"assalamualaikum bundaaa.."
Samuel membuka pintu ruangan bunda-nya dengan senyum manisnya, bergerak kesan kemari, karyawan yang melihat tingkah samuel langsung tau bahwa anak bos mereka sedang dalam mood yang baik.
Sera yang sedari tadi sibuk dengan lembaran lembaran laporan dari para karyawannya menoleh ketika mendengar suara samuel.
"waalaikumussalam warahmatullahi wa barokatuh.." sera menjawab salam samuel.
Samuel segera menghampiri bundanya setelah meletakkan tasnya di sofa, memeluk tubuh sera dengan manja,membuat sera heran dengan tingkah samuel.
"anak sholeh bunda kenapa,hm?" tanya sera dengan tangan yang terulur untuk mengusap pucuk kepala putranya.
Samuel bergumam kecil tapi tidak terdengar sebab kepala samuel yang tenggelam dibahu sera.
Sera mengernyitkan dahinya, merasa tak mengerti dengan apa yang dibicarakan samuel. Sera menjauhkan tubuh putranya, menatap wajah manis putranya.
"ada apa,hm?" tanya sera sekali lagi dengan nada yang lebih lembut.
Samuel nyengir, matanya berbinar-binar. "el sekarang punya temen bundaa.. el seneng banget!! Bahkan bukan Cuma satu tapi lima sekaligus!." Ujar samuel dengan antusiasnya.
Sera tersenyum melihatnya, tapi ada kegelisahan yang menyelip dihatinya ketika mendengar perkataan samuel.
'aku tak bisa mengurungnya terus menerus, melihat samuel sebahagia ini mana tega aku melarangnya untuk terus menyendiri..'
Sera menatap samuel, bayangan bayangan yang menghantuinya selama ini kembali lagi. Tentang memori yang sudah seharusnya ia hapus dari dulu, tentang luka yang seharusnya sudah lama sembuh, tentang trauma yang seharusnya sudah lama menghilang.
Samuel menatap bunda-nya yang terlihat kosong pandangannya, samuel memanggilnya berkali-kali namun tak ada respon.
Samuel mengguncang tubuh bundanya berkali-kali, tapi tetap tak ada respon seperti yang ada ditubuh bundanya menghilang secara tiba tiba.
Dari luar tubuh sera nampak diam dan kosong, tapi didalam bathinnya, sera terus bergelut dengan kenangan kenangan menyakitkan yang pernah ia alami.
"rangga, rangga koma ser, rangga koma karena kecelakaan."
"rangga dipukul lagi ama bokapnya karena lindungin lo,sera."
"gara gara lo, rangga harus ikut perjodohan dengan cewe licik itu sera."
"mulut lo tuh sampah ser! SEMUA GARA GARA LO! GARA GARA LO KITA SEMUA JADI BUBAR!!"
"kok gua baru sadar ya, kata asa lo tuh egois! Lo Cuma nikmatin semua yang kita kasih dan ga pernah niat buat bantu selesaiin masalah kita semua! Egois lo! KECEWA GUA KENAL SAMA LO SERA!!!"
"ngapain lo masih kesini HAH?! Belum puas lo hancurin hidup rangga?! Belum puas lo hancurin tongkrongan kita?! BELUM PUAS LO HANCURIN HIDUP KITA SEMUA HAH?!!!"
"kehadiran lu tuh Cuma pembawa sial, dan sialnya, gua baru tau itu sekarang!!!"
Sera menggelengkan kepalanya ribut, tangannya menarik hijab yang ia kenakan hingga terlepas. Memukul kepalanya dengan kuat.
Samuel yang melihat pergerakan bundanya pun segera mendekatinya, tadi samuel berniat menelfon teman bundanya,om riko. Tapi batal karena melihat bundanya yang tiba tiba menggelengkan kepalanya hingga menarik hijabnya seperti itu.
"bunda!"samuel menangkap tangan bundanya, tapi tenaganya berubah lebih kuat bundanya.
Samuel semakin panik ketika melihat bundanya memukul kepalanya sendiri, badannya tak imbang dikursinya hingga terjatuh dari singgasananya.
Samuel semakin kalang kabut melihat bundanya yang terlihat berbeda dengan bunda yang biasa bersamanya.
"bunda! Bunda! Bun,istighfar bun! Ini el,bunda."
Samuel mengalungkan tangan kirinya ke leher sera, mendekapnya karna gerakan sera semakin brutal menyakiti dirinya sendiri. Samuel mendekap dengan erat berusaha meminimalisir cedera bundanya.
Tangan kanan samuel, mengambil ponselnya yang berada disaku celananya. tatapan samuel sesekali menatap bundanya yang masih memberontak dalam pelukannya. "bunda.. jangan kayak gini plis.. el takut bun.." suara samuel bergetar ketakutan.
fokusnya terpecah menjadi dua. ketakutannya terhadap bundanya dan menelpon riko.
Tubuh samuel mulai lelah, dekapan itu mulai mengendur seiringnya waktu, tapi samuel berusaha untuk mengeratkannya kembali.
Dering ponsel masih berbunyi, belum ada tanda tanda akan diangkat.
Samuel menatap bundanya, mencium pucuk kepala bundanya dengan sayang, sesekali membacakan ayat kursi ditelinga sang bunda.
Tuut
Baru terangkat sebentar, dari riko sudah mematikannya kembali. Samuel menghela nafasnya, padahal ia berharap agar mendapatkan bantuan dari om-nya. kemudian samuel terdiam mendengar ucapan ucapan lirih sera.
"bukan gua yang bikin rangga koma, dia koma karena dipukul papahnya. Dia yang ga mau dengerin gua buat stop minum miras.
Dia dipukul bukan karna gua kak bian, pliss.. percaya... gua... itu semua ulah mantannya yang jebak rangga..
Kenapa kalian ga percaya ama gua? Padahal dulu kalian yang bilang bakal selalu percaya ama gua.
Rangga amnesia bukan karena kecelakaan waktu itu, tapi dia dipukulin ama musuh geng motornya.
Rangga.. gua capek... gua capek dengan ssemua tuduhan itu..
Gua capek rangga.." suara sera sangat lirih, ia benar benar kelelahan kali ini.
Samuel yang mendengar itu merasa bingung, setau samuel, semua teman teman bundanya sangat baik pada bundanya dan dirinya. Samuel jadi penasaran dengan apa yang terjadi dimasa lalu.
Dada samuel terasa memberat, samuel menoleh kebawah dan mendapati bundanya yang sudah tertidur.
Samuel tersenyum lega, lalu mengangkat bundanya ke sofa untuk dibaringkan dan mengambil selimut dari lemari kamar yang ada diruangan sera. Samuel menyelimuti sampai dada bundanya, samuel tau bunda sangat nyaman jika tidur dengan tubuh yang dilapisi selimut atau kain lainnya.
Menghela nafasnya pelan, matanya melirik kearah ponselnya yang menampilkan riwayat telfon. Samuel sedikit mengerti sesuatu sepertinya.
Disini, samuel bersalah secara garis besar karena menjadi penyebab trauma bundanya kambuh.
'padahal ini hari pertama el dapet temen selain keluarga dari temen bisnis bunda. Tapi el malah bikin bunda sakit kayak gini..'
...........
seperti pagi hari biasanya, samuel melakukan aktifitas paginya, dengan senyuman juga lisan yang tak berhenti memuji sang maha kuasa dan jemarinya yang terus memutar biji-biji yang sudah dibuat melingkar dengan karet tipis sebagai perantaranya atau yang biasa disebut tasbih.
yang berbeda, sang bunda masih terbaring lemah diranjangnya. yang biasanya membangunkan samuel untuk melaksanakan sholat malam berjamaah kini samuel hanya bisa mengandalkan alarm yang ia setel sendiri.
sudah tiga hari sejak kejadian kemarin, samuel baru berani meninggalkan bundanya kesekolah saat bundanya yang mengatakan bahwa dirinya sudah baik-baik saja dengan nada yang agak dipaksakan.
samuel hanya menurut saja, apalagi memang keadaan bundanya sudah mulai membaik.
turun dari kamarnya, langsung menuju dapur untuk memasak sarapan untuknya dan sang bunda. menata nya dengan rapih, membuat hidangan tersebut terlihat menarik.
"semoga bunda suka..." ucapnya dengan senyum bahagianya.
tentu samuel merasa bahagia, bukan karena bisa meninggalkan bundanya tapi karena bundanya yang sudah membaik dan juga semalam ia mendapatkan pesan dari arka.
"kalo gitu, gua tunggu diparkiran sekolah ya.."
kalimat sederhana yang mampu membuat seorang SAMUEL NABIL AR-RASYID menjadi senyum senyum sendiri.
______________
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA DAN MEMBERI DUKUNGAN.
29'11'25
YOU ARE READING
SAMUEL ; Aku pulang.
Teen Fiction"Samuel, kenapa sih Lo ga mau pacaran aja? Lo ga liat tuh cewek cewek yang selalu ngantri buat ngasih Lo minum dan rela serek suaranya cuma buat nyemangatin Lo doang." Ujar Zian dengan wajah herannya. Samuel menggeleng lalu tersenyum. "Bukan Samuel...
