1

171 21 11
                                        

"Jadi, kamu mau, kan?"

Keadaan kembali senyap. Yang terdengar hanya dentingan gelas teh ibu dan suara guweg* yang sesekali terdengar dari luar rumah. Aku menghela nafas, mengingat kembali alasan kenapa aku jarang pulang ke rumah. Aku selalu rindu rumahku, rumah tempat aku tumbuh besar, tapi kemudian aku sadar yang aku rindukan adalah rumah ketika aku masih duduk di bangku sekolah, rumah ketika aku kecil dan ibu selalu mengingatkanku untuk mandi sore dan bapakku selalu menyuruhku tidur setiap jam 8 malam. Semakin bertambahnya usiaku, 'rumah' ini hanya menjadi kata benda saja.

"Yara, ibu sama bapakmu udah makin tua..."

"Aku tahu bu."

Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau kamu sudah mandiri secara finansial bukan berarti sudah menjadi manusia yang bebas mandiri seutuhnya?

Mandiri berdaulat sebagai seorang manusia seutuhnya.

"Bu, aku masih repot, berkas-berkas untuk S3-ku masih belum-"

"Yara, ibu juga gak minta kamu sekolah tinggi-tinggi. Ibu cuma minta kamu menikah."

Ah, kata itu lagi. Walau sudah sering mendengarnya tetap saja telingaku tidak mau akrab dengan kata itu. Malah seringnya tubuhku ikut bereaksi mendengar kata itu.

"Kalau aku masih belum mau?"

"Wah Yara, kualat kamu sama orang tua!"

Nah, kita kembali ke episode anak yang selalu dikatakan kualat kalau tidak mau menuruti orang tuanya. Aku hanya berharap penjelasan logis, atau apapun yang bisa kuterima dengan akal sehat. Bukan sesuatu yang tidak bisa dicerna dan membuatku merasa bersalah tanpa alasan yang jelas. Aku hanya butuh penjelasan.

Ibu terlihat berusaha menenangkan diri, lalu meninggalkanku di meja makan sendirian tanpa meninggalkan sepatah kata apapun.

Senyap. Bahkan tidak terdengar suara guweg sama sekali. Suara nafasku sendiri saja hampir tidak bisa terdengar.

Rumah, aku rindu rumah ketika aku kecil.

****

"Yara, kamu tadi pagi nelpon aku?" Suara Wisnu memecah lamunanku. Aku tidak sadar ada yang masuk ke ruang prodi, tahu-tahu Wisnu sudah meletakkan barang-barangnya persis di meja sebelahku.

"Oh iya?" aku mengambil ponselku, rupanya aku memang tidak sengaja menelpon Wisnu waktu aku berangkat ke kampus tadi. Pasti karena aku buru-buru naik ke ojek yang menjemputku. "Maaf Nu, kepencet tadi, hehe."

"Ih gak suka deh yang kepencet-pencet gini. Lah, hahaha." Wisnu memasang ekspresi sok kaget dengan dengan bola mata ke atas. Aku tertawa, Wisnu ini orang yang lucunya alami. Kebanyakan orang menganggapnya intimidatif karena tubuhnya yang tinggi besar dan janggut tebal. Aku yang sudah bersahabat dengannya semenjak kami kuliah S1 adalah sedikit dari orang yang tahu kalau Wisnu adalah orang yang sangat humoris.

"Mukamu kaya tumpukan berkas peminjaman ruangan di kesekretariatan, ruwet. Kenapa sih Ra? Abis disuruh nikah ya???"

Aduh Wisnu, selalu tepat sasaran.

"Iya, semalam." ekspresi Wisnu langsung berubah serius. Matanya melirik ke kanan-kiri sambil berusaha mencari kata untuk diucapkan.

"Eh Ra, maaf, sahaya asbun loh padahal."

"Tapi asbunmu selalu bener. Kamu gak inget waktu kemarin asbun soal lokakarya kita kemaren?"

"Eh, yang mana ya? Kebanyakan asbun nih gue, sampe lupa sama keasbunan sahaya sendiri."

"Waktu rapat prodi kan kamu asbun, nanti kita lokakarya-nya di gubuk, bukan di vila. Pas sampe lokasi, turns out vilanya berbentuk gubuk hahaha." Aku dan Wisnu tertawa bersama. Kami sama-sama tahu referensi momen itu. Momen di mana Wisnu menahan tawanya sekuat tenaga hingga wajahnya merah seperti kepiting rebus melihat vila yang benar-benar berbentuk gubuk. Seharian itu Wisnu menjadi pendiam karena takut tawanya akan meledak sewaktu-waktu. Dia baru berbicara waktu pak Felix atau pak Oji menanyakan pendapatnya.

