Kalau kalian berpikir sekolah adalah tempat yang teratur, damai, dan penuh perencanaan matang, kalian jelas belum pernah menginjakkan kaki di ruang guru SMA Meishin. Ini adalah tempat di mana kopi, gosip, dan saling menyalahkan pihak lain menjadi tiga pilar suci yang jauh lebih penting daripada rapat "Persiapan Awal Semester Baru".
Tentu saja, karena dunia ini butuh keseimbangan, ada satu makhluk langka yang menolak hidup dalam kekacauan.
Bu Guru Sakura.
Guru matematika. Teratur. Teliti. Berpegang teguh pada aturan seperti manusia berpegang pada oksigen. Dengan blazer hitam serapi garis grafik linear, beliau sedang menyorot (highlight) nama-nama siswa di file Excel, seperti sebuah ritual sakral bagi mereka yang takut data hilang.
Sayangnya, makhluk di sekelilingnya tidak selevel itu.
Di sampingnya, seorang guru sejarah perempuan sedang meminum kopi ukuran ember sambil mendesah berat, seperti hidupnya bergantung pada kafein.
"Sekolah kita sudah dapat dua belas rekomendasi beasiswa? Kalau nggak dapat, bisa kena tegur katanya."
Guru Bahasa Inggris di sebelahnya menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari kopinya. "Kayaknya udah. Itu urusan divisi penerimaan siswa baru. Untungnya saya nggak ikut divisi itu tahun ini. Capek lihat mereka berantem tiap hari."
Guru sejarah mendengus sambil memutar mata. "Aturan gubernur baru itu aneh-aneh banget. Yang di bawah keteteran, dia tinggal makan sushi buat makan siang. Kita? Gaji kecil, kerja kayak kuda."
Guru Bahasa Inggris tertawa pendek, tawa khas orang yang sudah putus asa tetapi belum siap resign. "Itu sih biasa, Bu. Yang penting kita nggak keseret. Orang baru, aturan baru... biar kelihatan kerja."
Mereka tertawa lagi. Kopi hampir tumpah. Rasa frustrasi menguap bersamaan dengan aroma biji kopi Brazilian roast.
Sementara itu, Bu Sakura yang duduk tepat di sebelah mereka terus menyorot nama siswa satu per satu, seolah sedang melakukan operasi penyelamatan nyawa. Dalam hati, beliau berucap pelan,
"Kalau mereka rapiin Excel serius seperti mereka highlight gosip politik, sistem sekolah kita mungkin masih bisa diselamatkan."
Suasana pagi hari yang normal bagi manusia-manusia yang jenuh dan lelah akan tugasnya. Sementara file Excel berteriak minta dirapikan, mereka lebih memilih untuk menyetok kafein.
Namun, ini belum bencana sosial yang sesungguhnya. Bencana itu baru terjadi di ruang rapat.
Rapat resmi seharusnya dimulai pukul delapan. Tapi di SMA Meishin, "pukul delapan" artinya "ketika kopi sudah habis dan semua orang selesai mengeluh tentang hidup".
Jadi, pukul 08.17 barulah Wakil Kepala Sekolah berdiri di depan layar proyektor.
"Baik, mari mulai rapat persiapan semester baru"
Belum lima detik bicara, sebuah teriakan kecil pecah dari staf administrasi yang duduk di barisan depan.
"B-Bu! Data siswa baru... ini aneh!"
Dua puluh pasang mata langsung menoleh. Staf yang terkenal dengan rekor kehilangan pulpen tercepat itu kini menatap layar laptopnya dengan wajah mengerut seperti kertas kusut.
"Nama-nama siswa di file ini... cuma ada seratus enam. Harusnya seratus delapan belas!"
Semua orang langsung panik, bukan karena peduli, tapi karena takut ditegur pihak yayasan.
Guru sejarah menghela napas panjang. "Dua belas siswa itu lagi? Aduh, ini pasti buntut aturan gubernur itu..."
Guru bahasa Jepang yang sejak tadi mengunyah roti melon langsung menimpali, "Saya sudah bilang, data itu harusnya dikumpulkan per abjad, bukan berdasarkan siapa yang duluan bayar SPP!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Asrama No. 9
Fanfictiondi balik pagar sekolah SMA Meishin yang tampak biasa, disitulah kekacauan administrasi yang buat 12 siswa baru di lupakan. Awal mula berdiri Asrama No. 9 - rumah sementara bagi dua belas remaja dengan kepribadian yang sama sekali nggak biasa. Mulai...
