1. Melintasi Dunia Berbeda

126 71 243
                                        

Napas memburu. Jantung berpacu, bertalu-talu menghantam dada hingga terasa menyesakkan.

Kakinya tak berhenti berlari, menembus rimbun hutan, menjauh dari para kesatria kerajaan yang mengejar di belakang. Suara ranting patah beradu dengan teriakan yang silih bersahutan.

"Tuan putri, tolong berhenti!"

Sang putri tak menanggapi, terus berlari tanpa ada niat tuk berhenti.

"Tuan Putri, saya perintahkan Anda untuk segera berhenti dan menghadap Raja!" suara kepala kesatria terdengar lantang. Pria itu memang diperintah langsung oleh Raja untuk menangkap sang putri yang kabur dan membawanya kembali ke istana.

"AKU TIDAK MAU!"

Sang putri akhirnya membalas, disertai kecaman amarah, ia melempar bola api darah ke arah gerombolan kesatria yang mengejarnya, tanpa peduli dengan fakta bahwa mereka hanya menjalankan perintah, bukan atas keinginan hati-hati mereka.

Namun sayang. Kepala kesatria bukan lawan yang mudah. Serangannya di patahkan dengan sempurna.

Segera saja ia membuat pola sihir, lalu berbalik menghadap mereka. Bibirnya bergerak cepat merapalkan mantra, dan terbentuklah bola api raksasa, diluncurkan langsung ke arah kerumunan kesatria.

"Merepotkan," geramnya, menatap sengit kepala kesatria yang sudah memasang kuda-kuda. Pedang terangkat, bersiap kembali menahan serangan.

Tapi apa pedulinya?

Tak perlu menjadi naif, memikirkan orang lain sementara diri sendiri tak diurusi. Tak perlu munafik, berkata bahwa dirimu baik saja-saja, nyatanya hati berteriak kesakitan. Jangan bertindak bagaikan pahlawan. Bila hidupmu saja sudah berantakan.

Selagi mereka sibuk menghadapi serangannya. Sang putri mengeluarkan sebuah gulungan dari kantung jubah yang ia kenakan.

Pemberian seseorang.

Ia tak tahu pasti apa isi gulungan itu. Yang ia tahu, orang itu berkata gulungan ini akan menolongnya jika ia berada dalam situasi genting.

Tali yang mengikat gulungan ia lepas, cahaya menyilaukan seketika memancar, menusuk penglihatan.

"Apa ini?" pikirnya, menyipitkan mata.

Belum sempat mencerna apa yang terjadi, tubuhnya tersedot-terhisap masuk ke dalam pusaran cahaya putih yang menyilaukan.

Saat membuka mata, dunianya sudah terbalik. Angin menggigit kulit, memukul wajahnya dengan kecepatan yang memabukkan.

Tubuhnya terasa ringan, melayang bebas di udara tanpa beban. Namun sensasi itu segera berganti menjadi teror ketika ia menyadari dirinya jatuh, terjun bebas menembus langit dengan kecepatan mematikan.

Netra kelamnya membelalak, menangkap pemandangan memukau: lautan gedung tinggi, atap-atap memantulkan cahaya lampu kota yang berkerlip bak permata.

"Tidak, ini bukan saatnya kagum," desisnya sambil menggelengkan kepala.

Ia mengangkat tangan, menorehkan pola sihir di udara. Ujung jarinya berpendar tipis, namun sekejap kemudian cahaya itu pecah, garis-garis sihir terburai bagai debu yang ditiup angin.

Kepanikan melanda. Napasnya memburu.

Ia mencoba lagi, mantra meluncur dari bibirnya cepat dan patah-patah. Namun hasilnya tetap sama. Tak ada respon. Tak ada kilatan magis. Tubuhnya seakan terputus dari kekuatan yang selama ini mengalir di nadinya.

"WHAT THE HELL!!" teriakkan frustasi lepas.

Ia memukul kepala sendiri, mencoba memaksa otaknya bekerja di tengah kepanikan.

MoonvielWhere stories live. Discover now