Pagi masih begitu dingin saat gadis itu selesai mengepel seluruh koridor lantai satu. Beberapa rekannya sudah kembali ke gudang, mengembalikan alat kebersihan masing-masing. Dia mengakat tangan kiri, arloji tuanya menunjukkan waktu jika ia harus bergegas.
Sapu di tangan kanan, ganggang pel di tangan kiri dan tong sampah plastik dia genggam kuat. Beberapa siswa sudah terlihat memasuki sekolah, mungkin mereka anggota Osis hingga datang sepagi ini. Suara langkah kaki mereka beradu dengan lantai yang masih basah.
Gadis itu berbelok menuju gudang di belakang sekolah, tempat penyimpanan semua alat kebersihan. Samar terdengar suara tawa di susul umpatan dari kejauhan. ia semakin dekat.
Langkahnya memelan, karena saat ini yang ia dengar hanya suara laki-laki. Bising. Semakin jelas. Dan bukan rekan kerjanya. Dia berheti, rasa panik mulai membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Apa yang harus dia lakukan?. Waktu yang terus bergerak tidak membiarkannya berpikir.
"Oke ... kita taruh, lalu pergi"
Menarik napas beberapa kali sebelum berbelok. Dan-
Tubuhnya berdiri kaku, semua benda di tangannya jatuh, menimbulkan bising di pagi yang masih begitu sunyi itu.
Ada lebih dari sepuluh anak laki-laki. Seragam acak-acakan, melingkar.
Di tengahnya, dua orang berkelahi. Atau lebih tepatnya, satu orang dipukuli. Satu persatu menoleh kearahnya.
Dan dia. Gerakan pria itu terhenti, menoleh.
Rambut hitam legam berantakan. Peluh dan darah di pelipisnya.
Kemeja putih terbuka, memperlihatkan kaos hitam di baliknya.
Matanya menatap tajam ke arah gadis itu.
Glek.
Lari? Hanya satu kata itu yang terlintas di benaknya sekarang.
Satu-
"Mau kemana?"
Suara itu rendah. Datar. Tapi cukup untuk memaku kakinya di tempat.
Punggungnya terasa panas karena belasan pasang mata sedang menatapnya.
Langkah kaki terdengar mendekat, Kirana berusaha menormalkan degup jantungnya. Sialan!, kalau seperti ini ia bisa-bisa terlambat. Kampus paginya tidak mentoleri alasan apa pun, jadi mari kita selesaikan dengan cepat. Kirana menarik napas dalam sebelum berbali-
Ia linglung kebelakang, karena saat ini bocah laki-laki dengan tampilan berantakan itu tengah berdiri di depannya dengan tatapan tajamnya. Terlalu dekat. Terlalu tinggi. Bau darah, keringat dan parfum bercampur jadi satu. Kirana berdehem, mengambil langkah mundur dengan canggung.
"Em ... saya hanya ingin mengembalikan ini ke gudang" ujar Kirana, membalas tatapan anak laki-laki itu.
Tidak ada tanggapan. Hanya keheningan yang membeku.
Diam artinya, boleh?.
"Ka-kalau begitu, saya permisi..." Dia berjongkok, memungut sapu dan pel satu persatu. Harusnya ini akan mudah, jika ujung sepatu hitam itu tidak menginjak tepat di tengah gagang sapunya.
Kepalanya mendongak. Tidak percaya. "Bisa singkirkan kaki kamu dari sapu saya?"
Terkekeh, "Jadi ini sapu anda?" tanyanya dengan alis terangkat. Menyebalkan. Kirana berdehem, masih berjongkok di bawah pria itu.
"Iya" jawaba Kirana cepat. Ada satu cara untuk keluar dari masalah ini. Selesaikan dengan cepat. Iyakan semua kemauan pria ini.
Kirana bangkit, memaksakan senyum semanis mungkin. "Iya" ujarnya tanpa ragu. "Jadi bisa singkirkan kaki kamu dari sana?"
Pria dengan sobekan di sudut bibirnya itu terseyum miring. Darah di pelipisnya sudah kering dan semua detail kecil di wajah pria itu sempat-sempatnya ia perhatian. Karina berpaling dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Beyond Years
Fiksi PenggemarTanpa sadar rasa nyaman itu mulai berakar dan tumbuh menjadi rasa yang lebih dari sekedar kata 'nyaman'. Hal yang akan sangat di sesali setiap orang adalah saat dia tidak sadar akan perasaannya. Namun, masa depan siapa yang tahu?. Hidup yang ia tahu...
