Luka Pertamaku-1

6 0 0
                                        

Hai gayss, maap yaa kalo part  / update an sebelumnya aku hapus. Soalnya aku mau memperbaiki tulisanku yang masih acakadut itu. Oke, daripada banyak kalimat basa basi, yuk langsung ke ceritanya aja yaaa.











happy reading















Matahari terbit perlahan dari arah timur  sembari memancarkan sinarnya yang menghangatkan. Diiringi dengan suara kokokan ayam, dan kicauan burung-burung yang sedang bercengkerama di dahan pohon. Pada waktu ini, orang-orang mulai terbangun dari tidur lelapnya dan siap untuk melakukan aktivitas pada hari ini. Semua lampu rumah satu persatu dimatikan, digantikan dengan cerahnya langit biru yang sangat indah dan memanjakan mata.


‎Di sebuah rumah yang megah di pusat kota, sebuah keluarga kecil sedang sarapan bersama. Meskipun kebersamaan yang sedang terjadi ruang makan di rumah megah mereka, keheningan di antara orang tua dan satu anak tersebut terasa dingin dan tidak nyaman. Tidak ada sapaan yang tulus, tidak ada obrolan hangat, tidak ada candaan yang menghangatkan suasana, yang ada hanya dua orang dewasa yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan satu remaja yang sibuk memakan makanannya. Setelah selesai makan, dia langsung berpamitan kepada mereka,  walaupun sebenarnya sangat malas sekali. Supir mengemudikan mobilnya menuju sebuah sekolah elite yang tidak jauh dari rumah, mungkin sekitar 20-30 menit dari rumah. Setelah mobil sampai di gerbang sekolah, dia langsung bergegas menuju ke kelasnya. Saat sampai di kelas, suara familiar menyambut kedatangannya.

‎"Hai Nindy!! good morning" ternyata itu adalah suara sahabatnya, Tasya.

‎"Oh, hai bestyy!!! good morning" balasnya.

‎"Eh, gue ada bahan ghibah tau" ~Tasya.

‎"Eh iyaa? bahan ghibah apa tuh?" tanyanya.

‎"lo masih inget kan teman lo yang kelas 7 itu?" tanya Tasya.

‎"inget, emang kenapa?" karena sangat  penasaran, yasudah tanyakan saja.

‎"perilaku dia tuh aneh banget tau" ucap Tasya.

‎Mendengar ucapan Tasya, alisnya langsung mengkerut, otaknya dibuat terheran-heran dan menerka apa yang Tasya maksud aneh.

‎"hah? emang kenapa?" tanyanya spontan, karena memang sudah kelewat kepo.

‎"Pokoknya dia tuh aneh! Ga ada angin ga ada hujan, tiba-tiba perhatian sama gue" jawab Tasya.

‎"emang perhatian yang kayak gimana?"

‎"Tiba-tiba ngasih snack, makanan, susu, minuman. Tapi ngasihnya ga secara langsung sih, cuma ditaruh di meja gue dan selalu ada note nya"~Tasya.

‎"Oh, yang akhir-akhir ini ada di meja lo?"

‎"Iya, yang itu deh pokoknya. Tapi kok gue ga ada rasa terkesan-terkesannya ya?"~Tasya.

‎"Hah? Gimana-gimana? Coba jelaskan plis"

‎"Ya kan biasanya tuh orang kalau dikasih sesuatu sama lawan jenis kan udah kayak berbunga-bunga gitu, nah di gue tuh ga ada rasa kayak gitu"~Tasya.

‎"Oh, yang kayak gitu, kirain apa. Ya gue ga kaget sih kalau lo begitu"

‎"Dih, minimal support dikit kek jadi teman. Malah lempeng aja njir"~Tasya.

‎"Ya terus gue harus gimana kocak? Emang lu mau sama dia?"

‎" Eh? Engga juga sih"~Tasya.

‎" Ya Allah, sabarkan hambamu yang satu ini, dan sadarkan teman hamba yang ga peka ini ya Allah"

‎"Jahat banget lu jadi temen. Eh btw, gimana progress lu sama si onoh?"~Tasya.

‎"Yaa, gak gimana-gimana. Emang lu mau berharap kayak gimana sama cowok yang sok cuek itu?"

‎"Lah, emang dia masih se cuek itu? Gilaa,  orang-orang kok pada bisa sih?"~Tasya.

‎"Ya gue juga ga tau anjir, ngapain lo tanya gue. Orang gue juga gak tau"

‎"Tapi, emang lu juga mau sama dia?"~Tasya.

