Nama lengkapnya Harshaka Lorenzha dan jika kalian bertanya kenapa ia tidak memiliki nama belakang sang ayah? Maka jawabannya karena sang ayah yang tidak mau memberikan namanya kepada putrinya itu, ia selalu mendambakan anak laki-laki untuk meneruskan bisnisnya.
Nama yang terdengar indah, mahal, dan penuh harapan—meski kenyataannya, harapan itu tidak pernah benar-benar ada untuknya.
Ia lahir dari pasangan 'Harlan Satyatama' seorang pengusaha besar yang namanya terpampang di gedung-gedung tinggi, dan 'Aurora Lorenzha', perempuan ambisius yang hidupnya dipenuhi jadwal rapat, penerbangan, dan jam tangan mahal. Dari luar, keluarga mereka tampak sempurna. Kaya. Terhormat. Disorot banyak orang.
Namun dari dalam rumah itu, tidak ada yang hangat.
Sejak kecil, Harsha sudah terbiasa melihat punggung orang tuanya, bukan wajah mereka. Ayahnya selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat malam sudah terlalu larut. Ibunya sering menghilang berhari-hari, kadang berminggu-minggu—ke luar kota, ke luar negeri, mengejar sesuatu yang katanya “penting”.
Tidak pernah ada yang mengejar Harsha.
Saat anak-anak lain belajar bicara dengan riang, Harsha belajar satu hal lebih cepat: Diam.
Bukan karena ia tidak bisa bicara.
Tapi karena setiap kali ia mencoba, suaranya seperti jatuh ke lantai dan pecah—tidak pernah dipungut.
“Papa, lihat gambarku—”
“Diam. Papa capek.”
“Ma, aku takut tidur sendir—”
“Kamu itu terlalu manja.”
Kadang, bentakan itu disertai tamparan.
Kadang hanya tatapan dingin yang lebih menyakitkan dari pukulan.
Aurora bukan ibu yang lembut. Ia mudah marah, cepat emosi, dan selalu merasa Harsha adalah gangguan. Tangan ibunya ringan, tapi bukan untuk mengelus kepala—melainkan untuk memukul lengan, bahu, atau punggung kecil itu saat kesabaran habis.
Harlan tidak kalah kasar.
Ia jarang memukul, tapi kata-katanya tajam dan dingin.
“Kehadiranmu saja sudah menyusahkan.”
Kalimat itu tertanam di kepala Harsha lebih dalam daripada luka mana pun.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada ucapan “kamu aman di sini”.
Tidak ada rasa dimiliki.
Harsha tumbuh dengan perasaan bahwa keberadaannya adalah sebuah kesalahan.
Di sekolah, ia dikenal sebagai anak pendiam. Guru-guru memujinya karena “tidak merepotkan”. Teman-temannya jarang mengajaknya bicara karena Harsha selalu menunduk, selalu menjawab seperlunya. Tidak ada yang tahu bahwa diamnya bukan sifat—melainkan mekanisme bertahan hidup.
Ia belajar membaca situasi.
Belajar menebak emosi orang dewasa.
Belajar kapan harus menghilang.
Di rumah, Harsha sering duduk di sudut kamar, memeluk lututnya sendiri. Tidak menangis. Tidak berteriak. Ia tahu, tidak ada yang akan datang meski ia memanggil.
Kadang ia bertanya dalam hati,
“Kalau aku hilang, apakah mereka akan sadar?”
Jawabannya selalu sama: tidak.
Suatu malam, saat usianya belum genap sepuluh tahun, Harsha mendengar pertengkaran orang tuanya dari balik pintu.
“Kau tahu aku tidak pernah menginginkannya,” suara Harlan datar tapi kejam.
“Anak itu kesalahan.”
Aurora tertawa pendek. “Aku juga. Tapi sudah terlanjur.”
Tidak ada penyesalan dalam suara mereka.
Hanya fakta.
Malam itu, Harsha duduk di lantai kamarnya, menatap kosong ke dinding. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya… kosong.
Sejak saat itu, ia berhenti berharap.
Ia tidak lagi menunggu ayahnya pulang.
Tidak lagi mencari ibunya di bandara.
Tidak lagi membayangkan rumah yang hangat.
Ia memilih diam sepenuhnya.
Bukan karena bisu.
Tapi karena berbicara hanya membuatnya terluka.
Harsha tumbuh menjadi remaja yang terlihat baik-baik saja. Nilainya bagus. Sikapnya sopan. Tidak pernah membuat masalah. Semua orang mengira ia kuat.
Padahal sebenarnya, ia hanya lelah.
Lelah berharap.
Lelah menjadi anak yang tidak pernah diminta lahir.
Lelah hidup di rumah yang tidak pernah menginginkannya.
YOU ARE READING
Raised By Silence
Fanfiction"Aku tidak bisu, hanya saja aku lebih suka menjadi diam... karena ketika aku berbicara tak ada yang mendengarku" -Harsha
