Senin pagi di SMA Bhuana utama selalu penuh hiruk pikuk. Suara langkah tergesa, tas yang di goyang-goyang sembarangan, dan murid-murid yang spontan berlari kecil begitu melihat jarum jam hampir menyentuh batas masuk. Di depan gerbang, para anggota OSIS berdiri bak barisan penjaga, memeriksa satu persatu murid yang lewat, memastikan atribut mereka lengkap dan sesuai aturan sekolah.
Alea Danendra melewati kerumunan itu dengan langkah ringan. Seragamnya rapi, dasinya lurus, sepatu mengkilap. Tidak ada alasan untuk khawatir. Ia tak punya waktu untuk ceramah panjang OSIS yang terkenal perfeksionis dan... sedikit kejam.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama.
Sebuah motor tiba-tiba masuk ke halaman sekolah tanpa melambat sedikit pun. Beberapa murid menjerit tertahan. Sinta, yang berdiri tak jauh dari Alea, langsung berteriak lantang.
"Daven! Berhenti!"
Alea menoleh sekilas. Cukup untuk mengetahui siapa yang baru saja membuat ke kacauan. Tapi gadis itu memilih kembali berjalan. Ia sudah terlalu sering berurusan dengan Daven Elric __ lebih tepatnya, terlalu sering di buat kesal olehnya.
Sayangnya, Daven tampaknya tidak berniat membiarkan Alea melenggang begitu saja.
Motor itu berhenti tepat di depan langkahnya, membuat Alea terpaksa menghentikan laju kakinya. Ia mengangkat wajah, tatapannya datar namun penuh peringatan.
Daven membuka kaca helmnya perlahan, menampilkan senyum setengah meledek yang sudah menjadi ciri khasnya. Seolah suasana baru saja diberi lampu sorot, beberapa siswi langsung berbisik-bisik kagum melihatnya.
Alea hanya mendengus pelan. "Masih pagi, Daven," katanya tegas.
"Dan?" Daven menurunkan helmnya sambil mengangkat alis. "Gue nggak lihat ada yang salah dengan itu."
Alea memejamkan mata sejenak, berusaha menahan diri. "Geser," ujarnya singkat.
"Enggak." Jawaban Daven cepat dan enteng, seolah menolak itu adalah hal paling menyenangkan baginya hari ini.
"Daven, gue nggak mau ribut. Bisa tolong... jangan mulai dulu? Ini baru jam tujuh"
Bukannya menyingkir, Daven justru turun dari motor dan berjalan mendekat. Langkah santainya membuat Alea harus sedikit mendongak untuk mempertahankan kontak mata. Perbedaan tinggi mereka menyulitkan, tapi Alea menolak terlihat kalah.
"Oh ya?" Gumam Daven, nada suaranya rendah dan penuh tantangan.
Alea membuka mulut untuk membalas__tapi suara seseorang memotong momen itu.
"Daven!"
Keduanya menoleh bersamaan.
Seorang gadis berambut panjang__Rachel__berjalan cepat menuju mereka. Pipi gadis itu memerah, entah karena berlari atau karena antusiasme yang jelas terpancar dari tatapannya.
Alea mengamati Rachel dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pacar baru? Calon? Atau hanya salah satu penggemarnya? Entahlah. Yang ia tahu, selera Daven tampaknya... menurun.
Rachel berhenti di dekat mereka dengan senyum malu-malu. "Daven.. ini buat kamu" ia mengulurkan sebuah paperbag kecil.
Daven menerimanya dengan ekspresi lembut__lebih lembut daripada yang pernah Alea lihat tunjukan padanya.
"Thanks" ujarnya singkat.
Rachel menatap Daven penuh harap sebelum pandangannya beralih ke Alea. Sekilas. Namun cukup untuk menunjukan sinis yang sangat jelas, membuat Alea hampir tertawa sarkastik.
Oke... barusan apa?
Daven kembali menatap Alea. Senyum kecilnya muncul pelan__tenang, tapi jelas penuh godaan.
YOU ARE READING
ENAM HATI DALAM SATU CERITA
RomanceDi tengah hiruk pikuk sekolah, pertemuan enam remaja dengan hati dan kisahnya masing-masing perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih indah dari sekadar rutinitas. Alea Danendra, gadis tenang yang selalu tampak tak tersentuh, tak pernah menyangka...
