*flashback
Semua berawal dari sana. Kalau saja hari itu aku tidak mendengar celotehan dua manusia di barisan belakang saat jam istirahat, mungkin semesta tidak akan repot-repot menyeret kita ke dalam labirin cerita sejauh ini. Obrolan yang semula hanya terdengar seperti angin lalu itu sukses membuatku dan sahabatku tertawa, hingga akhirnya kami memutuskan untuk menoleh dan terjun dalam diskusi konyol mereka.
"Tapi, serius... di agama lo, pintu surga itu ditarik apa didorong?" "Digeser kayaknya, biar lebih efisien."
Tawa kami pecah. Namun, di balik tawa itu, siapa yang menyangka bahwa pertanyaan tentang "pintu surga" adalah awal dari perjalanan panjang di mana kami sendiri tidak tahu pintu mana yang akan terbuka untuk kami di akhir cerita.
________________________________________________________________________________
Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah gorden, membelah kegelapan kamar dan mendarat tepat di kelopak mata seorang gadis yang masih terlelap. Dalam tidurnya, ia sedang berdansa di sebuah aula istana bersama pangeran impiannya. Namun, alunan musik dansa itu seketika berubah menjadi dentuman keras yang berasal dari pintu kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
"HEY, PUTRI TIDUR! CEPAT BANGUN SEBELUM BUNDA BERUBAH JADI KODOK DAN MENCIUMMU BIAR BANGUN!"
Gadis itu tersentak. Jantungnya berpacu karena kaget. Dengan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi, ia langsung melompat dari kasur dan berdiri tegak seperti prajurit. Namun, sedetik kemudian, dunianya berputar hebat. Tekanan darahnya yang rendah memang selalu menjadi musuh nomor satu di pagi hari. Pandangannya menggelap, kepalanya terasa seringan kapas, dan—brukk!—ia jatuh tersungkur kembali ke atas kasur empuknya.
"SIAL! DARAH RENDAH INI MEMBUATKU KEMBALI JATUH KE KASUR, BUNDA!" teriaknya dengan suara serak khas bangun tidur.
Di balik pintu, suara tawa Bunda terdengar renyah. Beliau sudah sangat hafal dengan bunyi "jatuh" yang dihasilkan anaknya setiap pagi. Ritual "bangun-tegap-lalu-tumbang" itu sudah seperti tradisi wajib bagi sang anak.
"Cepat turun. Sarapan sudah siap di meja. Kalau telat sepuluh menit lagi, dua monster di bawah bakal menghabiskan bagianmu tanpa sisa!" seru Bunda dari arah tangga.
Gadis itu hanya menghela napas, menunggu pening di kepalanya reda sebelum beranjak perlahan menuju kamar mandi. Hari ini bukan hari biasa. Ini adalah hari pertama ia menyandang status sebagai siswi kelas sebelas di Shinestar High School . Ada kebanggaan tersendiri saat ia memasangkan pita berwarna kuning di kerah seragamnya, menggantikan pita biru yang sudah ia pakai selama setahun penuh.
Hierarki Warna Shinestar:
· Kelas 1 (Pita/Dasi Biru): Si anak baru yang masih bingung arah kantin.
· Kelas 2 (Pita/Dasi Kuning): Penguasa tengah lapangan yang mulai berani.
· Kelas 3 (Pita/Dasi Merah): Sang senior yang selalu terlihat buru-buru.
Meja Makan dan Rivalitas Abadi
"SELAMAT PAGI DUNIA! SELAMAT PAGI AYAH, BUNDA, DAN ABANGKU YANG PALING... BIASA AJA!"
Teriakan gadis remaja itu membuat suasana ruang makan yang semula tenang langsung pecah. Ayah dan Bunda hanya saling lirik sambil tersenyum maklum, sementara laki-laki di depan gadis itu hanya mendengus sinis sambil merapikan dasi merahnya yang sudah rapi sempurna.
"Masih pagi, Zeyyana Van Airy Putri Wirawan. Enggak usah bikin polusi suara. Telinga gue butuh ketenangan bukan polusi suara dari lo"tegur sang abang dingin.
YOU ARE READING
DUA CAKRAWALA
Teen Fiction"Di sekolah yang sama, kita belajar tentang dunia yang luas. Namun di hadapan Tuhan, kita belajar bahwa dunia kita ternyata berbeda." Bagi Zeyyana, sekolah bukan sekadar tempat mengejar nilai, melainkan panggung untuk keceriaan yang meledak-ledak. N...
