We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PROLOG

4 2 3
                                        

Kisah ini adalah murni imajinasi penulis. Dunia yang tercipta di sini tidak ada kaitannya dengan realitas yang sesungguhnya.

Ini adalah karya fiksi. Setiap kemiripan dengan kejadian atau individu nyata hanyalah kebetulan dan tidak disengaja.

Disebuah kerajaan, tinggalah seorang gadis kecil bernama 'Adelaide leonor' anak tunggal dari sepasang pemimpin di sebuah negeri bernama Negeri Aurecebea 'Ratu Diana' & 'Raja Arthur'

Ia menatap dunia luar melalui jendela, memandang para rakyat diluar istana dengan perasaan iri dan sedih.

Selama sepuluh tahun dirinya dikurung didalam istana, ia tidak pernah diperbolehkan keluar, seharian ia hanya menghabiskan waktu dikamarnya dengan membaca buku cerita.

Ayahnya selalu melarangnya dengan alasan bahwa diluar sangat berbahaya, banyak iblis yang berkeliaran, terlebih lagi, dirinya bisa diincar karena ia adalah seorang puterinya.

Ia sangat muak, bagaikan Rapunzel tanpa rambut sepanjang itu, terus dikurung dan tidak bisa pergi kemanapun...

Putri kecil itu menghela nafas... merasa jenuh. Ia menatap sebuah buku cerita yang menurutnya adalah buku yang paling menarik diantara semua buku cerita yang baru saja ayahnya beri minggu ini.

Judulnya 'pelarian sang puteri' ia mengernyitkan dahinya, mulai membuka setiap lembaran dan membacanya.

Di dalam buku itu menceritakan seorang puteri bernama puteri Aishter yang tidak bisa pergi kemana-mana selain didalam istana.

Cerita itu seperti cerita dirinya, yang sama-sama tidak diperbolehkan keluar istana. Ia melanjutkan membaca.

Puteri Aishter merasa iri menatap rakyat biasa yang berada diluar istana.
Puteri Aishter juga ingin seperti itu... keluar dan bermain bersama yang lain...

Namun Ayahnya Raja Hanry melarangnya karena diluar istana sangatlah berbahaya, akan ada banyak iblis yang mengincarnya karena mengetahui bahwa dia adalah anaknya...

Puteri Adelaide terkejut... ini sangat persis jika dikatakan mirip dengan ceritanya... buku ini seolah menceritakan dirinya.
Ia melanjutkannya dengan antusias sambil berharap didalam sana ada petunjuk mengenai puteri Aishter.

Puteri Aishter bertemu dengan seekor burung gagak hitam yang bisa berbicara. Gagak itu menyarankan kepadanya untuk pergi melarikan diri dari istana. "aku tidak bisa!" ujar puteri Aishter "kenapa? aku hanya kasihan padamu... ingat puteri... semua orang berhak memiliki pilihan... jika kau ingin terus hidup dalam kehampaan ini, itu terserah kau saja. Aku sudah memperingatkan."

Puteri Aishter mengakui bahwa perkataan gagak itu ada benarnya juga.
Ia tidak bisa terus hidup dengan perasaan angan-angan, ia juga harus bertindak untuk bisa mewujudkannya.

"Baiklah gagak... apa yang harus kulakukan?"
"maaf puteri... aku tidak bisa membantumu... kau harus mencari caranya sendiri..."

Saat puteri Adelaide membuka lembaran selanjutnya untuk mengetahui lanjutan cerita itu, namun... lembaran itu kosong, hanya kertas putih yang kosong. Ia membolak-balik halaman yang lain beberapa kali untuk memastikan.

"Yang benar saja! apa lanjutan cerita ini?! " Ia menutup buku itu dengan perasaan geram. Ia sangat membenci alur cerita yang menggantung. Ia tahu itu adalah trik biasa yang sering dilakukan seorang penulis. Agar para pembaca penasaran dan membeli buku lanjutannya.

Akan tetapi... ia baru membaca buku itu sekitar tiga halaman, sedangkan buku itu sangat tebal dengan kertas putih kosong yang tersisa.

"Baiklah, kalau begitu... aku yang akan melanjutkan ceritanya!"

Semoga kalian suka dan dibuat nyaman sama cerita ini yaaa. jangan lupa di vote juga, agar mendorong semangat aku buat bikin karya-karya lainnya 🥰

Selamat membaca!🙏

The princess's escapeStories to obsess over. Discover now