Indikator Bensin dan Keheningan Pukul Dua

4 0 0
                                        


​Kiho adalah proyek master ayahnya, Tuan Besar Kiho-sebuah mahakarya presisi yang diprogram untuk kesuksesan. Selama dua belas tahun, Kiho telah dibentuk untuk menjadi Pewaris yang sempurna. Di SMA Swasta Nata, ia adalah representasi dari idealisme: seragam yang rapi, posisi Ketua OSIS yang bergengsi, dan nilai-nilai yang menjamin masa depan gemilang di bawah nama besar keluarga. Namun, di balik semua keunggulan yang dipresentasikannya, terdapat sebuah kelelahan yang akut, sebuah kesadaran bahwa kesuksesan itu bukan miliknya, melainkan cetakan orang lain.
​Malam itu, rasa lelah itu mencapai puncaknya. Ia baru saja menyelesaikan revisi presentasi investasi yang dipaksakan ayahnya hingga pukul 01.30. Ayahnya tidak marah; ia hanya kecewa dengan nada suara yang tenang, dan kekecewaan itu jauh lebih melukai daripada amarah. Begitu ayahnya tidur, Kiho melakukan satu-satunya bentuk pelarian yang ia izinkan untuk dirinya sendiri: mengendarai motor sportnya.
​Ia melaju tanpa tujuan. Kecepatan adalah katarsis. Ia keluar dari kawasan elitnya yang teratur, menjauh dari lampu-lampu rumah mewah yang menjanjikan kemewahan palsu. Ia mencari area abu-abu, perbatasan antara dua dunia yang ia kenal: dunia harapan Ayahnya dan dunia nyata yang tidak punya harapan sama sekali.
​Jalannya sunyi, hanya diterangi oleh lampu jalan yang jaraknya berjauhan. Tepat saat ia berpikir untuk berbalik dan menghadapi hari yang lain, lampu indikator bahan bakar motor sportnya menyala merah menyala. Sebuah peringatan yang memaksa, sebuah kebutuhan mendesak yang mengganggu momen kontemplasinya. Kiho lupa mengisi bensin.
​Satu-satunya tempat pengisian bahan bakar yang buka 24 jam di jalur itu adalah sebuah pom bensin tua, tersembunyi di dekat pintu tol yang jarang digunakan. Tempat itu tampak terlupakan, diselimuti kegelapan malam, hanya disinari cahaya neon kuning pucat dari atap minimarket di sebelahnya.
​Kiho memarkir motornya di samping pompa, merasakan panas mesin yang kontras dengan dinginnya udara malam. Ia mengisi bensin, melepaskan helm full-face yang berat-simbol kebebasan sesaat-dan sarung tangan kulitnya, meletakkannya di atas jok. Kelelahan dan kekosongan membuat perutnya meronta. Kopi yang kuat, itu yang ia butuhkan.
​Ia masuk ke minimarket. Pintu kaca berderit pelan, bunyi yang terdengar nyaring dalam keheningan pukul dua pagi. Udara di dalamnya dingin dan lembap, berbau campuran karet ban baru dan kopi instan.
​Di belakang konter, duduk seorang pemuda, seumuran dengannya, mungkin sedikit lebih tua. Dia mengenakan seragam minimarket yang agak kebesaran, tampak kuyu. Postur bahunya membungkuk, seolah menahan beban shift malam yang panjang. Pemuda itu, yang Kiho akan kenali sebagai Ken, sedang fokus. Matanya terarah pada sebuah buku catatan kecil yang ia letakkan di samping mesin kasir, jarinya memegang pulpen, menghitung sesuatu. Dia tidak menyambut Kiho; dia bahkan nyaris tidak menyadari kedatangannya.
​Kiho menuju mesin dispenser yang berisik, mengambil kopi hitam pahit, dan menambahkan satu batang cokelat dark ke keranjang tangannya. Ia meletakkan barang-barang itu di konter.
​Ken mengangkat kepalanya perlahan. Ekspresinya netral-tidak ramah, tidak juga kesal. Itu adalah wajah yang terbiasa bekerja keras dan tidak mengharapkan apa-apa. Ia memindai barang-barang Kiho dengan gerakan tanpa emosi, lalu Kiho menyerahkan kartunya.
​Sambil menunggu transaksi diproses, Kiho menatap pantulan dirinya di kaca konter yang temaram. Ia melihat kemeja putihnya yang kusut dan kerah leher yang longgar. Itu adalah tampilan orang yang baru saja lolos dari sangkar. Frustrasi atas tuntutan yang tak pernah berakhir tiba-tiba memaksanya bergumam. Ia tidak bermaksud berbicara kepada Ken, tetapi kepada pantulannya sendiri.
​"Kenapa harus selalu memilih yang layak?" Kiho bergumam, suaranya serak dan pelan. "Melakukan hal yang benar-benar kubenci, hanya agar terlihat sukses. Apa gunanya?"
​Transaksi selesai. Mesin EDC berbunyi bip pelan. Ken menarik kartu Kiho, mengembalikannya, dan menyerahkan kantong plastik berisi kopi dan cokelat.
​Selama proses singkat itu, Ken tidak pernah melakukan kontak mata. Tatapannya tetap terfokus pada mesin kasir, keheningannya menjadi lapisan pelindung bagi dirinya sendiri di tengah malam. Dia hanya mengambil pulpennya kembali, melanjutkan perhitungan di buku catatan kecilnya, seolah-olah Kiho hanyalah bayangan yang melintas sebentar.
​Dia tidak merespons gumaman Kiho. Dia tidak menunjukkan simpati atau memberi nasihat klise. Dia hanya diam, sebuah keheningan yang penuh dengan kejujuran kerja keras.
​Keacuhan itu-fokus murni Ken pada tanggung jawabnya sendiri, jauh dari drama Kiho-menghantam Kiho dengan dampak yang lebih besar daripada teguran manajer mana pun. Itu adalah sebuah kenyataan yang tidak meminta belas kasihan, sebuah keheningan yang mengatakan: Di luar sana, orang-orang sibuk bertahan hidup, bukan mengeluh tentang pilihan 'layak' yang mereka miliki.
​Kiho menarik napas panjang. Keheningan itu telah memberinya jeda yang lebih bernilai daripada kopi terkuat. Ia mengambil kantong belanjaannya dan segera berbalik. Tidak ada yang perlu dikatakan lagi. Ia hanya perlu pergi, membiarkan kasir itu kembali ke dunianya yang tampak jujur.
​Ia keluar tanpa melihat ke belakang, membiarkan pintu berderit sekali lagi.
​Saat motornya kembali melaju di jalanan yang gelap, meninggalkannya di belakang pancaran neon kuning yang dingin, Kiho tahu bahwa bensin yang menipis hanyalah pemicu. Kunjungan yang dipaksakan itu telah memberinya lebih dari sekadar bahan bakar. Siluet kasir yang lelah dan bisu itu telah menjadi sebuah titik fokus, sebuah anomali dalam hidupnya yang serba terencana.
​Ia harus kembali. Bukan untuk kopi atau bensin, tetapi untuk keheningan yang jujur itu. Ia harus kembali dan melihat pemuda itu sekali lagi. Dan ia memutuskan, ia akan kembali besok malam.

2 A.M (BL)Stories to obsess over. Discover now