Kata yang Tidak Pernah Aku Pilih

0 0 0
                                        

Takdir tidak selalu datang dalam bentuk luka.

Kadang ia hadir sebagai kehidupan yang sederhana, hangat, dan penuh cinta—lalu bertanya pelan, “Kamu sanggup menjaganya sampai sejauh apa?”

Pagi itu, aroma nasi hangat lebih dulu membangunkanku sebelum alarm berbunyi. Dari dapur terdengar suara piring dan langkah kaki ibu yang sudah sangat kukenal. Aku bangkit dari kasur, merapikan selimut, lalu duduk sejenak menatap jendela kamar.

Langit masih pucat. Hari baru dimulai.

“Ibu bikin telur dadar,” suara ibu terdengar ceria. “Keburu dingin nanti.”
Aku tersenyum kecil.

Rumah kami tidak besar, tapi selalu cukup untuk menampung suara dan tawa. Ayah sudah duduk di meja makan, menyeruput teh hangat sambil membaca koran lama yang itu-itu saja.

“Jangan lupa bekalmu,” kata ayah sambil menatapku. “Belajar yang rajin.”

Aku mengangguk. Seperti biasa.
Seragam sekolahku memang tidak baru, tapi ibu selalu memastikan setrikaannya rapi. Ayah selalu memastikan aku berangkat dengan doa.

Di rumah ini, tidak ada teriakan, tidak ada pertengkaran besar—hanya usaha kecil yang dilakukan setiap hari agar kami tetap baik-baik saja.

Dan justru di situlah letak beratnya.
Di jalan menuju sekolah, aku berjalan dengan langkah pelan. Aku sering berpikir, betapa beruntungnya aku punya rumah yang hangat. Tapi semakin aku menyadarinya, semakin besar rasa takut di dadaku.
Takut tidak cukup. Takut gagal. Takut mengecewakan.

Di kelas, guru kembali berbicara tentang masa depan. Tentang pilihan hidup, tentang mimpi, tentang betapa luasnya dunia setelah lulus nanti.

Teman-temanku terlihat antusias, mencatat dengan mata berbinar.
Aku ikut mencatat. Tapi hatiku sibuk menghitung hal-hal lain.

Bukan tentang universitas impian.
Melainkan tentang kemampuan.
“Kalian harus berani bermimpi,” kata guru itu.

Aku menunduk, menatap bukuku.
Aku ingin bermimpi. Sungguh.
Tapi aku juga tahu, mimpi bukan hanya tentang keinginan—ia tentang kesiapan menanggung risiko.

Saat istirahat, teman-temanku saling bercerita tentang rencana hidup. Les tambahan, kursus, persiapan ini dan itu. Aku mendengarkan sambil tersenyum, sesekali mengangguk, lalu kembali diam.

Seseorang bertanya, “Kamu mau ke mana setelah lulus?”

Aku terdiam sebentar.
Jawaban jujurku terlalu panjang, terlalu berat.

“Belum tahu,” jawabku akhirnya.
Sepulang sekolah, ibu menyambutku dengan senyum yang sama seperti pagi tadi. Ayah menanyakan hariku dengan nada ringan. Kami makan bersama, berbagi cerita kecil, tertawa pada hal-hal sederhana.

Di kamar, malam datang perlahan. Aku duduk di meja belajar, membuka buku, lalu berhenti. Pikiranku melayang pada wajah ibu dan ayah.

Aku tidak ingin hidup hanya untuk diriku sendiri.
Aku ingin hidup untuk mereka juga.
Di situlah aku mengerti:
Takdirku bukan tentang penderitaan yang keras,
melainkan tentang tanggung jawab yang diam-diam berat.

Dan mungkin, justru karena itulah aku harus bertahan.
Bukan karena hidupku buruk.
Tetapi karena hidupku layak diperjuangkan.

KATA TAKDIRStories to obsess over. Discover now