Jay - Mine

10 0 0
                                        


Hai, namaku Lee Eunji. Aku adalah murid biasa yang tidak terlalu menonjol dalam berbagai bidang. Hanya siswa biasa dengan pencapaian nilai yang juga tidak di atas rata-rata. Oh, aku juga termasuk murid yang kurang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Ey, kedengarannya sih monoton sekali kegiatanku sebagai seorang siswa. Tapi aku tidak merasa begitu, justru aku begitu semangat berangkat sekolah setiap harinya. Ah, apalagi sih alasannya jika bukan karena ingin bertemu dengan cowok yang kusukai, hehehe.

“Eunji, lihat itu Jay.” bisik temanku. Kami berdua berjalan di koridor samping lapangan basket. Ah, selama ini temanku memang selalu menjadi tempat terbaik untuk menceritakan seluruh perasaanku terhadap laki-laki itu.

“Ssttt, jangan heboh!” bisikku yang membuat kami berdua terkekeh kecil.

Sejujurnya aku tidak bisa tidak memperhatikan dia, kakak kelas yang populer dan tampan. Setiap kali aku melihatnya, jantungku berdebar kencang. Aku suka cara dia tersenyum, aku suka mata elangnya yang tajam, cara dia berbicara dengan percaya diri, dan cara dia membuat semua orang di sekitarnya merasa nyaman. Jay itu tipekal anak populer yang hangat dan ramah.

Aku hanya merasa seperti aku tidak punya kesempatan untuk mendekatinya, karena dia terlalu sempurna dan aku hanya seorang siswa biasa. Tapi, aku tidak bisa membantu perasaan ini yang terus tumbuh di dalam hatiku. Setiap hari, aku dibuat jatuh cinta olehnya. Setiap waktu rasa rindu ini membuatku sekarat dibuatnya, seakan-akan aku ingin laki-laki itu terus berada di ranah penglihatanku. Kalau tidak melihatnya sehari saja, duh rasanya mau mati.

“Hey, Eunji. Lempar bolanya ke sini,” teriak Heeseung.

Ah, laki-laki menyebalkan itu selalu saja mengusikmu. Kalian berdua teman sekelas, sedangkan Jay berada di kelas sebelah.

“Aku sibuk, mau pulang!” teriakmu malu.

“Hey, ini kesempatan yang bagus. Ayo berikan bolanya pada Jay,” saran temanmu.

Temanku ini memang sedikit gila, selalu saja menyarankan hal-hal nekat yang membuatku menggelengkan kepala.

“Eunji, ayo lemparkan bolanya!” titah Heeseung teriak kembali.

Bodohnya, bukannya di lempar justru aku mengambil bola tersebut, lalu melangkah mendekati lingkaran anak laki-laki basket tersebut sambil memberikan bola.

“Ini!” ucapku ketus.

Beberapa anak laki-laki tersebut tertawa.

“Nah, Jay. Tadi kau pilih dare'kan?” tanya Sunghoon memastikan.

Jay hanya mengangguk kecil, sambil memperhatikanku dari atas sampai bawah. Ya, sejujurnya Jay tidak terlalu memperhatikan para gadis di sekolah ini. Jadi mungkin kesannya, ini seolah pertemuan pertama kali Jay melihat gadis sepertiku di sekolah ini.

“Ayo, Jay. Lakukan! Mumpung area sekolah sudah sepi,” saran Jake.

Oh, sejujurnya aku tidak paham akan arah pembicaraan mereka. Merasa terintimidasi lantas aku segera pergi, namun Jay dengan segera menahan tanganku. Aku menatapnya heran, lalu bergantian menatap para anak laki-laki tersebut yang mulai terkikik.

“Maaf, ya. Aku sedang bermain game truth or dare.”

Setelah mengucapkan permintaan maaf, Jay meraih pinggangku. Lalu tangan satunya lagi menarik tengkukku. Kejadiannya begitu cepat, sampai-sampai kesadaranku tidak bisa mencerna bahwa Jay baru saja sedang menciumku. Karena suara sorakan dari para teman-temannya, membuatku sedikit tersadar. Aku mendorong bahunya Jay, laki-laki itu menjauh dan menatapku dengan kosong. Berbeda denganku yang masih terkejut dengan kejadian barusan.

“Ayo, ciumannya lebih lama lagi.” saran Heeseung yang membuatku menatap nyalang kepadanya.

Aku segera berlari, menuntun temanku untuk segera pergi dari area sekolah. Ah, bahkan di sepanjang pulang dia menuntut meminta penjelasan. Aku bahkan dibuat kalang kabut karena perasaanku benar-benar dibuat tidak karuan.

Sesampainya di rumah, aku segera merabahkan diri di atas kasur. Mencoba mencerna kembali dan mengingat tentang kejadian di sekolah tadi. Tidak ada hujan, tidak ada angin tiba-tiba saja diriku dijadikan korban truth or dare. Malah tepat sasaran lagi. Aku memukul kepalaku dengan bantal kecil. Memikirkan bagaimana hari besok ke sekolah.

Dulu aku suka memperhatikan Jay dari jauh, melihat cara dia berinteraksi dengan teman-temannya, dan mencoba memahami apa yang membuatnya begitu spesial di dalam jiwaku. Dulu aku tahu bahwa aku mungkin tidak memiliki keberanian untuk mendekatinya, tapi kejadian hari ini membuat perasaanku semakin membara.

“Oh, ayolah. Itu hanya permainan truth or dare! Aku tidak boleh terbawa perasaan!-tunggu. Tapi itu ciuman pertamaku.”

Sejujurnya aku dibuat kesal, marah, bingung dan juga senang. Apakah Jay juga merasakan bibirku seperti aku merasakan bibirnya? Jika mengingat hal itu kembali membuat pembuluh darahku mengalir seperti heroin. Boleh tidak, jika aku mengakui mutlak bahwa Jay menjadi milikku karena ciuman tadi? Rasanya seperti aku sudah memiliki Jay. Ciuman tadi seolah meresmikan bahwa Jay akan selalu menjadi milikku. Jay akan selalu menjadi milikku walaupun kenyataannya hanya sedikit kemungkinan.

Walaupun hanya sekadar permainan truth or dare, aku akan selalu menyimpan kenangan itu menjadi sebagian dari hidupku. Aku pun berharap Jay seperti itu. Karena saat Jay menciumku, aku harap itu akan tertulis dalam sejarah hidupnya. Aku juga berharap Jay tidak akan menyesali perbuatannya, karena sejatinya aku dan ciuman itu akan terus hidup di memori laki-laki tersebut, membiarkan mengingat kembali ciuman tersebut. Berulang-ulang kali.

-END-
🌊
Halo, ini Ocean. Terimakasih sudah membaca dan memberikan reaction ya, Engene.

FF Oneshot EnhypenStories to obsess over. Discover now