Prolog

69 10 3
                                        

Pemimpin Kerajaan laut itu menatapku tajam, seolah ingin mencabut jiwaku dari tubuh ini seolah keberadaan ku terlihat seperti parasit laut yang seharusnya di singkirkan. "Kenapa kau kembali? Kehadiranmu hanya membawa bencana bagi bangsaku." Begitu katanya, entah kenapa para pemimpin kebanyakan selalu sama. Angkuh dan curiga pada siapapun, aku bersungut-sungut sembari mematung terdiam, namun sekilas sang Ratu angkuh ini tidak bisa dikatakan jelek, ekor emasnya berkilau di bawah cahaya laut.

Mahkota kerang bertengger di kepalanya, membuatnya tampak seperti dewi sekaligus hakim, Bahkan Clara, gadis kaya dan sombong di kelas itu, mungkin akan iri melihat pemandangan ini.

Air laut di sekelilingku mulai bergejolak. Arus kecil muncul dari dasar laut, membawa titik-titik cahaya biru yang berpendar seperti bintang jatuh ke dalam air. Cahaya itu semakin banyak, mengitari tubuhku. Tak lama kemudian beberapa hewan laut bermunculan dari kegelapan: ubur-ubur, cumi-cumi, pari, bahkan seekor hiu melintas perlahan. Seolah mereka datang karena sesuatu memanggil mereka. Anehnya, aku tidak merasa takut. Laut yang bergejolak di sekelilingku justru terasa... akrab.

Salah satu ubur-ubur menyentuh lenganku dengan lembut. Tiba-tiba air di depanku retak, seperti kaca yang dipukul dari sisi lain. Dari celah retakan itu, sebuah kalung kerang ber-mutiara perlahan keluar, berputar di dalam arus laut. Sang Ratu yang melihat kejadian ini langsung hendak merebut kalung. Para pengawal Kerajaan langsung bergerak mengejar, tapi aku lebih cepat menghindar. Tanganku meraih kalung itu tanpa sadar. Begitu jemariku menyentuhnya, arus laut mendadak berubah arah. Seolah seluruh lautan mengenali benda itu. "Tangkap dia!" suara ratu menggema di dalam air. Para pengawal melesat seperti bayangan, ekor mereka membelah arus laut seperti pisau menembus air. Salah satu dari mereka melempar jaring rumput laut yang hidup, merayap mengejar-ku.

Aku berusaha berenang menjauh, tapi tubuhku terasa berat. Para pengawal semakin dekat. Kalung di tanganku mendadak bersinar terang. Cahaya biru menyebar seperti riak. Tiba-tiba arus laut berubah menjadi pusaran besar. "Jangan biarkan dia lolos!" teriak sang ratu. Matanya bersinar dingin, dan laut di sekelilingnya bergetar.

Arus laut tiba-tiba berputar liar. Pusaran besar terbentuk di bawah kakiku. Para pengawal mencoba meraihku, tapi arus terlalu kuat. Laut berputar di sekelilingku. Cahaya biru memudar. Segalanya tenggelam dalam kegelapan. "Jadi kau masih hidup... pewaris terakhir."

Aku terbangun dengan napas terengah, rambutku terasa basah serta masih ada bekas cahaya biru di telapak tangan.

"Itu cuma mimpi...atau ingatan?"
Aku menepis prasangka itu dengan cepat lalu bergegas menuju kamar mandi, saat kakiku melangkah, tanpa sengaja aku tersandung sesuatu, dengan kesal aku menoleh kebelakang.

"Ini kan...." nafasku terhenti sejenak, jantungku berdegup kencang disertai wajahku mendadak pucat, melihat benda berupa kerang dan mutiara seperti kalung tergeletak di lantai kamarku.

MeltaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora