BAB I ▪︎ Death Dowry

1.7K 83 2
                                        

⛓️

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

⛓️


Bangkok di malam hari seperti labirin yang menipu, di satu sisi gemerlapnya menyajikan janji kemewahan, di sisi lain. Ia menyembunyikan sisi gelap yang kotor, tempat dosa dan keputusasaan diperdagangkan.

Bagi Nunew Valley, ia hidup di sisi yang gelap. Pukul sebelas malam, suhu udara masih terasa mencekik, dengan kulit yang terasa lengket karena keringat. Aroma manis gula dan mentega dari toko kue tempatnya bekerja, masih samar-samar menempel di seragam kasir cokelatnya yang lusuh. Nunew berjalan cepat dengan punggungnya terasa dingin, karena antisipasi rasa sakit yang menanti di gubuk kecil yang ia sebut rumah.

Bagi Nunew, usia dua puluh satu tahun seharusnya dihabiskan untuk merancang masa depan. Bukan untuk menghitung hari, hingga ia bisa melarikan diri dari neraka yang diciptakan oleh ayahnya sendiri.

Kecantikan yang diwarisi dari Rosseana Valley, ibunya. Wanita asal Eropa yang rela menukar pegunungan salju, demi panasnya Bangkok dan hati seorang bajingan seperti Ayahnya. Dan bukannya menjadi anugerah, melainkan kutukan paling mengerikan. Ayahnya, Pracaya adalah seorang pemabuk dan pecandu judi. Pria itu selalu melihatnya sebagai pengingat akan Rosseana, wanita yang dianggapnya pergi terlalu cepat dan meninggalkan Nunew sebagai makhluk sial.

Nunew membuka pintu kayu rapuh itu tanpa bunyi, dan ia merasakan ada sesuatu yang salah. Rumah itu terasa sangat sunyi, lalu dibarengi ada bau asing yang lebih tajam dari keringat, ini lebih seperti bau tembakau mahal dan parfum pria dewasa.

Di ruang tengah, di bawah cahaya bohlam kuning yang berkedip, Nunew melihatnya.
Duduk di sofa tunggal berdebu, tiga pria berbadan besar. Mereka mengenakan setelan hitam yang serasi, memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Seolah kematian adalah teman akrab mereka, di depan mereka Pracaya duduk berlutut di lantai dengan wajah yang pucat pasi.

Namun, matanya langsung berkilat licik saat melihat kedatangan putranya.

"Nu, kemari!" Perintah Pracaya, suaranya serak dan gemetar.

Nunew membeku, di usianya kini ia sudah terbiasa dengan ancaman, pukulan, dan teriakan, namun kehadiran orang-orang ini terasa berbeda. Mereka seperti bukan rentenir biasa, mereka seperti pembawa pesan dari neraka.

"Aku baru pulang kerja, Ayah," jawab Nunew pelan, nadanya memiliki kekerasan yang tersembunyi. Sifat keras kepala dan berani, adalah satu-satunya perisai yang ia miliki.

Pria yang tampak seperti pemimpin kelompok itu dengan bekas luka melintang di alisnya, menatap Nunew dari ujung rambut putihnya hingga sepatu ketsnya yang berdebu. Matanya tajam seolah sedang menilai harga sepotong daging.

"Dia yang kau janjikan tadi?" Tanya pria itu dengan suara berat.

Mendengar itu jantung Nunew mencelos, ia tidak perlu mendengar jawaban ayahnya. Ia sudah cukup tahu dan mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Beautiful CurseStories to obsess over. Discover now