MENANTIKAN KEDATANGANMU

15 1 0
                                        

Mutia, seorang wirausaha butik yang sukses di kota batik Pekalongan, dikenal dengan rancangan busananya yang elegan dan berkelas. Sementara itu, Rizki merupakan pengusaha kue kreatif yang terkenal akan rasa dan inovasinya. Keduanya tengah menempuh pendidikan S3 Manajemen, memiliki semangat yang sama dalam membangun usaha dan meraih mimpi.

Suatu malam, dalam sebuah acara bisnis di sebuah kafe, mereka bertemu tanpa rencana.

“Rizki… apa benar ini kamu?” ujar Mutia tak percaya. “Berbeda sekali dari pertama kali aku bertemu kamu.”

Rizki tersenyum kecil. “Ah… bisa saja kamu. Aku masih sama, tidak ada yang berubah, hanya waktu yang terus berputar. Kamu sendiri tampak cantik sekali hari ini—seperti seorang pengusaha besar.”
Baginya, Mutia selalu memiliki pesona yang sulit diungkapkan, kecantikan yang membuatnya terpaku.

Mutia tersipu. “Terima kasih, Riz. Kamu juga terlihat sangat rapi. Kita benar-benar tidak sengaja bertemu, ya.”

Dalam hati, Rizki berbisik, Mungkin ini alasan Tuhan mempertemukan kita kembali... penantian yang lama akhirnya berbalas. Ia menatap Mutia begitu lama hingga Mutia heran.

“Hei… hey… hey! Kenapa dari tadi lihat aku terus? Ada yang salah dengan gaunku?”
Rizki tergagap pelan. “Tidak ada yang salah. Kamu… memukau. Seperti senja yang membuat siapa pun lupa berkedip.”

Mutia tersenyum malu. “Aku hanya ingin tampil cantik untuk pertama kalinya. Jangan memujiku berlebihan… nanti aku salah tingkah.”

Namun dalam hati Rizki berkata, Jika ini cara Tuhan mempertemukan kita, biarlah takdir berjalan seperti apa adanya...

“Kita bahkan pakai warna baju yang sama,” ujar Rizki sambil tertawa kecil.
Mutia terkejut. “Benar juga. Apa ini kebetulan… atau cara Tuhan?”
Rizki mengangguk pelan. “Mungkin tanda bahwa Tuhan sedang menyatukan dua langkah yang lama terpisah.”

Mutia buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Ayo ke acara. Tidak enak dilihat orang seolah kita… berduaan.”
Rizki mengikuti, sempat ingin menggandeng tangannya, namun Mutia tak menyadarinya. Nanti saja, ia menghibur diri, kalau waktunya tepat.

Mereka mengambil tempat duduk berdekatan, tanpa sengaja menunjukkan keakraban. Hingga sepasang tamu muda berkomentar, “Kalian serasi sekali. Dari tadi tidak mau berpisah seperti pasangan baru jatuh cinta.”

Rizki tersenyum. “Ah, biasa saja. Doakan saja kami… langgeng sampai tua.”
Ucapan itu membuat hati Mutia bergetar.

Pasangan itu melanjutkan, “Orang cantik dan baik seperti dia jarang. Mas sudah menantikan dia bertahun-tahun… tapi apakah dia merasakan hal yang sama?”

Mutia terdiam, wajahnya cemas. Rizki menjawab dengan lembut, “Hati manusia tak ada yang tahu. Kita serahkan pada Tuhan. Yang penting, penantian dijalani dengan tulus.”

Acara kembali hening. Dalam hati, mereka sama-sama berkata, Amin… mungkin inilah takdir setelah penantian panjang.

Setelah acara usai, suasana menjadi lebih hangat.
“Semoga ini awal komunikasi yang baik di antara kita,” kata Mutia pelan. “Boleh aku minta nomor teleponmu?”
“Tentu,” jawab Rizki. “Semoga ini awal cerita baru dan kerja sama yang baik.”

Ia melanjutkan, “Terima kasih, Mut. Hari ini berharga bagiku. Walau singkat, aku sudah menantikan pertemuan ini lama sekali. Semoga usahamu selalu sukses.”
Mutia menahan air mata. “Jangan lupakan aku ya, Riz.”

Sejak itu mereka tetap berhubungan melalui pesan, namun Rizki semakin sibuk mengejar karier dan cita-cita. Komunikasi perlahan merenggang, hingga mereka memutuskan untuk tidak bertemu lagi sementara waktu—sampai semuanya siap.

Ada rencana yang belum sempat terlaksana: Rizki yang ingin mengajak Mutia ke toko kuenya, kue lezat yang ingin ia hadiahkan, dan gaun unik yang ingin ia buatkan untuk Mutia. Semuanya hanya tinggal angan.

Mereka sempat berdiskusi tentang peluang kerja sama, dan sebuah proyek bisnis pun direncanakan. Namun jarak dan kesibukan membuat semuanya tertunda.

Kini, Mutia hanya bisa berharap.
Menanti kedatangan Rizki.
Menanti mimpi yang pernah mereka bicarakan.
Menanti penantian yang tidak pernah benar-benar padam.

MENANTIKAN KEDATANGANMUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang