"Tiga puluh tahun lagi, negara ini akan mencapai puncak peningkatan ekonomi. Negara adidaya pasti akan melakukan invasi besar-besaran terhadap negeri ini. Jelas, hal ini merupakan ancaman bagi mereka," ujar Mayor Eisenberg Von Falken, ahli strategi organisasi pertahanan negara bernama SERN.2
Tahun 2115, dunia terbagi menjadi tiga blok besar: Eurasia, Uni-Amerika, dan SEA (Southeast Asia). Indonesia menjadi pusat blok SEA, dan kemajuannya dianggap ancaman oleh Eurasia, memicu invasi terselubung. Untuk menghadapi itu, SEA membentuk organisasi khusus: SERN.
"Mayor, alutsista kita bahkan belum cukup untuk bertahan dari invasi kecil Eurasia. Satu bulan lalu, mata-mata Eurasia masuk dengan dikawal pesawat RH-172 Chaetura dan beberapa Eurofighter Typhoon II. Misi pencegatan berhasil, tetapi menimbulkan kerugian: beberapa Sukhoi SU-57E dan TAI-KAAN TFX gugur. Jelas pesawat kita sudah beda generasi dengan Chaetura."
Muncul ide di benak Eisenberg. Ia mengenal seseorang yang sangat jenius di bidang dirgantara. Dia pernah menjadi kolega pada awal pembentukan SERN. Dia adalah orang yang banyak membantu Eisenberg. Orang itu adalah Professor Albrecht Luftwaffe Weissach, pemilik IQ 230, dengan pemikiran berbasis sistem non-linear, memori ekstrem, dan kalkulasi secepat superkomputer.
Spontan, Eisenberg mengadakan diskusi darurat untuk menyergap Professor. Dia masih mengingat salah satu letak persembunyian Weissach, berisikan beberapa proyek lama Weissach. Ia menginstruksikan timnya untuk mengatur rute perjalanan dari koordinat yang telah diberikan, menyiapkan senjata, menggunakan perlangkapan penyergapan dan mempersiapkan 5 Sukhoi SU-57 untuk berjaga jaga.
Di laboratorium, Weissach sedang menguji model CAD sambil menyeduh kopi dan mendengarkan musik klasik. Ia mempelajari teori Crack Propagation, salah satu dasar desain pesawat. Purwarupa terbarunya, D-32 "Aerosmith", terinspirasi dari N250 "Gatotkaca". Ia memasang tiga mesin AL-41F—mesin Sukhoi SU-57—masing-masing bertenaga 177 kN. Pesawat ini dirancang sebagai bomber strategis jarak jauh dengan akurasi tinggi.
Belum selesai menyeduh dan menikmati kopi, terdengar ketukan pintu. Ia mengintip, dan melihat sekelompok pasukan bersenjata lengkap berrompi pelindung bertuliskan SERN. Sial, secara kebetulan Weissach sedang berada di tempat persembunyian yang dimaksud Eisenberg. Muslihat Eisenberg akhirnya tiba.
Tanpa suara, Weissach mulai bergerak cepat. Ia membakar dokumen berbahaya, mengambil beberapa data penting dan laptop, lalu kabur menuju basemen untuk mengemudi ke landasan rahasia. Saat pasukan menjebol pintu, laboratorium telah terbakar hebat. Api menyulitkan pandangan, namun berkat seragam tahan api, pasukan SERN tetap menembus ruangan—meski Weissach sudah lolos jauh.
Di hangar terpencil, Weissach segera menyiapkan pesawat: mengaktifkan reaktor nuklir, menyalakan APU, mengatur roda ke steering mode, mengaktifkan RWR, dan menghidupkan mesin ke idle.
WIIIIING—suara tiga mesin menggema.
Ia naik, menutup kanopi, lalu mulai taxiing. Sesampainya di landasan, throttle dinaikkan hingga afterburner. Pada 150 knot, ia menarik tuas, dan D-32 terangkat mulus.
Dari kejauhan, Eisenberg mendengar raungan jet. Ia sadar Weissach kabur. "Tor, monitor pusat. Kirimkan pencegat. Aku melihat Luftwaffe."
Tak lama, lima SU-57E AHT "Felon" berpatroli. Salah satu Felon mendeteksi D-32 di radar, dan menguncinya.
"Bogey spotted. Radar lock solid. Fox Three ready."
"Hancurkan," perintah Eisenberg.
"FOX THREE!"
VRRRM—FWOOOSH!
Weissach melihat jejak asap putih: rudal R-77. Ia segera melepas chaff—PFSSSH–TSSHH!—serpihan metal yang mengacaukan radar rudal. Ledakan terjadi di belakangnya. SERN hendak menembak lagi, namun pusat SEA memberi komando: "Hentikan penembakan. Negosiasikan pencegatan jarak dekat."
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Vulture Prophecy
Bilim KurguTahun 2115, dunia berada di tepi perang global. Di tengah ketegangan itu, Professor Albrecht Luftwaffe Weissach, ilmuwan jenius Angkatan Udara yang menghilang selama puluhan tahun, tiba-tiba kembali dan menggerakkan sebuah proyek yang berpotensi men...
