PROLOG

3 0 0
                                        

Arya Diaz Dirgantara, musuhku. Seseorang yang selalu membuatku kesal setiap hari. Aku tak pernah melihatnya di sekolah, tapi setelah kelas XII ternyata dia adalah teman kelas tetangga. Ya, bisa dibilang dia cowok keren, famous, dan ganteng. Sayangnya, dia memiliki masalah kontrol emosi.

Aku, aku Shafana Adinda. Ku tulis semua cerita dengannya, dalam buku diary. Perjalanan, yang ku puisikan untuk kenangan. Aku suka menulis, membuat puisi, mengarang cerita, bahkan aku punya cita-cita untuk menjadi seorang penulis. Kalau cita-cita itu gak terwujud, aku mau menjadi seorang guru Bahasa Indonesia dan Sastra, agar jatuhku gak terlalu dalam.

Tahun ini, aku berusia 17 tahun, kelas XII SMA di SMA Nusa Bangsa. Dalam satu angkatan, ada 8 kelas XII. Aku, duduk di kelas XII IPS 2. Dan plot twist ditahun ini, yaitu bertemu dengan seorang Arya Diaz Dirgantara, yang duduk di kelas XII IPS 1. Ya, kelas sebelahku.

Pertemuan dan perkenalan dengannya, ku abadikan dalam ceritaku. Kisah kasih di sekolah, yang membekas dihatiku. Tapi, pertemuan ini memberiku banyak pelajaran, belajar agar aku tak pernah berharap pada manusia manapun.

Puisi, ku tulis tentangnya dalam sebuah puisi berjudul 'Hari Yang Tak Sempat Ku Beri Nama' dihiasi diksi, rangkaian kata-kata indah, agar tidak semua orang bisa mengerti.

Ini kisahku, seorang anak perempuan yang sedang berusaha mengejar impiannya, lewat sebuah tulisan.
______
____________

*baca dulu dari sini ya teman-teman, jangan lupa follow dan vote. Happy Reading!*

Hari Yang Tak Sempat Ku Beri NamaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora