Langit-langit kamar Pricilia yang ditempeli stiker fosfor berbentuk bintang dan planet kini terasa seperti kubah kawat yang menjebaknya. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, *_kedamaian adalah kata yang asing_*.
Dari luar pintu kamarnya, suara itu datang lagi, lebih keras dan lebih tajam.
“Aku sudah muak hidup begini!” suara Ayah menggema, disertai hentakan kaki.
“Kamu pikir aku tidak muak juga?! Semua salah kamu!” teriak Ibu membalas.
Pricilia merangkak kecil menuju pintu, memeluk lututnya agar tidak gemetar. Ia mengintip dari celah kecil.
Siluet Ibu dan Ayah membesar, menjadi dua bayangan raksasa yang menakutkan. Jari telunjuk Ayah menusuk udara ke arah Ibu, dan tangan Ibu bergetar oleh kemarahan.
“Cerai! Itu yang kamu mau kan?!” ucap ibu
“Ya! Mungkin itu yang terbaik!” ayah menjawab.
Kata itu, kata _CERAI_ menusuk Pricilia lebih dalam dari pisau manapun.
Napasnya tercekat.
Ia menjauh dari pintu buru-buru, jatuh terduduk. Tangisnya pecah.
“JANGANNN" bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar. “Aku masih butuh kalian berdua”
Ia meraih bantal besar, bantal yang menjadi tamengnya selama berbulan-bulan terakhir. Ia menekannya ke telinga, berusaha mematikan dunia. Tapi suara itu tetap menembus:
“Kamu tidak pernah peduli tentang aku!” ayah berteriak pada ibu
“Kamu juga tidak peduli tentang keluarga ini!” ibu menyaut ayahhh dengan teriakan
Suara pecahan barang terdengar. Jantung Pricilia hampir terlompat dari dadanya.
“Berhenti… berhenti… tolong berhenti…” Ia memeluk bantalnya lebih erat, tubuhnya mengecil, menggigil.
___________________
Saat suara mereda menjadi gumaman marah yang dingin, Pricilia meraih dua boneka kainnya. Dengan tangan bergetar, ia menyatukan keduanya.
“Ayah bilang cerai…” isaknya tersengal.
“Tapi aku masih sayang kalian… bukankah kalian juga masih saling sayang?”
Ia memindahkan boneka itu saling berpegangan tangan. Tapi kemudian ia membayangkan teriakan… tudingan… air matanya jatuh membasahi boneka.
“Ayaaahhh, Ibuuuu, tolong jangan berpisah… Aku janji akan jadi anak yang baik… aku janji tidak akan bikin marah…”
Ia menatap langit-langit. Bintang dan planet fosfor di atasnya tampak redup malam ini.
Tidak ada cahaya yang bisa menenangkan.
Ia menaruh wajahnya di atas lututnya. Dan
Berdoa yang sangat sederhana:
“Ya Tuhan, aku hanya ingin "_rumah_" yang bahagi”
_____________________________
Pintu kamar terbuka sedikit. Ibu berdiri di ambang pintu, wajahnya masih menyisakan amarah, tapi kini bercampur dengan lelah.
“Pricilia, kamu belum tidur?” ibu bertanya dengan nada lembut
Pricilia buru-buru mengusap wajahnya. “Aku takut, Buuuu”
Ibu berusaha tersenyum, tapi suaranya serak.
“Semua baik-baik saja nak”
Pricilia menggeleng lemah. “Tidak. Aku dengar..... Ayah bilang _cerai_”
Ibu terdiam. Seketika mata Pricilia membaca kebenaran di sana.
“Bu, kalau kalian cerai, aku ikut siapa?”
Pertanyaan itu membuat Ibu menutup mata, menahan air mata jatuh.
“Maafkan Ibu ya nakk”
Itu satu-satunya jawaban.
Ibu memeluk Pricilia cepat sekilas. Hanya pelukan lemah. Lalu ia pergi, menutup pintu dan meninggalkan Pricilia dalam gelapnya ketidakpastian.
_____________________________
Beberapa minggu kemudian…
Rumah itu menjadi sunyi,, sangat - sangat sunyi.
Ayah pergi. Tak ada suara tawa beratnya lagi. Tak ada canda sarapan.
Hanya kamar kosong yang menganga.
Pricilia memeluk boneka berkaos biru malam itu.
Ia menempelkan boneka wanita bergaun kuning di sebelahnya,,berusaha menyatukan kembali keluarga yang hilang.
Namun kenyataan lebih kejam daripada mimpi buruk.
Ibu sudah sibuk dengan luka dan pekerjaannya.
Ayah sudah sibuk dengan hidup barunya.
Dan Pricilia *tetap tersesat di tengah*.
Malam itu, Pricilia kembali menatap langit-langit bintangnya.
Namun kini, satu per satu stiker bintang itu mulai mengelupas dan jatuh.
Seperti potongan harapannya yang ikut berjatuhan.
Ia memejamkan mataa dan bertanya lagi pada semesta yang selalu diam,,
“Kapan ini berakhir?”
Tidak ada jawaban.
Tidak ada yang memeluknya.
Hanya sepi yang menghantui.
Dan Pricilia pun mengerti
Ada luka,
yang tidak pernah benar-benar berakhir.
YOU ARE READING
kapan ini berakhir?
Non-Fictionbaca aja, seru san sedih pastinya, ohhh ya, kisah ini sesuai dengan kisah aku ya beberapaa
