•
•
Happy reading
•
•
•
•
•
•
Udara pagi terasa segar, cahaya matahari belum terlalu terik. Dari dapur terdengar suara panci beradu dan aroma masakan sederhana mulai menyebar ke seluruh rumah. Hari baru berjalan seperti biasanya. Tapi tidak untuk keluarga Elemental - hari itu, ada kejutan besar yang akan datang. Sesuatu yang mungkin akan mengubah kebiasaan para penghuni rumah itu selamanya.
Saat Gempa memasak di dapur, aroma masakannya begitu harum hingga membuat para saudara dan ayahnya terbangun dari tidur lelap.
"PAGI!" sapa Blaze dengan semangat. "Pagi juga, Ze," jawab Gempa dengan senyum lembut.
Satu per satu saudaranya datang ke meja makan untuk mengisi perut yang sudah lapar.
"Tumben masak banyak hari ini, kak?" tanya Solar sambil menatap meja makan yang penuh makanan. "Iya, kan hari ini ada yang akan datang," jawab Gempa tanpa menoleh. Fokus akan masakan yang ia buat.
"Iya, hari ini saudara kalian ada yang pulang ke sini," kata sang ayah tiba-tiba sambil duduk di kursinya.
"Apa 'dia' benar-benar akan pulang?" tanya Hali tenang. "Iya, Nak," jawab sang ayah pelan.
"Aku benci ini," ucap Blaze dengan nada kesal, diikuti anggukan dari Solar. "Kenapa?" tanya Gempa yang sudah selesai memasak. "Yah, 'dia' itu orang kota. Pasti jijik sama kita yang cuma orang desa!" ujar Blaze lantang, disetujui oleh beberapa saudaranya.
"Hei, jangan berkata seperti itu. Kita belum tahu dia seperti apa," tutur sang ayah lembut. "Sudahlah, Ayah cuma ingin kalian bersikap baik padanya," lanjutnya.
"Baiklah, Yah," jawab hampir semua orang di meja makan, kecuali Blaze. "Nggak! Nggak mau! Kalau dia nanti semena-mena sama kita, aku nggak akan diam aja!" jawab Blaze penuh emosi.
Sang ayah hanya bisa menghela napas panjang. "Ya sudah, terserah kamu. Pokoknya, berusahalah untuk bersikap baik," ucapnya tenang. Tidak ada jawaban dari Blaze - anak itu hanya diam, matanya menatap ke luar jendela.
---
Mobil melaju cepat di jalanan. Di dalamnya ada dua orang: seorang ayah dan anaknya. Tak ada percakapan di antara mereka. Hening.
Sampai akhirnya, sang ayah memecah keheningan itu. "Taufan, jaga sikapmu. Jangan membuatku malu di sana nanti," ucapnya dingin. "Baik," jawab Taufan pelan namun sopan.
Tak lama, mereka sampai ditempat tujuan mereka. Disana mereka disambut dengan hangat oleh penghuni rumah- bukan hanya Amato selaku ayah kandung taufan yang menyambut mereka dengan hangat. Sementara, saudara saudara yang lain sudah menatapnya tak suka dan dapat terlihat gempa tersenyum paksa.
"Pagi tuan thunderstorm" salam Amato untuk ayah tiri Taufan, Thunderstorm.
"Pagi juga pak Amato" jawabnya pada Amato dengan muka datar.
Amato yang melihat anak nya yang sudah lama tak bertemu akhirnya segera memeluk Taufan untuk melepas rindu. Yang dipeluk hanya bisa tersenyum kaku, tangan nya agak gemetar dan tetap diam tidak membalas pelukan sang ayah.
Napas nya tertahan. Hangat, kehangatan yang belum pernah ia rasakan semasa hidup di kota. Dia sangat ingin membalas pelukan sang ayah. Apakah aku pantas mendapatkannya? batin taufan mengurungkan niatnya.
"sudah lama kita nggak ketemu, nak" ucap Amato dengan tersenyum lembut "ayah senang kamu baik baik aja" lanjutnya.
Sementara itu, saudara yang sedari tadi melihat itu menatap Taufan dengan wajah tak suka dengan sikap Taufan.
Amato melepaskan pelukannya dari Taufan "oh iya, bagaimana jika anda makan disini dulu tuan thunderstorm pasti anda lelah setelah perjalanan jauh" ajak Amato dengan lembut.
"tidak usah, saya langsung saja," tolak Thunderstorm.
"Taufan baik baik disini" ucap nya datar dan segera meninggalkan tempat itu.
Taufan hanya bisa melihat ayah angkat nya pergi dari sana. Dan kemudian melihat ke arah ayah kandungnya.
"nak, ayo masuk, tadi adik pertama mu sudah membuatkan masakan yang enak untuk mu" ujar Amato dengan lembut dan penuh senyuman. Dan hanya diangguki oleh Taufan.
Mereka masuk ke dalam rumah dengan Taufan yang membawa barang barang nya.
"hali, tolong tunjukkan mana kamar tempat adikmu ini" suruh Amato kepada Halilintar.
"baik yah" jawab halilintar yang mau tak mau harus mengantarkan 'anak kota' itu menuju ke kamarnya.
"ni kamarmu, taruh barangmu dan cepatlah, semua udah nunggu di meja makan" ucap Halilintar sarkas dan tetap menunggu di depan pintu.
"baik" jawab Taufan patuh dan langsung meletakkan barangnya dengan cepat. Sampai membuat Halilintar tercengang melihat kecepatan anak itu. Namun, tak dihiraukan oleh halilintar.
"saya sudahh siap tuan halilintar" kata taufan pelan. "panggil kak aja" jawab halilintar, mereka berjalan menuju meja makan disana dapat terlihat jika semua saudaranya sudah menunggu kehadiran mereka.
Halilintar duduk di kursi yang biasa ia duduki disisinya ada gempa dan didepannya ada satu kursi kosong yang disediakan untuk Taufan. Tapi, anak itu tetap diam di tempat ia berdiri sekarang, sampai ayahnya menyuruh untuk duduk di kursi itu.
"Kamu sudah saya daftarkan sekolah disini, jadi mulai besok kamu harus mulai bersekolah bersama saudara saudaramu yang lain" ujar Amato kepada Taufan.
Namun, hanya di jawab singkat oleh Taufan "baik" ucap Taufan dengan perasaan canggung.
Setelah selesai makan mereka sibuk dengan urusan mereka masing masing. Melihat itu Taufan kembali ke kamarnya. Kamar yang tak asing baginya. Ya, itulah kamar yang dulu ia tinggali saat masih baik baik saja.
Tangan nya perlahan membuka pintu kamar. Ia berhenti sejenak, terasa hawa yang dingin dalam kamar.
Kakinya melangkah pelan memasuki kamar itu. 'kapan terakhir kali aku berada dikamar ini?' tanya nya dalam hati.
Kenangan terlintas dalam pikirannya. Ia ingat jelas. Dulu ini adalah tempat ia bermain bersama saudaranya, mulai dari menggambar sampai bertukar cerita yang dipenuhi dengan canda tawa.
Dulu, saat ia sakit disini lah tempat ternyaman nya untuk beristirahat. Dengan ditemani sang bunda yang selalu berada di sampingnya.
Namun, sekarang ia tak pernah lagi melihat ibundanya. Sejak ia melihat pernikahan bunda dengan ayah barunya.
_________________________________________________________________________________________
sorry kalo ada typo :)
YOU ARE READING
Two options [OG]
ActionTaufan adalah anak ke 2 dari 7 bersaudara. Dulu ia sangat bahagia dengan apa yang dia miliki, ia juga sempat berfikir jika ia adalah anak yang paling beruntung karena memiliki keluarga yang harmonis. Bahkan senyumannya tak pernah pudar diwajahnya...
![Two options [OG]](https://img.wattpad.com/cover/404526753-64-k735992.jpg)