BAB 1 ++

125 7 0
                                        

Cahaya pagi menerobos perlahan melalui celah tirai, jatuh lembut di atas seprai putih kusut yang masih menyimpan jejak semalam. Bonnie menggeliat kecil, tubuhnya terasa hangat namun sedikit lemas, seperti habis dilanda badai yang lembut tapi intens. Selimut yang membungkusnya melorot sedikit, memperlihatkan pundaknya yang penuh bekas merah samar.

Udara kamar masih mengandung aroma halus parfum Freen-maskulin, dingin, dan sedikit musky. Aroma yang entah kenapa membuat Bonnie ingin kembali tidur... atau kembali tenggelam dalam pelukan orang yang meninggalkannya pegal begini.

Bonnie membuka mata pelan.Kamar terasa terlalu sunyi.

"Freen...?" gumamnya setengah sadar.

Tidak ada jawaban. Hanya suara shower di kamar mandi. Bonnie menelan ludah, pipinya memanas saat ia sadar betapa dinginnya udara mengenai kulitnya-karena tidak ada sehelai kain pun yang menempel di tubuhnya selain selimut.

Bonnie menarik selimut lebih erat, tapi rasa perih manis di leher membuatnya menegang.

"...Astaga."

Dia meraba titik itu-dan rasanya langsung ketahuan: Freen meninggalkan tanda. Banyak.

Bonnie buru-buru meraih ponsel, membuka kamera depan, dan-Matanya membesar.

Satu hickey besar berwarna merah tua tepat di sisi leher kiri. Dan dua bekas lebih kecil di bawah tulang selangka. Dan satu lagi... oh Tuhan... sedikit terlalu dekat ke bagian dada."Freen Chan!" Bonnie memprotes ke udara.

Seolah mendengar namanya, pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat keluar bersamaan dengan Freen yang melangkah ke dalam kamar.

Rambut Freen masih basah, menetes perlahan, membuat garis tipis air menuruni leher hingga bahunya. Hanya handuk putih yang melilit tubuh rampingnya. Bahu lembut namun tegap, otot punggung yang samar, dan tatapan mata tajam yang masih sedikit mengantuk-pemandangan itu cukup membuat Bonnie menarik napas sedikit lebih cepat.

Freen menyeringai begitu melihat Bonnie terbelalak memandangnya.

"Kamu sudah bangun, Mrs. Chan?" suaranya serak, lebih berat dari biasanya.
Nada "habis bangun tidur"-dan "habis menghabisi seseorang semalam".

Bonnie memelototinya sambil tetap meringkuk di bawah selimut.
"Kamu! Lihat apa yang kamu lakukan di leher aku!"

Freen mendekat pelan, langkahnya santai tapi mematikan. Dia naik ke ranjang, menumpukan satu tangan di sisi kepala Bonnie, membuat tubuh Bonnie terperangkap di antara selimut dan aroma sabun mandi yang segar.

"Hmm..." Freen menurunkan wajahnya, jaraknya cuma beberapa milimeter dari leher Bonnie.

"Aku ingat yang itu. Kamu yang narik aku lebih dekat."

"S... sama sekali nggak!" Bonnie langsung menutup wajah.Freen tertawa pelan, suara rendah dan menggoda.

"Oke. Kalau kamu bilang begitu."

Bonnie makin tersipu.

Freen menyibak selimut sedikit, memperlihatkan bahu Bonnie.
Mata Freen langsung jatuh pada bekas merah di sana.

"Cantik," bisiknya.

"Aku suka melihat kamu dengan tanda aku."

"Freen, aku kuliah hari ini..." suara Bonnie melemah. "Gimana aku mau nutupin ini semua?"

"Pakai scarf?" Freen menawarkan sambil menahan senyum jahil.

"Tadi malam kamu kasar!" Bonnie mengeluh.

"Enggak," Freen membalas cepat. "Kamu yang manja."

Bonnie mau membantah, tapi Freen sudah menempelkan bibirnya ke hickey yang paling besar. Mengecupnya dengan pelan, lembut, tapi panas-seolah ingin membuatnya tambah merah.

Rumah Yang Ku PilihStories to obsess over. Discover now