‎"Kalo dianya niat mah, gue ga masalah. Yang jadi masalah gue sekarang, dia tuh kayak ga ada niat sama sekali gitu lohh. Kan gue bingung, apa gue yang harus maju, atau mundur, atau stuck disini. Gue bingung sumpah"

‎"Susah deh kalo gitu. Udahlah gue nyerah deh sama kisah percintaan lo yang ga ada kejelasannya"~Tasya.

‎"Bahkan lo yang cuma dengerin aja muak, apalagi gue yang jalanin?"

‎"Yaa, itu sih derita lo ya. Tapi, semangat yaa bestii!! Soalnya kebingungan lo yang sekarang masih berlanjut!! hehe"~Tasya.

‎"Ah lo mah, doain yang jelek-jelek anjir. Unfriend kita"

‎"When ucapan orang yang bingung dengan perasaannya sendiri"~Tasya.

‎"Gue ga gitu ya—"

‎"Selamat pagi anak-anak, silahkan buka buku paket kalian halaman 130 ya, dan dikerjakan soalnya" ucapannya terpotong karena guru yang mengajar di jam pertama sudah datang. Mau tidak mau, mereka harus mengerjakan tugas yang diberi oleh guru tersebut.







‎*skip
‎Bel sekolah yang menandakan berakhirnya semua pelajaran pada hari ini telah mengeluarkan suaranya yang nyaring dan terdengar jelas di seluruh penjuru sekolah. Semua murid berhamburan keluar kelas menuju gerbang, ingin segera pulang. Ketika semua murid ingin segera pulang, tapi Nindy tidak. Mau tidak mau harus ke rumah Tasya untuk mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh gurunya.

‎Sesampainya disana, mereka langsung mengerjakan tugas tersebut sesuai dengan arahan dari gurunya tadi. Waktu perlahan terus berjalan, sampai tidak terasa kalau matahari sudah perlahan meninggalkan singgahsananya, dan menyisakan cahaya oranye indah yang memanjakan mata. Setelah menyadari bahwa hari sudah sore, Nindy bergegas pulang ke rumahnya, tak lupa dia berpamitan kepada Tasya, dan orang tuanya. Sang supir sudah menunggu di depan gerbang rumah Tasya, dan tanpa banyak kata, sang supir langsung melajukan mobilnya menuju rumah.


‎Sesampainya di rumah, bukan sapaan hangat yang menyambut kedatangannya, akan tetapi pertanyaan mengintimidasi dari seseorang yang duduk di sofa ruang tamu yang menyambutnya.

‎"Darimana saja kamu jam segini baru pulang? mau jadi ani-ani kamu?"

‎Seseorang itu tak lain ialah ibunya sendiri, Anggun Veronica.

‎"Aku habis kerja kelompok di rumah teman Ma, dan tugasnya harus dikumpulin besok. Mau ga mau aku harus ngerjain sekarang" jawabnya dengan nada malas.

‎"Kan bisa pamit sama orang rumah, biar semua ga panik nyariin kamu"~Mama Anggun.

‎"Percuma juga aku pamit, orang Mama sama Papa ga pernah ada di rumah"

‎"Diajari siapa kamu ngomong kayak gitu sama orang tua?! Pasti sama temanmu yang gak berguna itu!"~Mama Anggun.

‎"Apasih Ma?! gausah bawa-bawa Tasya deh. Emang benar kan yang aku bilang?!"

‎"Fiks, ini kamu udah kena pengaruh buruk dari temanmu itu. Mulai sekarang, kamu jangan lagi berteman sama dia, titik!"~Mama Anggun.

‎"Ma! Mama ga ada hak buat ngatur aku mau berteman sama siapa aja, jadi jangan harap aku mau nurutin apa kata Mama"

‎"Dasar anak durhaka! Padahal Mama yang ngelahirin kamu dan ngerawat kamu sampai sebesar ini, terus ini balasan kamu sama Mama?!"~Mama Anggun.

‎"Aku ga minta dilahirin, dan ga minta dibesarin juga sama Mama. Orang itu juga pilihan Mama sendiri buat punya anak, bukan keinginanku. Andai dulu aku tahu kalau punya Mama seperti ini, lebih baik aku ga usah lahir aja".
‎Setelah mengatakan itu, Nindy langsung masuk ke kamarnya, karena kalau dia terus berlama-lama disitu, telinganya akan sakit karena ocehan Mamanya yang tidak akan ada habisnya.










eh iya, kalo mau update cepet kalian harus vote yang banyak dan komen yaa kalo ada penulisanku yang kurang.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 31, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Luka PertamakuWhere stories live. Discover now