"Eh, eniwei Yara..." Wisnu membuka laptopnya, dia pria berhati lembut selalu menghindari topik obrolan yang bersifat pribadi, kecuali kalau lawan bicaranya memang bersedia untuk bercerita. Such a gentleman.

"Yara, jam dua siang nanti kamu ada kelas?" suara pak Made terdengar dari ujung ruangan, aku dan Wisnu menengok bersamaan, bahkan walau hanya namaku yang dipanggil.

"Saya baru selesai kelas Penulisan Etnomusikologi jam tiga pak, ada apa pak?

"Ohh, yasudah. Tadinya saya mau ajak kamu ke kelas saya, tapi lain kali aja." Pak Made kembali sibuk menuangkan air panas ke gelasnya yang sudah berisi kopi. Aku meminta maaf karena belum bisa bergabung, lalu kembali ke pembicaraanku dan Wisnu yang terpotong.

"Kenapa tadi Nu?"

"Kita jadi tandeman kan ya buat Pengantar Musik Tradisi? Aku gak siap nih kalau ke depannya harus sendirian menghadapi mahasiswa-mahasiswa biadab yang menguji kesabaranku yang lebih tipis dari isi dompetku."

"Namanya kelas pengantar memang kita yang harus sabar-sabar Nu. Kita harus jadi pondasi yang kokoh agar pondasi mahasiswa juga jadi kokoh untuk masuk ke matkul selanjutnya." aku menatap Wisnu dengan wajah meyakinkan. Berkebalikan dengan wajah Wisnu yang penuh keluh kesah.

"Yaudah yes, semoga Tuhan tak hanya memberikan hamba-Nya ini kesabaran yang banyak, tapi juga pundi-pundi dompet yang banyak." Wisnu menghela nafas. Aku menebak dalam jangka waktu satu atau dua hari ini dia akan menceritakan ulah keluarga besarnya yang membuatnya harus merogoh koceknya untuk mengatasi itu semua. Wisnu orang baik, seringnya orang baik juga selalu diberi ujian ketahanan untuk tetap menjadi orang baik.

***

"Ada yang mau bertanya?" aku berdiri di depan kelas, sudah siap dengan berbagai pertanyaan yang akan dikategorikan sebagai biadab oleh Wisnu. Misal, usiaku, nomor telponku, status hubunganku.

"Mbak, ini Haidar penasaran boleh minta nomornya mbak Yara gak?" kata seorang mahasiswa laki-laki berkemeja biru.

"Tidak boleh, jika dilanggar maka kamu dan temanmu akan berubah menjadi komodo." sergah Wisnu cepat dan mengakibatkan seisi kelas pecah dengan tawa. Karena seringnya terlalu cepat emosi, Wisnu menjadi terbiasa menjawabi segala sesuatu dengan asbun alias asal bunyi.

Coping mechanism yang menghibur.

Seorang mahasiswa mengangkat tangan. Oh, rupanya seorang mahasiswi. Aku tertipu dengan rambut pendeknya dan penampilannya yang seperti laki-laki. Fitur wajahnya juga tegas, tapi matanya yang seperti daun damar menunjukkan sisi feminimnya.

"Mbak, saya mau tanya soal surupan." akhirnya, pertanyaan sungguhan walau hari ini kami hanya membahas kurikulum mata kuliah ini dan sedikit pengantar soal musik tradisi nusantara. Betapa semangatnya mahasiswi ini.

"Surupan? Maksudnya tangga nada dalam karawitan Sunda kan?"

"Oh iya bener mbak, hampura." mahasiswi itu mengatupkan kedua tangannya.

"Itu si anak Sumedang itu Ra." Wisnu sedikit berbisik di belakangku.

"Iya mbak, saya mau nanya kenapa surupan di tiap daerah berbeda? Padahal kan sama-sama salendro, tapi kenapa bisa ada perbedaan kecil di salendro tiap daerah di Jawa Barat?" Aku tersenyum, kemudian menjelaskan sampai anak ini terlihat puas. Ah, aku lupa menanyakan nama anak ini.

"JEMS TUKANG SULING!!" seisi kelas kompak menyebutkan nama mahasiswi ini ketika aku bertanya. Aku mundur sejenak mengintik ke ponselku yang sedaritadi menunjukkan notifikasi pesan masuk di layarnya.

Ah. Selalu, tapi kenapa harus sekarang sih.

"Nu, aku duluan ya. Biasa, hrrhh." Wisnu mengacungkan jempolnya. Dia sudah terbiasa pada keadaan 'darurat' seperti ini. "Nah kalau kamu masih ada pertanyaan, nanti mas Wisnu yang jawab ya. Saya harus pergi duluan."

LampahStories to obsess over. Discover now