Bab 1 - Gadis Rumah Reyot

307 59 63
                                        

بسم الله الرحمن الرحي

Selamat datang di lapak aku semuanya.
Tahu cerita ini dari mana, absen dulu..

Supaya lebih enak bacanya, sebelum lanjut sebaiknya follow dulu akun ini 🫶



"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," ucap anak-anak itu serentak

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," ucap anak-anak itu serentak. Membuat Khanza tersenyum bak bulan sabit, sembari menutup Al-Qur'an yang ia pegang.

"Baik, adik-adik semuanya. Hari ini cukup sampai sini dulu, besok kita bertemu lagi. Untuk yang sudah Iqra 6, di rumah bisa dibaca lagi biar lebih lancar. Minggu depan, Kak Khanza usahakan kalian yang Iqra 6 itu sudah bisa ke Juz 1," tutur Khanza lembut, menatap satu per satu anak-anak yang duduk rapi di depannya.

"Baik, Kak," jawab salah satu anak perempuan di sudut ruangan.

"Kalau begitu sekarang kalian sudah bisa pulang. Waktu sudah menjelang maghrib, jangan mampir kemana-mana. Segera pulang dan persiapkan shalat, ibu kalian pastinya sudah pada nungguin," jelasnya dengan suaranya yang lembut namun terdengar tegas.

Anak-anak itu pun berdiri dan mulai berjabat tangan dengan Khanza sebelum pulang. Senyum tulus terbit di wajah teduhnya saat melihat mereka melangkah pergi dengan hati riang menuju rumah masing-masing.

Setelah semuanya berlalu, suasana berubah hening. Hanya suara jangkrik dan qiro dari mushala yang terdengar, menjadikan sore itu terasa semakin sendu. Langit kuning keemasan menghiasi cakrawala, membuat Khanza menatapnya sejenak. Ingatannya melayang pada masa kecil—ketika ia juga bersemangat pergi mengaji bersama teman-temannya, yang kini telah berpisah karena keadaan.

Menyadari waktu sudah semakin larut, Khanza beralih menatap jam dinding. Sesekali melihat jalan setapak yang berada di depan rumahnya. "Ayah kemana ya, sudah jam segini belum juga pulang," batinnya.

"Apa yang ayah lakukan di luar sana. Aku takut jika ayah berbuat ulah lagi."

Tak berselang lama, ketika Khanza hendak melangkah masuk ke rumah, terdengar samar suara seorang laki-laki. Refleks ia menoleh, dan mendapati ayahnya berjalan dengan langkah sempoyongan, pakaian lusuh menempel di tubuhnya. Wajahnya pun tak kalah kusam. Tanpa menunggu lama, Khanza bergegas menghampiri dan memapah ayahnya masuk ke dalam rumah. Bau menyengat itu langsung menusuk hidungnya-bau minuman yang sudah terlalu ia kenal.

"Ayah... kenapa ayah selalu minum minuman haram itu? Ayah tahu kan, itu tidak baik untuk kesehatan," ucap Khanza lirih, menuntun ayahnya duduk di kursi kayu ruang tamu.

Lost Yet ChosenWhere stories live. Discover now