Bab 1 - Panggilan dari Desa

598 23 8
                                        

Kebebasan di Balik Tembok Beton

Udara Jakarta selalu membawa beban kelembaban, tetapi di dalam rumah petak sederhana milik Andri dan Ayahnya, udara terasa ringan dan murni—dijaga oleh bau dupa cendana yang konstan dan kebebasan yang tak terucap. Rumah mereka adalah sebuah anomali. Di tengah hiruk-pikuk dan mata-mata tetangga yang serba ingin tahu, rumah ini adalah kuil ketelanjangan, sebuah prinsip yang diyakini Ayah, Prasetyo, sebagai bentuk kejujuran tertinggi terhadap raga.

Andri, 18 tahun, sedang menyelesaikan draft pidato kelulusannya di meja belajar. Ia mengenakan kaus tipis yang sudah usang, merasa gerah. Tetapi ia tidak bisa membayangkan bertelanjang bulat seperti Ayahnya. Bagi Andri, kebebasan Ayah adalah hal yang ia hormati, namun belum ia pahami.

Ia mendongak dari layar laptopnya ketika mendengar suara gemuruh rendah—suara khas Prasetyo.

Ayah berjalan dari dapur ke ruang tengah. Sosoknya adalah kontras sempurna dengan kesederhanaan rumah itu. Prasetyo adalah seorang bodyguard dan konsultan keamanan profesional, dan raganya adalah bukti nyata profesi tersebut. Tinggi, padat otot, dengan kulit sawo matang yang bersih kecuali pada bagian dada yang ditumbuhi bulu hitam lebat, memberinya aura maskulinitas yang kuat dan tak terbantahkan. Ia berjalan tanpa sehelai benang pun, hanya sehelai kain batik Parang yang ia sampirkan di bahu—yang lebih berfungsi sebagai aksen tradisi daripada penutup.

“Ndri.”

Suara Ayah yang dalam dan serak memecah keheningan. Ayah berdiri di ambang pintu kamar Andri, tubuhnya yang telanjang berdiri tegak seperti patung.

“Ada apa, Yah?” tanya Andri, menutup laptop. Tatapannya sebentar terpaku pada bahu Ayah yang lebar dan otot deltoid yang terbentuk sempurna.

Ayah duduk di kursi kayu di sudut kamar, tidak berusaha menutupi apapun. Di rumah ini, ketelanjangan Ayah adalah bahasa normal.

“Besok kau lulus. Resmi meninggalkan masa remaja,” Ayah memulai, suaranya tenang. “Dan itu artinya, janji yang sudah kita tunda tiga tahun ini, harus ditepati.”

Jantung Andri berdetak lebih cepat. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. Sejak ia berumur 15 tahun, ia sudah mendengar tentang tradisi yang diwariskan turun-temurun di kampung halaman kakeknya. Sebuah ritual yang sama asingnya dengan konsep nudism bagi orang Jakarta kebanyakan, namun di Lawu, ritual ini adalah kunci untuk menjadi Pria Sejati.

“Ayah bicara tentang Padepokan Lintang Timur?” tanya Andri, menggunakan nama yang selalu Ayah sebutkan dengan nada hormat.

Ayah mengangguk perlahan. Ia mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala, meregangkan bahunya yang lebar, membuat otot-otot di lengannya menegang.

“Paman Kartiko mengirimkan serat. Upacara kedewasaanmu sudah ditetapkan. Lima hari lagi kita harus sampai di sana,” kata Ayah. “Waktunya tiba, Nak.”

Andri merasakan dadanya sesak. Ia tahu ini lebih dari sekadar tour budaya.

“Ayah, aku harus urus pendaftaran kuliah. Apa tidak bisa ditunda enam bulan saja? Sampai aku selesai semester satu?” Andri memohon.

Prasetyo menggeleng tegas. Matanya yang cokelat gelap menatap tajam ke mata Andri.

“Tidak bisa, Ndri. Ini bukan liburan. Ini adalah tugas raga dan jiwa. Kau tahu, leluhur kita selalu percaya bahwa jiwa seorang lelaki mencapai titik genting di usia ini. Jika kau melewatkannya, kau akan selamanya menjadi anak laki-laki dalam raga orang dewasa. Kau tidak akan pernah utuh.”

Andri menelan ludah. Ia tahu latar belakang Ayah yang terbuka—seorang pria gay, yang juga penganut nudisme—membuat pemahaman Ayah tentang raga dan spiritualitas jauh lebih kompleks.

Sang Pewaris RagaWhere stories live. Discover now