Di bawah langit cerah sore ini, pertandingan basket antar sekolah berlangsung. Cewek dengan rambut di-kucir kuda itu cukup mencolok di antara penonton lainnya. Selain karena parasnya yang menarik, suara melengkingnya nggak berhenti neriakin satu nama, Mavian.

Ghanistha Mayang Anaya, cewek yang akrab disapa Ghanis itu sekarang duduk di bangku SMA kelas 2 jurusan MIPA. Sementara Mavian Kaiga Prabu Parameswara—yang dari tadi namanya keluar dari mulut Ghanis—adalah kakak kelasnya dari kelas IPS.

Ghanis udah naksir Mavi sejak hari pertama sekolah setelah Jihan maksa dia nonton pertandingan basket hari itu. Tapi sayangnya, Mavi nggak pernah sekalipun ngelirik Ghanis.

Miris ya?

"Simpen dikit napa sih suaranya? Nggak capek apa?" keluh Jihan yang juga nonton pertandingan sore itu. Kelihatannya si Jihan juga nyesel bawa Ghanis ke pertandingan basket waktu itu kalau jadinya bucin gila begini.

"Demi kak Mavi, gue nggak akan diem," kata Ghanis.

"Bagus kalau di-notice. Lah ini nggak," ejek Jihan.

"Akan ada masanya, anak muda." Ghanis nepuk pundak Jihan.

Pertandingan berakhir dengan kemenangan sekolah Ghanis yang bikin cewek itu makin menggila karena Mavi jadi pencetak skor terbanyak. Dia langsung nyamperin Mavi buat ngasihin botol minum.

"Kak Mavi! Ini buat kak Mavi," katanya sambil nyodorin botol air mineral.

Mavi ngelihatin Ghanis dengan tatapan males. "Lo nggak capek ya?" tanyanya.

"Hm? Gue mah tinggal nonton doang kak. Harusnya gue yang tanya ke lo," jawab Ghanis polos.

Mavi hela napas pasrah dan nerima botol air dari Ghanis. Bukan itu maksudnya.

"Makasih," kata Mavi.

"Sama-sama kak!" seru Ghanis. "Lo pulangnya masih lama nggak kak?" tanyanya.

"Nggak tau," jawab Mavi seadanya.

"Nebeng dong kak, please," pinta Ghanis dengan raut memelas. "HP gue lowbatt, nggak bisa pesen ojol," katanya sambil nunjukin layar HP.

Ini percobaan ke-25 Ghanis minta tebengan ke Mavi—24 percobaan sebelumnya ditolak terus.

"Helm gue cuma 1," tolak Mavi untuk ke-25-kalinya.

"Oh! Gue ada helm kak. Biar Ghanis pake aja," sela Jihan. Emang temen baik dia ni.

Mavi mengernyit. "Terus lo?" tanyanya.

"Tadi dianter abang pake motor, nanti dijemput papa pake mobil kok," jelas Jihan.

"Nggak usah deh Ji, gue bisa naik angkot," kata Ghanis. "Ya walaupun habis itu gue harus jalan dari depan perumahan ke rumah gue yang posisinya paling ujung sih."

"Aduh kasian banget temen gue. Mau nebeng gue aja?" tawar Jihan basa-basi.

"Jangan, papa lo pasti capek pulang kerja. Mana rumah kita nggak searah," tolak Ghanis.

Mavi hela napas berat. "Sama gue," katanya.

"Beneran kak?" tanya Ghanis dengan mata berbinar. Nggak nyangka akting sama Jihan kali ini membuahkan hasil.

"Gue ganti baju dulu," kata Mavi yang setelahnya pergi.

Ghanis hentak-hentak kaki berulang setelah Mavi hilang dari pandangan. "Ji gue nggak mimpi kan Ji?" katanya.

"Alhamdulillah ada kemajuan," kata Jihan.

"Besok nikah pake adat apa ya, Ji?" kata Ghanis.

"Sinting lo ya," cecar Jihan.

***

Ghanis deg-degan banget nungguin Mavi ganti baju. Sekarang dia sendirian di tribun karena papa Jihan udah jemput 3 menit yang lalu.

"Ayo." Suara Mavi bikin Ghanis sadar dari lamunan.

Mavi udah wangi dan cakep dalam balutan seragam putih abu-abu. Tangan kanannya bawa helm, sedangkan tangan kirinya nenteng ransel yang kelihatannya sih kosong.

"Let's go!" seru Ghanis seolah dia nggak deg-degan sama sekali.

Dia jalan ngekorin Mavi ke parkiran motor sambil ngelihatin punggung lebar Mavi.

"Gue lagi nggak pengen ngobrol," kata Mavi waktu sampai di depan motornya.

Ghanis ngangguk patuh sambil bikin gestur ngunci mulut. Dia emang bawel, tapi nggak susah dibilangin kok—kecuali dibilangin buat berhenti suka Mavi, nggak bakal nurut.

Ghanis naik setelah Mavi mempersilahkan lewat tatapan mata. Mavi emang nggak banyak ngomong, tapi itu yang bikin Ghanis makin suka.

Sepanjang jalan, Ghanis bener-bener tutup mulut. Sesekali dia senyum di balik kaca helmnya karena seneng akhirnya bisa diboncengin Mavi setelah percobaan ke-25.

Tanpa Ghanis sadari, Mavi sesekali ngelirik Ghanis lewat spion. Kaca helm Mavi yang gelap bikin cewek itu nggak sadar sama sekali.

"Kak maaf gue ajak ngomong, boleh nggak agak kencengan?" kata Ghanis ragu. "Gue kebelet boker."

Mavi geleng tipis dan langsung naikin kecepatan motornya.

'Kok bisa gue punya adek kelas nggak ada jaimnya begini,' batin Mavi sepanjang jalan.

***

"Makasih banyak ya kak!" seru Ghanis sambil lambai tangan setelah turun dari motor Mavi. "Gue masuk dulu kak, udah di ujung tanduk!"

Lagi-lagi Mavi dibuat heran.

°°°

Get to Know the Cast!

Mavian Kaiga Prabu Parameswara“Sama gue

Oops! Ang larawang ito ay hindi sumusunod sa aming mga alituntunin sa nilalaman. Upang magpatuloy sa pag-publish, subukan itong alisin o mag-upload ng bago.

Mavian Kaiga Prabu Parameswara
“Sama gue.”

Author's Note :
Heyo, oll! Ketemu lagi dengan bigassarduino_ dan cerita dengan cast ATEEZ-nya. Siapa kemarin yang nyariin Mingi? 🙋🏻‍♀️

Aku lagi pengen coba karakter baru nih. Siap-siap sama main character cewek gragas ya guys 😭

Di cerita ini, aku pake sistem kelas jaman aku SMA yang masih terbagi MIPA, IPS, dan bahasa yaa. Soalnya aku kurang paham sama sistem yang sekarang. Udah dihapus bukan sih kelas peminatan?

Anyway, enjoy the story yaa guys! Don't forget to stay safe, stay healthy, and be happy, y'all!

Do We Have a Chance? | S. MingiMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon