Zia hanya iseng bermain anonymous chat malam itu.
Tidak ada niat khusus, hanya ingin mengalihkan pikiran sebentar.
Sampai akhirnya ada seseorang yg membuat hidup ny berubah
"ceco?
"co"
Dan tanpa sadar,
seseorang yang awalnya anonim...
menjadi seseor...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Awalnya, Zia sama sekali tidak menyangka kalau sebuah pesan dari akun anonim di Telegram bisa mengubah hidupnya. Malam itu, ketika rasa bosan mengganggunya, ia membuka fitur *Anonymous Chat* hanya untuk mengobrol dengan orang asing. Tidak ada ekspektasi, tidak ada tujuan.
Sementara di tempat lain, Aldi juga sedang melakukan hal yang sama—sekadar mencari teman cerita. Saat sistem mempertemukan mereka, percakapan dimulai dengan hal sederhana: nama palsu, hobi, lagu favorit. Semuanya terdengar biasa... sampai sebuah panggilan muncul.
> "Kamu adik aku sekarang, oke?"
> "Iya, Kak Aldi."
Dari situ, mereka saling mencari, saling tunggu setiap hari. Hubungan "adik-kakak" online itu berubah menjadi candaan manis, lalu berubah menjadi hal yang lebih hangat... dan lebih membuat deg-degan.
Hari-hari mereka dipenuhi pertanyaan pendek tapi berarti:> "Udah makan?"> "Kamu kangen aku enggak?"> "Kalau nanti kita ketemu beneran, kamu bakal tetap mau sama aku?"
Batas adik-kakak itu akhirnya hilang. Mereka mengakui apa yang sebenarnya tumbuh di antara mereka:
**rasa suka yang salah waktu, tapi benar rasanya**.
Sayangnya, ada jarak yang tidak bisa mereka sentuh. LDR membuat rindu seperti sesuatu yang menyakitkan, dan perbedaan usia sering jadi hal yang diperdebatkan—baik oleh orang di sekitar mereka, maupun oleh mereka sendiri.
Kadang mereka terlalu jauh untuk disebut bersama...Tapi terlalu dekat untuk disebut tidak ada apa-apa.Ada hari dimana mereka saling yakin:
> "Aku mau kamu, apapun orang bilang."
Dan ada pula hari yang penuh keraguan:> "Apa kita bisa bertahan kalau jarak ini terus ada?"
Mereka tidak punya jawaban sekarang.
Yang mereka miliki hanyalah rasa saling percaya dan percakapan yang selalu kembali—meski bertengkar, meski saling diam untuk sementara.Karena bagi mereka, cinta tidak selalu harus langsung dimengerti.Kadang cinta cukup untuk **diperjuangkan perlahan**.Akhirnya, kisah mereka dibiarkan tetap berjalan—melalui pesan, panggilan suara, dan mimpi-
mimpi yang belum tahu kapan akan jadi nyata.
Apakah Zia dan Aldi akan bertemu?
Akan bersama?
Atau justru hanya menjadi kenangan manis?Untuk saat ini...**kisah mereka belum selesai**.---